Ibadah, menurut makna leksikalnya adalah tunduk merendahkan diri, yakni tunduk dan patuh terhadap perintah Allah. Dalam kehidupan praktis sehari hari ibadah kemudian lebih dimaknai sempit sebagai seangkaian ritual. Meskipun tidak sepenuhnya salah, ibadah ritual sebenarnya hanya sebagian dari ibadah yang lebih luas. Kita seringkali memaknai ibadah hanya sekedar shalat, zakat, puasa, haji dan beberapa ibadah lain yang ada dalam fiqih. Padahal dalam ibadah ritual (mahdhah) pun sebenarnya terkandung banyak pesan untuk ibadah yang sifatnya sosial.

Ibadah zakat misalnya, tak dipungkiri merupakan ibadah yang secara langsung memiliki peranan dalam membangun masyarakat serta menumbuhkan kepedulian kepada kaum tak mampu. Jika dikelola dengan manajemen yang baik ibadah zakat ini menjadi potensi besar dalam pengentasan kemiskinan. Dalam ibadah shalat-pun yang secara ritual sepertinya hanya berhubungan antara manusia dan pencipta-Nya, sesungguhnya banyak pesan-pesan sosialnya. Keutamaan shalat berjamaah misalnya, secara tak langsung menekankan perlunya persatuan, kekompakan, kepemimpinan dan lain-lain. Bahkan kalau kita merenungkan lebih lanjut kita memulai shalat dengan takbir mengagungkan Allah akan tetapi ditutup dengan doa keselamatan untuk kanan kiri dan sesama manusia. Dalam Surat Al Maun juga disebutkan keterkaitan shalat dengan kepedulian sesama, bahkan disebutkan orang yang shalat-pun bisa celaka karena lalai dalam shalat.

Kekurang-pahaman tentang pentingnya ibadah sosial ini kadang membuat kita kurang tepat memberi prioritas. Misalnya ada orang yang berulangkali naik haji, sementara tetangga kanan kirinya banyak yang hidup susah atau tak bisa sekolah. Haji dianggap lebih utama karena perintahnya jelas eksplisit dalam Quran dan Hadits sedangkan memberi beasiswa pendidikan tak tercantum sama sekali.

Bagi seorang muslim ibadah tak hanya sekedar hubungan dengan Allah (hablum minallah) tapi juga hubungan dengan sesama (hablum minannas). Kesalehan tak hanya saleh dalam ibadah ritual, tapi juga harus saleh secara sosial meskipun perintah kesalehan sosial ini seringkali tidak tersurat secara eksplisit dalam ajaran agama.

Janganlah tertipu dengan banyaknya amal ibadah yang telah kamu lakukan, karena sesungguhnya kamu tidak mengetahui apakah Allah menerima amalan kamu atau tidak” (Hasan Al Bashri).

Advertisements

Angka 500 mungkin bukan angka istimewa, bukan angka hoki atau angka keramat. Ya, hanya kebetulan saja. Tulisan ini, sesaat setelah tombol Publish berwarna biru, adalah tulisan yang ke 500 yang terbit di blog ini. Banyak? Sedikit? Entahlah. Sejak pertama kali menulis di blog ini saya tak pernah menghitungnya. Huruf demi huruf mengalir begitu saja. Kata demi kata bertebaran begitu saja. Waktu-waktu terlalui begitu saja.

Ada salah satu yang membuat saya tergerak untuk menulis. Kata Ali, ilmu itu bak binatang buruan yang kita tangkap, dan tulisan adalah tali pengikatnya. Saya termasuk orang yang cukup pelupa. Saya seringkali menuliskan apa yang saya lihat, dengar, rasakan, pikirkan, supaya itu semua tak lari begitu saja. Selain itu apa yang saya tulis juga dapat dibaca orang lain sehingga barangkali akan bermanfaat juga.

Saya sejak kecil senang menulis, meski tak terpupuk karena tidak tahu bagaimana memupuknya. Seperti pohon akhirnya dia hanya tumbuh sendiri, seadanya. Hasrat menulis ini mungkin karena saya juga senang membaca. Sayangnya masa kecil saya juga tak cukup memiliki bacaan yang cukup bagi saya. Ini membuat saya selalu ingin mengajarkan ke banyak anak-anak sekarang tentang dunia kepenulisan dengan segala manfaat dan sukadukanya. Dan ini pernah saya lakukan di kampung, meski kini berhenti. Dengan sedikit banyak bergelut di dunia maya saya tahu betul bahwa kemampuan menulis (dalam bahasa lebih luas adalah kemampuan berekspresi) adalah keahlian kunci yang sangat fundamental. Sayang di pendidikan sekarang tak banyak diperhatikan. Suatu ketika saya ingin membangun sebuah sekolah kepenulisan yang diintegrasikan dengan profesionalisme di dunia teknologi global seperti internet hehehe… Jujur saja, di dunia dengan persaingan keras seperti ini satu-satunya senjata yang dipunyai anak-anak kampung sederhana adalah pena. Dan pena yang tehubung ke dunia global adalah senjata yang keampuhannya menjadi berlipat-lipat seperti bom nuklir yang efeknya berantai-rantai..

Saya tak terlalu risau apakah tulisan-tulisan saya akan banyak dibaca atau dikomentari orang. Tentu saja saya senang jika ada feedback dari pembaca karena itu adalah salah satu “sumber energi” untuk menulis lagi, tapi itu bukan utama. Apalagi saya termasuk blogger penyendiri yang jarang berkunjung atau blogwalking. Hanya berkomentar jika perlu saja, itupun sangat jarang. Barangkali karena saya juga tak punya banyak waktu untuk itu. Jumlah kunjungan juga tak terlalu membuat risau, apakah sedikit atau banyak, naik atau turun. Biarkan saja begitu adanya. Tak peduli apakah tulisan-tulisan itu bisa menjadi uang atau hanya menjadi sampah digital, seperti naskah skripsi yang dibuat begadang sekian bulan dan tahun dan berakhir menjadi pembungkus nasi kucing di angkringan. Tapi setidaknya masih ada manfaatnya bukan?

Saya tak apa jika yang membaca tulisan saya segelintir saja, tapi harapan saya tulisan-tulisan ini dapat bertahan sampai bertahun ke depan, 10, 25, 50, 100 tahun atau entah sampai generasi kapan nanti, atau sampai teknologi internet tergusur oleh revolusi teknologi lain atau malah hilang karena katastropi atau invasi alien (lebay banget ya:D)

Dan lagi-lagi tulisan ke 500 ini bisa dianggap banyak atau sedikit, ada manfaatnya atau hanya kericau yang tak berujung. Dan sebelum kericau saya melebar kemana-mana dan kopi susu di meja kerja sudah hampir habis serta mempertimbangkan listrik yang dihimbau bapak presiden untuk dihemat maka saya segera saja klik tombol Publish dan menghabiskan sisa kopi susu.

Mei barangkali memiliki tema besar yaitu perubahan. Bukan karena saya lahir di bulan ini sehingga menjadi momentum untuk melakukan perubahan 🙂 Mei belasan tahun lalu tak lepas dari perubahan berbangsa dan bernegara. Masih lekat di ingatan saya ketika jaman begitu otoriter, sehingga bahkan untuk menyebut sebuah nama saja harus berbisik-bisik, takut ada intel yang mendengar. Masih terbayang ketakutan dan dengkul gemetaran ketika tengah malam melewati jalanan lebar yang menjadi lorong sempit hanya setengah meter karena kiri kanan penuh dengan tentara, dengan moncong-moncong senapannya tepat dihadapan wajah atau ketika meringkuk sambil bertakbir ketakutan di imaman masjid karena polisi merangsek sampai masuk masjid menangkapi pendemo. Masih terngiang kawan-kawan berorasi di titik yang dikenal dengan sebutan Tangga Demokrasi, sambil bernyanyi lagu Darah Juang

Disini,
negeri kami.
Tempat padi terhampar luas,
samuderanya kaya raya.
Negeri kami subur, Tuan

Di negeri permai ini
berjuta rakyat bersimbah luka.
Anak buruh tak sekolah,
pemuda desa tak kerja.

