You are currently browsing the tag archive for the ‘menjalani kesulitan hidup’ tag.

Kalau kamu merasa bahwa hidup itu penuh kesulitan dan beban barangkali kita harus memikirkan ulang. Banyak kesulitan, sakit, kesengsaraan sebenarnya tergantung pada bagaimana kita memandang. Dari situlah barangkali kita akan belajar untuk menjadi ikhlas. Mungkin terlalu klise kalau dibilang di luar sana banyak orang yang lebih menderita dan mereka baik-baik saja, tapi memang demikian adanya.

Suatu pagi di salah satu radio disiarkan kuliah subuh dibawakan AA Gym. Saya lupa pagi itu membahas apa, sampai pada sesi interaktif, seorang ibu minta doa karena punya masalah keluarga yang klasik. Penelepon kedua agak kurang jelas, sehingga AA Gym dengan sabar harus mengulang-ulang pertanyaan. Ternyata penelepon adalah seseorang dari satu kampung kecil jauh dari kota. Kalau tidak salah namanya Endun. Usianya 30an, lumpuh sejak kecil, hanya bisa duduk dan tak bisa apa-apa bahkan untuk sekedar ke kamar mandi. Kakaknya juga lumpuh, bahkan hanya bisa berbaring. Keduanya tak pernah sekolah karena kondisi fisik dan juga biaya. Endun sudah 50 kali lebih mencoba menelepon dan baru pagi itu bisa masuk.

Ketika ditanya bagaimana menjalani hidup ia hanya bilang ya bagaimana lagi, memang kondisi seperti itu. Tidak ada nada keluhan atau merasa paling menderita di seluruh dunia. Yang lebih membuat saya tersentuh ketika AA Gym meminta bicara dengan bapaknya. Bapaknya ini adalah buruh bangunan serabutan. Istrinya sudah meninggal. Si bapak harus mengurus dua anaknya setiap hari, dari urusan makan sampai urusan bersih-bersih (kedua anaknya tak mampu untuk buang air tanpa bantuan orang lain). Setelah itu ia kerja. Siang ia pulang, mengurus makan siang, membersihkan anak-anaknya lagi untuk sholat Dhuhur. Setelah itu melanjutkan kerja. Terus begitu setiap hari.

Dari suaranya bapak ini tercermin kesederhanaan luarbiasa. Ia tak bisa Bahasa Indonesia dan berbicara Bahasa Sunda. Betapa kehidupan sehari-hari yang berat dijalaninya puluhan tahun. Kedua anak lelaki yang mestinya menjadi tumpuan ketika masa tua ternyata malah sebaliknya, sampai masa tuanya ia mengurus kedua anaknya bak bayi saja. Apalagi setelah istrinya meninggal. Tapi ia menjalaninya dengan biasa saja. Sedih tentu saja. Tapi dari intonasi suara di telepon saja sungguh terpancar sebuah keikhlasan, tak ada penyesalan akan hidupnya atau menghiba untuk dikasihani. Hidup baginya adalah menjalani apa yang ada dihadapannya dengan ikhlas, biasa saja. Bapak ini mungkin tak pernah mengenal motivator, membaca buku penyemangat, belajar ilmu psikologi atau mengaji dari ustad terkenal, tapi ia ternyata mampu memaknai dan menjalani hidupnya dengan keikhlasan.

Kita yang banyak membaca buku atau mendengar pengajian tentu sudah sering dan hafal dengan bahasan tentang ikhlas, tapi pada tataran praktik mungkin kita kalah jauh dengan seorang bapak di pelosok desa di Sunda ini. Semoga Allah merahmati si bapak dan keluarganya.

Advertisements