Mereka dirampas haknya
tergusur dan lapar.
Bunda relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat.
Padamu kami berjanji
tuk membebaskan rakyat

Ya, tapi itu dulu, masa muda ketika kita yang melihat ketidakberesan akhirnya bersuara, protes, menuntut, marah.. Dan kini apa yang dulu diimpikan pun ternyata masih jauh panggang dari api. Kini, di satu sisi jauh lebih baik dari dulu, tapi di sisi lain jauh lebih buruk. Kini, saya dan mungkin Anda yang dulu ikut turun ke jalan bukan lagi mahasiswa. Kini saya sudah bekerja dan memiliki tanggungjawab yang harus saya emban. Negara ini memang masih banyak salah urus. Masih banyak hal yang harus dibenahi. Kini tentu bukan saatnya kita hanya bisa protes, mengumpat, berkoar-koar saja. Kita kini memiliki tanggung jawab untuk menjadi bagian dari solusi diantara ruwetnya benang kusut persoalan ini. Dan solusi ini harus kita perjuangkan sedini mungkin, meski setapak demi setapak, dengan upaya dan kemampuan kita masing masing. Meski seidh melihat kondisi sekarang ini kita tentu kemudian tak harus menyerah. Masih banyak orang baik di negeri ini dan masih banyak orang yang perduli dengan masa depan bangsa ini, entah kapan dan bagaimana saya yakin suatu ketika semuanya akan jauh lebih baik lagi.

Saya mulai merantau ketika menapak jenjang SMA. Waktu itu masih lugu sekali, anak kampung yang gerogi dengan gemerlapnya kota, takut, khawatir, galau.. Saya awalnya ditipkan dengan seorang teman saudara saya karena kosnya dekat sekolah tapi sudah penuh. Saya tidak betah dan merasa asing, mengingat tak ada orang yang dikenal disitu. Akhirnya saya ikut dengan kakak saya meski kosnya jauh dari sekolah. Koskosan kakak saya ini sebenarnya rumah lama yang lalu dijadikan kos. Bangunannya agak tua, berlantai plester, agak gelap dan serem (beberapa teman katanya pernah melihat penampakan :)). Saya paling kecil sendiri, hampir semua penghuninya mahasiswa dan aktifis. Saya tinggal kira-kira setahun dan pindah ikut kos saudara sepupu karena semua penghuni kos saya itu digusur dengan alasan mau direhab.

Kos baru saya tak kalah sederhana, rumah yang lebih tua. Sebagian dindingnya tembok, separuhnya dinding kayu sehingga jika kamar sebelah sedang mengobrol maka akan terdengar jelas. Kami juga biasa ngobrol dengan teman kamar sebelah dari kamar masing-masing :)). Meski sangat sederhana penghuni nya tak main-main. Sebelah kamar saya kuliah S2 dan konon terpintar di kelasnya dan barangkali saja bisa jadi cendekiawan terkemuka jika saja penyakit paru-paru basah tak merenggut jiwanya karena kebanyakan begadang malam untuk belajar. Kami tak punya tape atau apalagi TV dan hiburannya adalah radio-tape kamar sebelah yang ditinggali guru nyentrik yang suara dari tapenya disalurkan kabel ke kamar kami dan dipasangi salon. Praktis kami hanya bisa mendengar lagu atau apappun yang disetel kawan di sebelah. Tempat tidur yang dipakai hanya kecil, cukup satu orang padahal kalau malam bisa ada 3 sampai 4 orang yang menginap di kamar. Jadi biasanya yang paling cepat tidur dia yang dapat tempat empuk di kasur busa, yang lain tidur di karpet dengan lantai plester yang sudah berlobang-lobang dan sesekali dilewati tikus.

Tahun berikutnya saya ikut lagi dengan kakak saya, kali ini mengontrak dengan teman-temannya sesama korban penggusuran. Rumah agak tua juga, dengan kamar yang disekat-sekat dengan tripleks yang sudah bolong-bolong. Bahkan kunci kamar hampir tak berfungsi lagi karena meski pintu dikunci sekalipun kita bisa menerobos melalui tripleks yang pakunya sudah copot. Hampir sama dengan kos lama, kos yang sekarang juga rebutan tempat tidur. Yang paling cepat tidur ya dapat kasur. Soal makan minum lebih parah, karena makanan atau minuman bisa ludes dalam waktu sesaat. Dulu bahkan punya satu gelas ekstra besar untuk membuat teh atau kopi yang diminum oleh semua penghuni kos, bersama-sama dengan gelas yang sama 😀

Kira-kira setahun kemudian saya pindah dan balik lagi bersama dengan sepupu saya. Kondisi kamar masih sama dengan sebelumnya hanya saja penghuninya lebih banyak. Ada tambahan beberapa orang teman dan adik, dalam kamar yang sama 🙂  Agak lama di kos ini sampai saya lulus SMA dan kuliah, akhirnya saya pindah ke kos baru dekat kampus. Kondisi tak jauh beda, lantai yang plesteran dan dinding yang separonya tripleks. Cuman di kos baru ini saya mulai mendapat privasi, bisa tidur sendirian di kamar. Saya juga membeli TV kuno hitamputih sehingga bisa menikmati siaran berita atau film di kamar. Saya cukup lama tinggal disini sampai lulus kuliah dan bekerja. Akhirnya saya mendapat beasiswa kuliah di Bandung dan mulai merantau di kota kembang.

Di Bandung, bersama beberapa teman dari Jogja, kami mengontrak rumah. Ini mungkin tempat tinggal terbaik selama saya sekian tahun merantau. Rumah tembok yang relatif baru dan lantai keramik. Sialnya kamar yang tersedia kurang satu sehingga dibuat satu kamar yang disekat tripleks. Ketika diundi saya kebagian undian pertama yang menempati kamar tripleks itu beberapa bulan sebelum gantian mendapat kamar reguler 😀

Ketika teman teman sudah mulai lulus, saya tertinggal sendirian. Beberapa bulan saya lontang lantung sendirian menunggui dua rumah ditemani kekhawatiran kalau kalau tidak lulus, karena ketika yang lain bahkan sudah selesai saya masih belum pasti dengan judul tugas akhir saya. Saya akhirnya pindah kos ke daerah Cisitu, diajak teman sekelas saya. Alhamdulillah di sana agak ramai sehingga tidak terlalu suntuk memikirkan kuliah. Apalagi ada teman yang nasibnya sama 🙂 Kos baru ini seperti kos terdahulu saya, kamarnya bersekat tripleks dan saya di lantai atas yang lantainya kayu. Disini selain teman sekelas, saya juga mengenal beberapa teman baru yang tinggal disana, om Taufik di kamar sebelah yang meski sudah punya perusahaan sendiri dia masih senang ngekos. Ada Imam, di kamar bawah, anak kampung yang bisa tembus ITB bahkan ketika wisuda, barengan dengan saya, dia dinobatkan menjadi mahasiswa terbaik se-ITB waktu itu dan mewakili wisudawan tampil di mimbar.

Kembali ke Jogja seperti kembali lagi ke masa lalu, saya kos atau kontrak dengan kondisi tak jauh dari rumah berlantai plester sampai kini ketika berkeluarga akhirnya baru mengontrak di rumah agak bagus dengan lantai keramik yang paling bagus yang pernah saya tinggali.

Dari sekian pengalaman itu saya belajar bahwa papan tinggal itu yang jauh lebih bermakna adalah para penghuninya, bukan fisik bangunannya. Saya sendiri dengan berbagai bentuk kondisi tempat tinggal, dari yang paling sederhana sampai paling bagus tak ada perbedaan yang mendasar. Saya  terbiasa tidur di kasur busa empuk atau di lantai plester dengan beralas karpet plastik (meski sekarang harus mulai memperhatikan badan yang mulai menua sehingga mikir juga kalo tidur di lantai hehe ). Ini barangkali juga karena saya sejak kecil juga terbiasa tinggal di rumah orangtua saya yang hanya dari kayu dan berlantai batu, sampai sekarang.  Namun, dari pengalaman selama ini juga malah ketika tinggal di tempat-tempat sederhana justru menemukan teman-teman yang unik dan paling berkesan.

Hidup tentu tak selalu bertabur kemewahan, justru ketika kita bisa berbahagia dari kesederhanaan itu akan menjadikan kita menjadi orang paling kaya.

Dahulu, di kampung saya ada salah satu tradisi yang sekarang sudah tak ada, yaitu ngenger, yaitu tradisi seorang anak, biasanya dari kalangan kurang mampu, untuk ikut dengan sebuah keluarga. Banyak anak-anak seusia SMP/SMA dari desa lain yang ikut dengan keluarga-keluarga di kampung saya. Mereka ini bukan lalu menjadi seperti pembantu, karena tidak dibayar dan tidak pula diharuskan untuk bekerja. Biasanya kesehariannya membantu apa yang bisa dibantu. Untuk makan sehari-hari sama dengan keluarga lain, tidak dibeda-bedakan. Untuk tidur juga diberi kamar atau bareng dengan anak kandung dari keluarga yg diikuti. Untuk sekolah dan keperluan pendidikan juga dibiayai. Meski tak ada hubungan darah sama sekali ikatan batin dari anak-anak ini menjadi seperti keluarga sendiri, bahkan sampai setelah mereka dewasa, merantau ke kota dan punya keluarga sendiri.

Ketika era ngenger di kampung kami sudah mulai menghilang, ada tradisi lain yang mirip. Di rumah orang tua saya, kala itu, disediakan ruangan yang cukup besar, hampir ukuran separuh rumah. Jadi rumah tainggal kami disekat menjadi dua bagaian besar, satu  bagian untuk keluarga kami dan ruangan lain diperuntukkan sebagai semacam asrama/pondok bagi siswa Madrasah Aliyah yang ada di kampung saya, tak ada biaya sepeserpun. Ada banyak yang tinggal disitu, dan hampir semua adalah anak-anak kalangan menengah bawah dari desa sekitar. Beberapa tahun mereka tinggal, menjadi seperti keluarga juga. Mereka memasak sendiri tapi kadang juga makan dari apa yang keluarga kami masak. Sampai akhirnya, beberapa tahun kemudian, sekolah Madrasah itu tutup karena tak mendapat murid, salah satu yang saya sesalkan karena saya masih terlalu kecil untuk bisa membantu sekolah itu untuk eksis. Kini, para “alumni” itu sudah bertebaran, merantau, berkeluarga, berprofesi dan menjalani hidup masing-masing.

Dari mereka-mereka yang pernah tinggal di rumah kami itu masih banyak yang sesekali datang. Sekedar bernostalgia atau bersilaturahim, beberapa mengajak anak istri. Ada yang jadi PNS, ada yang punya bengkel sendiri, ada yang masih serabutan, yang sukses ataupun yang masih belum mapan, ada kisah bahagia ada juga kisah pilu. Semua diterima baik oleh bapak dan ibu saya, semua disebut sebagai “anak sendiri” tak peduli seberapa sukses atau gagalnya mereka. Banyak cerita-cerita masa lalu yang lalu mengalir, ada yang dahulu ikut membantu ke sawah untuk panen atau menanam rombongan dan akhirnya telat sekolah berombongan, ada yang kehilangan uang sampai menangis tersedu (mereka jarang pegang uang 😦 ), ada yang baru tahu dan merasakan buah korma ketika pas buka puasa mereka diberi kurma satu-satu, dan banyak lagi. Dari beberapa tradisi itu kami merasa begitu “kaya”, bukan artian harta, tapi kaya dalam sebuah persaudaraan. Dan satu hal yang saya kagumi dari orangtua saya adalah mereka begitu pintar membangun dan menjaganya. Semua itu juga karena adanya satu ruang di rumah kami, bukan saja secara fisik, tapi juga membukakan ruang hati untuk berbagi dengan orang lain.

Dan saya, ketika berangan-angan membangun sebuah rumah, selalu saja kepikiran untuk menyediakan ruang atau kamar khusus untuk nantinya digunakan mereka yang dari kampung (baik dari kampung halaman saya atau kampung lain) yang ingin bersekolah/kuliah di Jogja atau mereka yang mau mendaftar SNMPTN dan tidak punya tempat berteduh. Ada semacam kewajiban untuk menyediakan “ruang” seperti yang disediakan oleh orangtua saya itu.Entah nanti akan terwujud atau tidak wallahu a’lam.

Bagi sebuah bangunan, fondasi adalah komponen yang sangat vital. Kekuatan fondasi melandasi kekuatan bangunan sehingga bisa tahan terhadap goncangan dan krisis. Tidak hanya bangunan dalam arti fisik tapi juga tentang hidup.
Hari-hari ini kami cukup disibukkan dengan langkah awal membangun rumah setelah sekian waktu dapat membeli tanah, dari hasil menabung dan juga pinjaman. Awalnya tak terpikir akan memulai kapan dan bagaimana mengingat sisa tabungan mulai berkurang dan tak mungkin lagi mengajukan pinjaman baru. Tiba-tiba dapat kabar dari rumah kalau bapak dan ibu akan datang dan memulai untuk membantu membangun fondasi.
Keluarga saya bukanlah keluarga yang berlebih secara materi sehingga saya pun tak pernah meminta bantuan finansial. Namun, mereka memiliki ikatan yang erat sehingga apa yang menjadi kebutuhan kami juga menjadi kebutuhan mereka, apa kesulitan kami juga akan dicarikan solusinya. Sebenarnya saya berkeinginan membangun rumah sendiri, meski entah kapan. Soal uang dan tabungan saya pikir bisa dicari, meski tak dapat semudah dan secepat membalik telapak tangan. Membangun rumah sendiri mungkin akan jadi kebanggaan, semacam menjadi sebuah monumen kemandirian. Apalagi hampir semua orang yang pernah muda akan merasakan semacam “kesombongan” bahwa kita dapat hidup mandiri tanpa bantuan orang lain, termasuk orangtua dan keluarga. Bahwa tanpa mereka pun kita bisa mencari makan, mencari penghasilan dan membuat rumah. Tapi itu dulu. Kini seiring waktu saya justru mulai merasakan dan menilai dengan agak beda. Meski dalam hati ada keyakinan bahwa nantinya kami dapat mewujudkan membangun rumah dengan usaha sendiri, entah kapan, tapi keinginan bapak dan ibu dan keluarga untuk membantu saya nilai lain. Bukannya saya menganggap itu sebagai semacam intervensi, keinginan memanjakan, atau mau turut campur dalam kehidupan saya. Sama sekali tidak.

 

Terkait dengan “kesombongan” untuk mandiri, ada semacam perasaan harus mengalah bahwa bapak dan ibu tentu juga memiliki keinginan untuk juga membangun “monumen” agar nantinya kami akan mengenang sampai kapanpun. Di titik ini “monumen kemandirian” saya harus rela mengalah untuk “monumen cinta” dari orang tua. Egoisme saya untuk menjadi “mandiri” harus dikesampingkan.
Dan ketika fondasi ini terbentuk, meski baru fondasi, ada banyak sekali yang ikut memikirkan dan merasakan prosesnya. Kami, terutama istri saya, merancang desain dibantu kawan-kawan. Kami juga menyiapkan material yang sebagian harganya sudah meroket. Sebagaian material lain dicarikan oleh bapak saya sekaligus mengkordinasi tukang dari kampung yang sebagian besar adalah orang-orang dekat juga. Kayu untuk kusen dan atap dicarikan dari tegalan nenek saya di kampung oleh saudara-saudara di rumah, digarap oleh mertua kakak saya yang kebetulan profesinya juga tukang kayu. Ibu saya menyiapkan perlengkapan makan dan tiap hari memasak lauk dan sayur sedang nasi dimasak sendiri oleh para tukang. Biaya untuk tukang saya ambilkan dari uang yang berputar-putar, dari awalnya uang yang dipinjam paman saya yang butuh biaya, saya pinjamkan melalui bapak , dan beberapa waktu lalu dikembalikan ke saya, belum sempat ditabung langsung dipakai membayar tukang. Sebagian lagi adalah gaji bulanan dari Google yang baru sempat saya cairkan..
Banyak hal membuat saya harus banyak bersyukur. Saya katakan kepada istri saya bahwa sejelek-jeleknya nanti rumah kami kalau nanti jadi, saya akan menganggapnya sebagai yang paling indah. Karena sesungguhnya keindahan itu tidak dibentuk dari desain fisik yang mewah tapi jauh lebih indah ketika itu semua dibangun dengan fondasi cinta, kehangatan dan kasih sayang keluarga. Sesuatu yang saya sadari mungkin tak dimiliki banyak orang.

Apa yang terjadi waktu jumatan nampaknya hampir seragam, kalau tidak mengantuk ya pikiran melayang kemana mana.Ini juga berlaku bagi saya. Saya tak hendak menyalahkan siapapun, apalagi khatib. Ini sudah menjadi sebuah kebiasaan kita semua, yang tentu saja kurang baik.

Sholat jumat sebenarnya seperti sebuah analog ketika batre jiwa kita mulai drop setelah seminggu dipakai habis habisan dan perlu dicharge lagi, sehingga kita lebih semangat lagi dalam beribadah maupun menjalani hidup yang makin sulit ini. Harusnya usai jumatan adalah saat ketika energi kita full dan berkobar kobar siap berjuang, berperang dan mengorbankan apa saja, termasuk nyawa. Tentu saja ‘perang’ kali ini tak harus menghunus pedang atau dengan bom, karena musuh dan senjatanya juga lain. Boleh jadi perang kita melawan kebodohan sehingga mengobarkan semangat untuk mendidik. Barangkali perang kita adalah perang melawan ide negatif sehingga mendorong kita lebih giat menulis ide positif.

Ya, jumatan sebetulnya memiliki potensi yang strategis. Sayang potensi itu masih menjadi potensi terpendam.

Kadang satu tindakan kecil dapat berimbas jauh lebih besar dan lebih luas serta mempengaruhi banyak orang, bahkan seringkali tanpa disadari. Tindakan itu bukan hanya dapat dilakukan pejabat pengambil keputusan saja, dan itu hal yang wajar karena dia memang sebagai pemimpin, tapi bisa jadi tindakan serupa dilakukan oleh satu orang iseng dan tak bertanggungjawab. Ambil contoh kasus pencurian alat pendeteksi kegunungapian di Tangkuban Perahu yang bahkan sampai membuat petugas penjaga gunung api meninggal karena mengejar pencuri itu. Sungguh prihatin masih ada saja orang yang tega merusak dan mencuri alat sepenting itu, yang bisa jadi mempengaruhi ke banyak orang. banyak kasus serupa kita jumpai di tempat lain, misalnya pendeteksi tsunami yang belum lama dipasang ternyata sudah raib. Entah apa yang ada di pikiran orang yang mencuri itu.
Dulu, saat Merapi meletus juga ada saja orang iseng yang melakukan jamming jalur komunikasi sehingga frekuensi tak dapat digunakan. Tak tahu apa tujuannya. Padahal jalur komunikasi ini adalah tulangpunggung penyebaran informasi yang berurusan dengan hidup-mati banyak orang. Kalau yang mencuri alat deteksi gunung api atau tsunami masih bisa diperkirakan alatnya untuk dijual, barangkali si pencuri memang tak punya uang, tapi pelaku jamming jelas tak punya motif ekonomi. Barangkali memang orang itu tak punya motif dan lebih karena ‘sakit.’
Di luar negri ada juga kisah keisengan yang mengakibatkan kerusakan tak bernilai. Salah seorang gadis iseng ceroboh bermain api dan dalam beberapa jam sebuah pohon yang konon terbesar di dunia dan berumur ribuan tahun, dikenal dengan nama Senator, hangus dalam sesaat.
Sekali lagi motif tindakan orang orang ini mungkin macam-macam dari iseng, ceroboh, kebutuhan perut, atau karena sakit. Kalau dalam kriteria manusia menurut Ghazali manusia itu ada yang wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram. Entah mereka itu masuk kriteria mana.
Jadi hati-hati dalam semua tindakan kita. Segala sesuatu mungkin tak bisa bermula dari hal kecil, tapi hal kecil bisa jadi dapat memulai hal-hal besar, entah baik atau buruk.

Saya pulang sudah maghrib dan itu hampir setiap hari. Seringkali terbersit rasa bersalah kepada anak karena waktu berinteraksi menjadi sangat terbatas. Beruntung anak saya biasa tidur agak malam sehingga masih cukup waktu bermain sebentar atau menemani nonton tivi. Ini biasanya lalu diikuti polah tingkah macam-macam ketika mulai bosan. Permintaannya lalu mulai bermacam-macam dan jika tidak dituruti maka mulai berulah dari melempar barang, membanting atau menginjak-injak (ini termasuk barang yang penting seperti laptop). Hampir tiap malam kami harus berjuang menghadapi si kecil ini. ketika semakin malam biasanya dia tidur dengan cepat jika memang sudah maunya. Dan sekejap suasana mendadak senyap, menyisakan rumah berantakan.

Dan kali ini ketika si kecil sudah lelap dan saya pun sudah capek dan mengantuk terdengar mobil di sebelah baru pulang. Disusul terdengar suara Si ibu mengucap salam kepada keluarganya. Saya mendadak terenyuh. Keluarga, utamanya si kecil di rumah tentu sangat menunggu. Suaminya terkena stroke dan cukup parah. Anak-anaknya masih kecil, paling besar SMA. Betapa beban si ibu ini menjadi tulangpunggung keluarga, baik dari sisi ekonomi maupun sebagai nahkoda pengendali rumah tangga. Semoga Allah memberi kekuatan kepada para ibu-ibu perkasa ini.
Saya lalu menengok sebelah, anak dan istri sudah lelap, terbersit pikiran betapa berharganya karuniaNya, karena meski kami bukan orang berlebih dalam hal harta, keluarga yang semua sehat tak kurang suatu apa jauh lebih berharga dari harta benda. Dan itu menjadikan hati menjadi begitu kaya.

Keyakinan diri sangat berpengaruh besar bagi kesuksesan. Bagaimana mau sukses jika kita sendiri tidak percaya diri dan ragu pada yang yang kita lakukan.
Jika Anda juga mengalami itu sesungguhnya itu wajar saja, yang menjadi penentu adalah bagaimana langkah kita jika tingkat kepercayaan diri itu ternyata rendah.
Seringkali ketika membandingkan diri dengan orang lain yang menurut kita lebih sukses, menganggapnya lebih segalanya, semua tentang keberhasilannya itu, dari kita, dan kita lalu membayangkan kegagalan kita di masa lalu atau kelemahan yang kita punya. Ini semakin membuat kita berfikir negatif dan selalu menyalahkan diri sendiri. Kita dengan tak sadar tengah mencari pembenaran untuk tidak percaya diri.
Lalu bagaimana sebaiknya? Untuk membangun mental attitude dan kepercayaan diri alangkah baiknya kita justru fokus secara positif ke diri sendiri. Ingatlah semua keberhasilan-keberhasilan yang pernah anda raih, bahkan di masa-masa sulit dan dulu rasanya kita hampir seperti mustahil untuk kita lalui. Lihatlah bahwa Anda punya kekuatan tersendiri, punya keunikan yang tidak dimiliki siapapun. Berpikirlah positif bahwa setiap langkah yang akan anda tempuh pasti akan membuahkan hasil yang menjadikan Anda selangkah lebih maju.
Setiap orang pasti akan pernah menemui saat ketika keyakinan akan diri sampai pada titik terendah, termasuk saya. Dan ketika saya merasa sudah terpuruk itu biasanya saya akan berkata dengan diri sendiri, “Hei, Kamu sudah melakukan banyak hal yang hebat, sudah berhasil melalui banyak masa-masa yang lebih sulit. Jadi tak ada alasan untuk menyerah atau berpikir bahwa Kamu tak akan mampu melakukan lebih baik lagi.”


Pak Walikota Whoville, Ned, terperangah memandang ke angkasa. Suara yang tadinya dikira main-main itu ternyata memang benar. Suara yang mengaku sebagai seekor gajah bernama Horton yang berbicara melalui cerobong. Horton berkata bahwa dunia Whoville yang ditempati Ned dan warganya itu tak lebih dari sekedar setitik debu yang menempel di sebuah bunga dan kini dipegang oleh Horton. Ini menjawab pertanyaan Ned sebelumnya dimana kondisi alam di Whoville berubah drastis.
Ini adalah salah satu adegan di Film Horton Hears The Who. Meski hanya film kartun ternyata film ini sarat dengan filosofi. Ned dan Horton, keduanya sama-sama dicemooh warganya karena menyampaikan sesuatu yang menurut nalar umum adalah mustahil dan gila. Ned dicemooh ketika mengatakan kepada warganya kalau dunia yang mereka tempati hanyalah setitik debu dan kini debu itu sedang dalam masalah besar karena sedang dalam posisi tidak aman dan bisa musnah kapan saja.
Di sisi lain, Horton dianggap gila oleh teman-temannya karena ia mempercayai bahwa ada kehidupan dalam sebuah debu. Dia dipaksa untuk percaya bahwa debu itu hanyalah debu. “Apa yang tidak dapat kamu lihat, dengar dan rasakan maka itu tidak ada,” Kata Kangaroo, tokoh antagonis di film ini. Namun Horton tetap pada pendirian dan keyakinannya untuk menyelamatkan debu dan segenap penghuninya. “Manusia tetaplah manusia, sekecil apapun dia,” kata Horton. Maka Horton pun menghadapi seluruh penghuni hutan Nool karena dianggap meracuni pikiran anak-anak. Tapi dengan sepenuh hati dan mempertaruhkan nyawa Horton tetap berusaha menyelamatkan Whoville.
Film ini sesungguhnya ingin menyampaikan pesan universal tentang penghargaaan terhadap sesama seperti tampak pada kepahlawanan yang unik dari gajah lugu, Horton dan juga ingin menyampaikan pesan bahwa apa yang kita ketahui sejauh akal kita tanpa kita sadari sesungguhnya sangat terbatas. Kita mungkin tak menyangka bahwa banyak hal yang diluar kemampuan kita yang tidak ketahui, mungkin dunia yang sangat kecil seperti Whoville atau seperti yang dikatakan Horton kepada Kangaroo,”Bagaimana jika dunia yang kita tinggali ini sebenarnya hanyalah setitik debu dan ketika ditemukan seseorang yang sangat besar dan berkata pada temannya bahwa di debu itu ada kehidupan, dan temannya itu pasti menertawakannya.” Apa yang tidak kita lihat, dengar dan rasakan tidak mengindikasikan bahwa itu tidak ada, itu lebih karena kita memang tidak atau belum mengetahuinya. Dan ketika di ranah itu maka hanya keyakinan-lah yang dapat menjangkaunya. Kita tak pernah melihat, mendengar dan merasakan Tuhan secaar fisik, tapi kita yakin keberadaanNya. Keyakinan yang tentu saja tak seharusnya mudah goyah karena cemoohan atau bahkan ancaman.
Film yang diadaptasi dari novel Dr. Seuss ini menjadi salah satu film yang sayang dilewatkan. Dan, pertanyaan saya, seperti pertanyaan Horton, bagaimana jika bumi yang kita tinggali ini sesungguhnya adalah hanya setitik debu, mengapung rapuh di angkasa raya.

Setiap kali mendengar atau mengunjungi teman atau saudara yang mendapat karunia berupa kelahiran maka selalu saya merasakan sebuah spirit dan harapan terpancar. Seperti sebuah fajar menyeruak memecah malam. Setiap kelahiran adalah sebuah optimisme baru saat seorang anak manusia akan menoreh sebuah sejarah bagi dunia, sekecil apapun sesederhana apapun itu. Setiap kali kelahiran baru adalah harapan dan optimisme akan adanya satu anak manusia yang akan memperbaiki dunia yang makin carut marut ini meski sekecil apapun perannya.
Ketika Anda menyadari bahwa Andalah yang suatu ketika adalah anak yang baru lahir itu juga. Anda adalah salah satu anak manusia yang spesial, tak ada duanya di jagat raya. Jika Anda suatu ketika adalah ayah atau ibu dari anak manusia yang baru lahir itu sudah selayaknya Anda mensyukuri anugerah yang melebiihi apapun segunung emas sekalipun. Syukur yang diiringi sebuah tanggung jawab untuk memastikan si anak menjadi manusia spesial yang bakal mewarnai jalan sejarah, memastikan sang fajar untuk merekah menyinari dunia.

Ada semacam tradisi di keluarga saya jika memberi nama anak laki-laki maka kebanyakan dinamai Muhammad pada nama depannya. Bagi orang tua tentu bukan tanpa maksud atau hanya karena ikut-ikutan, apalagi nama Muhammad konon adalah rekor nama yang paling banyak digunakan diseluruh dunia.

Nama adalah doa, jadi pemberian nama Muhammad kepada seorang anak tentunya tersimpan doa agar anak dapat menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan yang menjadi role-model nya, agar anak dapat meniru akhlak dan perilakunya.
Namun belakangan kita juga cukup tersentak, banyak tokoh dengan nama yang bagus, bahkan salah satunya ada juga nama Muhammad gencar dibicarakan media atas perilakunya. Tentu hal ini menjadi keprihatinan kita semua bahwa dengan ternyata ada orang yang menyandang nama besar Muhammad, yang memiliki arti ‘terpuji’, ternyata tak sepadan dengan perilakunya.
Walaupun demikian menurut saya kelakuan yang tidak terpuji itu tak mengurangi keagungan Nabi Muhammad. Dan sayapun tak kemudian merasa malu karena menyandang nama itu. Semoga saya dapat memenuhi doa orang tua saya dan semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Muhammad Rasulullah saw.

Apakah anda sedang mencari cara untuk bahagia? Tahukah Anda bahwa ada sekitar 45 juta pencarian di Google yang mencari frasa “how to be happy” setiap bulannya. Itu baru di Google, belum di mesin pencari lain dan belum frasa sejenis dan belum dalam bahasa lain. Jadi kalau Anda sedang mencari cara untuk bahagia Anda tidak sendirian.
Kita mungkin seringkali resah, galau, dan berfikir bahwa kita adalah orang paling menderita dan tidak berbahagia di seluruh dunia. Kita mencari-cari kebahagiaan itu dimana-mana. Sebagian mencarinya di harta benda, sebagian mencarinya di ketenaran, sebagian di kekuasaan, dll. Namun tahukah Anda bahwa kebahagiaan sebenarnya tergantung pada ukuran yang ada diri kita sendiri.
Ada orang yang sangat bahagia dengan cukup naik sepeda onta, sementara yang lain masih saja merasa kurang padahal sudah mengendarai mobil. Ada yang sudah sangat berbahagia ketika makan nasi putih dengan tempe dan sambal sementara yang lain masih terus berburu makanan-makanan enak dan mahal dan tak pernah terpuaskan.
Kalau Anda tak mau baju Anda kekecilan pilihan bagi Anda adalah membeli baju baru atau menjaga tubuh agar tidak kegemukan.

Apakah harimu selalu buruk? Tiap hari dijebak macet, dikejar deadline dan tanggungan pekerjaan, nonton tivi isinya hanya politisi membual dan sinetron yang tak karuan, baca koran penuh berita tak menyenangkan, buka Facebook dan twitter isinya timeline penuh status galau dan membosankan…
Tunggu dulu, hariku selalu baru, ketika si kecil ini berulah hampir tanpa bisa diprediksi. Dari nggak mau mandi pagi tapi kalau sudah kena air nggak mau keluar dari ember. Selalu mecuri kesempatan memecahkan gelas piring, menumpah nasi dan sayur, melempar HP dan remote control,mengobrak abrik kulkas dan menginjak-injak laptop, dan di ujung hari menyisakan rumah yang bak kapal pecah. Kemudian sekejap senyap karena kini dia sudah tenggelam dalam mimpinya…

Ya,selalu baru setiap hari, setiap malam…
Selamat tidur, Nak! Sampai ketemu besok di hari baru lagi 😉

Dalam Al Quran dijelaskan bahwa orang yang bersedekah akan memperoleh balasan yang jauh berlipatganda banyak. Ibarat menanam biji benih yang lalu tumbuh menjadi 7 bulir yang setiap bulir berisi 100 biji. Sebagai orang beriman tentu kita yakin dengan janji Allah itu. Namun, dalam prakteknya saya kira kemudian ada yang menyikapi dengan kurang tepat, yaitu niat orang bersedekah.

Setiap hari setiap manusia memiliki kebutuhan untuk hidup; pangan, sandang, papan dan kebutuhan lain. Dalam memenuhi kebutuhan itu seringkali kita masih saja kekurangan, sifat dasar manusia. Dalam hitungan bisnis untuk memperoleh laba orang berusaha terlebih dahulu, mengeluarkan modal dengan harapan mendapat untung. Sudut pandang bisnis inilah yang kadang terbawa ketika kita bersedekah. Kita mengeluarkan harta untuk bersedekah dengan pengharapan laba, dianggap seperti modal. Kita bersedekah 10.000 berharap besok mendapat 100.000.

Menurut saya, sedekah adalah bentuk pengejawantahan sifat Rahman-Rahim Allah dan bentuk tanggung jawab kita terhadap sesama. Entah balasan itu langsung diterima dengan segera dan instan ataukah baru kita peroleh di akhirat adalah kehendak Allah semata. Jikasaja ada kisah orang bersedekah lalu menjadi kaya, atau rezekinya lancar itu juga hak Allah untuk memberinya rezeki. Pun jika ada orang bersedekah tapi setelah itu bisnisnya justru malah seret, usahanya lebih susah itupun juga rahasia Allah. Tidak semua balasan yang kita terima dari amal kita akan langsung kita dapat.

Untuk bersedekah hendaknya luruskan niat, jangan hanya karena hitung-hitungan ‘bisnis’ untuk ingin memperoleh lebih banyak harta lagi, tapi niat itu semata karena Allah. Jika balasan itu tak kita terima disini sekarang justru bulir-bulir imbalan akan jauh lebih berharga jika kita terima nanti, di akhirat kelak.

Bagi kawan-kawan yang tengah dirundung susah karena bisnis di dunia online sedang dalam masa sulit, jangan patah semangat!

Steve Jobs hampir menjadi seperti sebuah legenda di dunia IT. Lahir dari ibu biologis yang masih muda, belum menikah Steve Job lalu tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang mengadopsinya. Perjuangan hidupnya tak mudah mengingat orangtua adopsinya juga bukan orang berkecukupan bahkan untuk dia masuk ke universitas harus menghabiskan tabungan orangtuanya itu. Bahkan ketika kuliah pun ternyata dia harus mengambil keputusan besar, drop out, padahal untuk kuliah itu dia harus menghabiskan harta orangtuanya. Tapi memang itu sebuah keputusan besar yang terbaik. Karena DO Steve Jobs akhirnya mengambil kelas non reguler, yaitu kelas kaligrafi. Tapi inilah kemudian yang menjadi awal sejarah baru yang kemudian menjadi sangat fenomenal yaitu komputer Apple.
Ini adalah bagian dari pidato Comancement of Speech dari Steve Jobs di Stanford yang begitu memukau mengisahkan hidupnya (transkrip pidato ini dapat dibaca disini). Hal yang menjadi inspirasi dari seorang Steve Jobs ini menurut saya salah satunya adalah semangatnya untuk memberi perubahan kepada dunia. Apa yang dilakukan, karya yang dia hasilkan tak lagi hanya bertujuan mencari uang, tapi sebuah semangat untuk memberikan perubahan positif bagi dunia. Membuat apa yang tadinya tak mungkin menjadi nyata. Dari tangan Steve Jobs ini lah keluar perangkat-perangkat yang tak hanya sebagai produk yang memudahkan hidup, tapi juga karya seni yang indah dan elegan.


Dan ketika hari ini tersiar, kabar Steve Jobs meninggal masih saja menggemparkan meski sudah lama dia berjuang melawan kanker pankreas.  Dunia pantas kehilangan seorang inspirator abad ini. Sebuah perjalanan hidup seorang manusia yang panjang berliku dan akhirnya berhenti di satu titik.
Sebuah ungkapan dari Steve Jobs yang akan selalu terngiang:
“Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup saya, akankah saya mengerjakan apa yang ingin saya lakukan hari ini ?”

RIP, Steve Jobs…

 

Doa orang teraniaya katanya adalah salah satu doa yang mustajab. Apakah anda pernah merasa di posisi teraniaya? Kalau pernah lalu apa yang menjadi doa anda?

Suatu ketika saya berada di pertigaan yang padat dan macet. Saya tiba-tiba terjebak di pertigaan itu, ketika hendak menyeberang ternyata di depan saya ada mobil yang menghalangi jalan saya padahal di sisi depan kanan berlawanan arah dengan saya ada mobil yang masuk dan sedikit terhalang motor saya. Mobilnya besar dan cukup mewah dan mahal. Saya berusaha maju untuk memberi jalan tapi tak bisa bergerak karena menunggu mobil di depan saya yang masih terhenti. Mungkin hanya hitungan beberapa detik saja harusnya untuk menunggu. Tapi pengendara mobil yang terhalang oleh saya itu nampaknya tak ada kesabaran. Dia memajukan mobilnya , saya kira saya terserempet, tapi ternyata dia berbuat itu dengan sengaja, dia memajukan mobilnya lagi, saya pun terjatuh meski tak sampai parah. Saya hanya mengumpati orang itu yang begitu sombong. Tapi hanya itu saja, saya tak berani memperkeruh suasana karena malas berurusan dengan hal tak penting macam itu, apalagi terus terang saya juga takut, pengendara mobil itu berbadan kekar tentu tak sebanding dengan saya yang kerempeng, dia orang kaya saya hanya orang miskin. Di titik itulah saya merasakan rasanya di posisi teraniaya, di posisi di mana orang berbuat semaunya dan dengan sombongya dan saya tak kuasa membalas kesewenangan itu.

Saya berfikir kalau saya orang yang baik mestinya memaafkan saja orang itu, tapi saya tak sesuci itu karena, jujur saja, memaafkan yang benar-benar dari lubuk hati bukan perkara gampang. Di sisi lain, dengan posisi teraniya, doa saya mungkin saja cukup makbul, saya bisa saja mendoakan yang buruk, tapi saya juga tak mau menjadi sejahat itu. Bukan sifat orang beriman yang suka mendoakan buruk. Saya lalu berfikir lagi dengan lebih simpel, bahwa Gusti Allah mboten sare (Tuhan tak pernah tidur). Entah motif apa orang itu berbuat seperti itu, itu biarlah urusan dia dengan Tuhan. Entah Tuhan mau membalasnya dengan apa sudah bukan lagi kewenangan saya, mau dibalas buruk, lebih buruk, atau justru dibalas kebaikan, sekali lagi itu urusan Tuhan. Dengan begitu saya menjadi merasa ringan dan menganggap kejadian itu sebagai angin lalu saja.

Apa yang saya alami barangkali tak ada apa-apanya dengan mungkin jutaan orang yang lebih teraniaya, tertekan, merasa dihina dilecehkan diinjak harga dirinya, baik psikologis, mental dan bahkan fisik dan tak mampu berbuat apa-apa. Saya lalu hanya berfikir bahwa saya harusnya juga lebih hati-hati bersikap, jangan-jangan saya juga pernah berbuat aniaya dengan orang lain, dan kita tak pernah tahu orang itu lalu mendoakan apa kepada kita. Doa itulah yang harusnya kita takutkan..
Semoga kita selalu dijauhkan dan dijaga dari perbuatan aniaya..

Selamat merayakan Idul Fitri bagi kawan-kawan sekalian, baik yang merayakannya duluan maupun belakangan. Ya, kali ini lebaran kembali berbeda. Saya pribadi sebenarnya tak terlalu merisaukan perbedaan lebaran apalagi perrbedaan ini sudah terjadi beberapa kali. Yang agak berbeda sekarang adalah gaungnya yang cukup membuat sedikit prihatin. Pada waktu-waktu lalu ketika lebaran berbeda secara umum tidak ada banyak masalah. Saya kira sebagian besar umat sudah mulai menyadari perlunya penghargaan atas perbedaan ini. Saya pun tak kaget ketika pemerintah memutuskan untuk “memundurkan” lebaran sehari dan ormas Muhammadiyah tetap pada pendirian semula. Tapi ketika mulai ada suara agak miring tentang perbedaan ini dan terkesan memojokkan Muhammadiyah karena berbeda sendiri dari ormas lain saya mulai agak risau. Bukan karena saya dibesarkan di Muhammadiyah tapi hendaknya upaya untuk mempersatukan umat dengan menyamakan lebaran hendaknya tak perlu dilakukan dengan konfrontatif. Apalagi preseden akan adanya perbedaan lebaran sudah jauh hari diketahui. Dalam hal ini tentu saja pemerintah-lah yang perlu mempertemukan perbedaan-perbedaan diantara ormas, namun bukan dengan pemaksaan penyeragaman, tapi dengna dialog dan pendekatan yang tentu saja tidak serta merta. Sebenarnya upaya semacam ini pernah dilakukan oleh Jusuf Kalla ketika menjadi Wapres. Waktu itu sudah ada komitmen dari NU-Muhammadiyah untuk berdialog secara berkesinambungan soal upaya penyatuan lebaran. Sayangnya upaya ini entah kenapa akhirnya putus di tengah jalan.

Saya pribadi sebenarnya merasa bahwa soal penampakan hilal ini sebenarnya hal yang tak perlu dibesar-besarkan. Apalagi keyakinan bereda disertai dengan menyerang orang lain. Yang lebaran duluan menganggap yang lebaran belakangan sebagai berdosa karena berpuasa di hari raya, dan sebaliknya yang lebaran belakangan menganggap yang lebaran duluan berdosa karena puasanya kurang sehari. Tahun ini perbedaan makin riuh di ranah maya, khususnya di jejaring sosial. Dulu, di jaman Rasulullah, ketika mendung menutupi hilal maka puasa digenapkan menjadi 30. Saya yakin jika ternyata besoknya hilal terlihat dan ternyata sudah tanggal 2 syawal maka tak jadi persoalan. Allah tak akan membebankan dosa meski secara empirik harusnya puasa sudah berakhir sehari sebelumnya. Contoh lain diriwayatkan kesaksian seorang Badui yang melihat hilal-pun dapat diterima, meski dia bukan ahli astronomi. Ini menunjukkan bahwa perbedaan penafsiran penentuan tanggal 1 Syawal bukanlah hal yang perlu dibesar-besarkan. Meski saya berharap ke depan ada kesepakatan untuk menentukan kriteria yang sama agar tidak ada lagi kontroversi seperti ini lagi. Dan sementara masih ada perbedaan lebaran mestinya yang selalu dikedepankan adalah adanya penghargaan atas perbedaan yang ada. Perbedaan ini juga bukan soal ormas belaka.

Dan, yang unik di lebaran ini, sewaktu berkunjung atau bertemu kawan hampir selalu perbincangan awal adalah pertanyaan “lebaran kapan?” Faktanya ini hanya jadi pembuka pembicaraan tak hendak kemudian menjadi ajang saling klaim kebenaran. Saya yakin bahwa Allah akan menerima ibadah dari hamba yang dengan niat ikhlas menjalankannya.

Mohon maaf lahir batin…

Kata yang keluar dari lisan ibarat panah yang lepas dari busur. Kadang kita tak mampu mengendalikan jika dia sudah melesat, dia bisa melukai bahkan membunuh, bahkan bisa jadi balik melesat menuju kita sendiri.

Anda mungkin tak bermaksud sungguh-sungguh, atau hanya iseng dan main-main saat mengeluarkan kata. Tapi dari yang sekedar iseng itu bisa menjadi masalah besar. Dengan kata orang bisa tersinggung, dan bila dia merasa harga diri sudah dilecehkan apapun bisa terjadi.

Kata bahkan mungkin tak hanya menyinggung, yang masuk telinga turun ke hati, kata bisa jadi lebih dari itu. Kata adalah doa yang orang bilang jika ada malaikat mengamini apa yang terucap, baik atau buruk, bisa saja menjadi kenyataan meski tadinya hanya berkelakar.

Saya punya teman yang memiliki pengalaman buruk soal ini. Suatu ketika kawan saya ini punya usaha yang berkembang sangat pesat. Keadaan seperti di atas angin, serba lancar dan mudah. Suatu ketika dia berucap bahwa selama ini jalannya begitu dilancarkan tuhan, jadi katanya, yangsaya kira tak sungguh-sungguh, sekarang dia menunggu cobaan Nya. Sungguh apa yang kemudian seperti antiklimaks. Cobaan demi cobaan datang berturutan, usahanya bubar, dikejar banyak oorang, bahkan sampai dia kemudian memulai lagi dari nol, menikah, dan cobaan terus saja tak henti sampai akhirnya dia pergi entah kemana…(mudah mudahan Allah memberinya jalan).

Jadi ingatlah, kata bukan sekedar kata, dia bisa jadi obat, bisa jadi senjata pembunuh. Kata adalah doa yang dapat suatu ketika terkabulkan. Maka jagalah setiap kata terucap, sedapat mungkin hanya kata kata yang baik dan bermanfaat yang senantiasa terucapkan di lisan atau tertulis dengan pena atau ketukan keyboard. Jagalah dia sebelum melesat tanpa kendali.

Membangun sesuatu yang belum pernah ada bukanlah sesuatu yang gampang. Membangun rumah, misalnya. Kita harus mampu membayangkan seperti apa rumah itu, berapa kamar, berapa lantai, pondasinya bagaimana, bahan bangunannya pakai apa, dsb. Kita memerlukan bayangan lalu dibuat sketsa dan desain, dihitung kebutuhan materialnya, dst. Tanpa mempunyai gambaran akan sesuatu yang akan dibangun maka rumah itu akan sulit terwujud dengan baik. Itulah visi.

Bicara lebih luas lagi, lebih dari 66 tahun yang lalu, para pendiri republik ini tak hanya membangun rumah ukuran petak kecil, tapi sebuah negara yang besar. Diperlukan visi negarawan yang benar-benar mampu memimpikan sebuah bangsa yang merdeka dengan jutaan kepala, ribuan pulau, luas yang jauh membentang. Saya selalu saja terkagum dengan perjuangan pemimpin-pemimpin visioner masa lalu, Sukarno, Hatta, Syahrir, dan banyak lagi di masa itu.

Namun sayang, seiring usia bangsa ini yang semakin menua justru banyak visi pendiri negara ini dibelokkan. Semakin lama justru makin memprihatinkan. Ketika masa kemerdekaan kita kaya akan pemimpin berkualitas, sekarang kita justru krisis, nyaris tak punya pemimpin yang punya clear vision ke depan. Kita berjalan sekenanya, tanpa panduan, tanpa arahan, sendiri-sendiri.

Di saat orang muda diharapkan menjadi pemegang estafet kepemimpinan baru yang lebih jernih dan segar, di saat sama generasi \\\’pemburu rente negara\\\’ dari kalangan muda malah makin merebak dan semakin vulgar. Jangankan meneruskan membangun \\\’rumah bangsa\\\’ yang dirintis susah payah, justru malah menggerogoti sendi dan fondasinya demi kepentingan perut.

Meski begitu, kita tak hendak untuk apatis. Jalan ke depan masih panjang. Di tengah tempaan masa yang berat ini harapannya akan lahir pemimpin yang tangguh, memiliki karakter, memiliki visi, dan benar benar seorang negarawan sejati. Mudah mudahan muncul dalam beberapa tahun ini, atau belasan tahun lagi, atau kita perlu lebih sabar lagi,.. Dirgahayu Republik Indonesia

Seringkali kita dengar anjuran para dai untuk selalu bersyukur atas segala nikmat, baik nikmat rezki, nikmat sehat, dan lainnya, dan yang harus paling disyukuri adalah nikmat hidayah. Hidayah Allah-lah yang menuntun kita untuk menegakkan sholat, menggerakkan kaki menuju masjid, melafalkan di lisan ayat Quran, dan banyak lagi amal perbuatan lain.

Hidayah adalah kehendak Allah untuk membuka hati kita, namun bukan kemudian kita santai-santai menunggu hidayah datang, tapi harus selalu berdoa untuk memperolehnya dan bahkan memperjuangkannya.

Dalam Surat Fatihan yang kita ulang-ulang tiap sholat, kita selalu bermohon untuk diberi hidayah, ditunjukkan ke jalan yang lurus. Tak berhenti di situ saja, dalam upaya memperoleh hidayah kita juga harus tak segan-segan menggali hikmah, terus belajar, terus berupaya agar dapat memperoleh hidayah, baik dengan amal mematuhi perintah Allah, menjauhi laranganNya, serta terus menggali ilmu untuk mendekatkan diri kepadaNya.

Jaman dahulu, Ibrahim berjuang keras mencari tuhan baik dengan akal pikiran dan hati, dengan perenungan maupun mengamati alam. Kalau kita pernah mendengar kisah Ibrahim mungkin perjuangannya tak sesederhana kisah itu, bisa jadi jauh lebih dahsyat dan berat.

Kita sekarang harusnya lebih mudah untuk mengenal tuhan, karena apa? Kita sudah diberikan manual book petunjuk yang dapat kita baca dengan lebih mudah yaitu Al-Quran. Kita diberikan contoh pengejawantahan Quran dalam kehidupan yang dapat kita tauladani, yaitu Rasulullah Muhammad.

Tinggal kita sendiri yang mau atau tidak untuk berdoa dan berharap akan hidayah itu serta berjuang berikhtiar mendapatkannya.

Mulailah lagi dengan membaca Al Quran..

Berapa jarak antara kita dengan Allah? Dalam Quran dikatakan bahwa jaraknya dekat sekali. Sehingga setiap menyeruNya maka Allah akan menjawab.

Kadang mungkin ada orang yang merasa sudah jauh dari Allah, sudah banyak dosa, banyak meninggalkan ajaran agama. Saking jauhnya maka dia merasa tak ada tempat lagi untuk kembali.

Ada semacam mental block yang menghalanginya untuk kembali kepada Allah. Sikap mental macam ini sesungguhnya tidak tepat. Kita diajarkan untuk yakin bahwa Allah akan menerima taubat, akan mengijabah doa. Anggapan bahwa Allah tak lagi sudi menerima hambaNya yang ingin kembali justru menjadikan kita semakin jauh.

Kita harus senantiasa yakin bahwa Allah Maha Kasih, Maha Pengampun, Maha Bijak.. Kita harus selalu berbaik sangka, bahwa apapun yang diberikanNya kepada kita adalah yang terbaik. Hilangkan mental block yang akan menghalangi kita mendekat kepadaNya

Mental korup barangkali memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari koruptor. Karena sudah menjadi mental maka apapun mungkin sudah tak ada gunanya untuk menghalanginya berbuat korupsi. Gaji dan fasilitas yang dilipatgandaKan? Tak selalu mempan. Hukuman yang berat? Di kamus koruptor ini sudah ada dan disiapkan sogokan untuk penegak hukum. Mau dipenjara? Paling cuma sebentar dan formalitas. Bahkan ancaman dosa dan neraka? Bisa jadi dengan mental korupnya koruptor sudah menyiapkan ‘sogokan’ untuk tuhan juga. Taruhlah dia korupsi sekian milyar, lalu sebagian hasil korupsi itu dibuatkan mesjid mewah dan sedekah. Dia mengira dengan begitu dosa korupsinya terampuni.

Jangan heran kalau buron koruptor itu memiliki nama ‘islami’, di wawancara fasih menyebut salam, dan tertangkap di negri nun jauh di sana masih setia beribadah puasa..

Kita tak hendak menghakimi siapapun tentang ibadahnya diterima atau tidak, tapi minimal di mata kita kesalehan tak hanya diukur dari hal ritual tapi juga kesalehan sosial, serta kesalehan-kesalehan lain yang lebih nyata. Ibadah tak hanya ritual dan berhenti di masjid, justru di luar mesjid, di dunia nyata, ibadah kita akan diuji. mental kita yang sesungguhnya akan nampak disana.

Kita diciptakan oleh Allah swt tak lain adalah untuk beribadah kepadaNya. Ibadah tentu saja dapat bermacam-macam dari ibadah mahdhah yang telah ditentukan ritualnya sampai ibadah dalam arti luas yakni keseharian kita.
Ibadah bermakna menyembah juga bermakna pengabdian. Sebagai mahluk yang dicipatakan dan jika ingin memenuhi kehendak pencipta maka kita tentu harus mematuhi apa yang disuruh, menjauhi yang dilarang. Kalau ditanya ibadah kita untuk siapa, pasti jawabnya untuk Allah. Kalau ditanya ibadah kita untuk apa, maka coba tanya lagi ke hati kecil. Ibadah memang ada iming-iming pahala dan syurga. Ibadah tertentu ada keutamaan akan diperlancar rezeki. Sholat dan puasa dapat membuat fisik menjadi sehat dan sebagainya. Itu hanya hikmah ataupun fadhilah.

Tapi kalau tujuan ibadah kita hanya sebatas itu tentu saja esensinya masih belum mengena, apalagi tujuan-tujuan yang dicari masih bersifat duniawi; harta, pangkat, dll. Kita tentu melakukan sesuatu bukan karena iming-iming, seperti anak kecil yang diminta bantuan orangtuanya dan dijanjikan permen. Bagi anak yang cinta orang tuanya apa yang disuruh pasti dilakukan suka hati, bahkan meski tanpa imbalan apapun, semua dilakukan karena cinta. Ibadah yang sejati tentu tak berharap rezeki berlimpah, kedudukan tinggi, enteng jodoh, atau tujuan-tujuan kecil. Ibadah sejati dilakukan karena cinta, untuk membalas cinta, untuk mendapatkan keridhaan Allah semata.