You are currently browsing the category archive for the ‘mtamim’ category.

Saya sebenarnya ada sedikit hobi gambar menggambar, meskipun hanya corat coret. Untuk coretan dalam bentuk digital saya memulainya dari Adobe Photoshop, lalu Adobe Illustrator. Setidaknya dua aplikasi ini yang sering saya pakai. Sebagai disainer amatiran, tidak banyak yang saya buat, paling hanya untuk keperluan pribadi, misalnya ilustrasi PowerPoint atau untuk proyek amatir lain, membuat game.

Saya pikir beberapa disain saya, daripada hilang ditelan sampah digital, lebih baik dipublikasikan, mungkin saja ada yang dapat memanfaatkan, baik seperti saya, untuk ilustrasi PowerPoint, game atau mungkin untuk keperluan lain. Silahkan menggunakan untuk kepentingan pendidikan, komersil atau apa saja asalkan tidak digunakan untuk hal-hal negatif.

pesawat (450 x 349)

Untuk edisi pertama ini saya bagikan ilustrasi beberapa pesawat dalam genre flat design. Disain ini saya gunakan untuk sprite dalam beberapa casual game, yang sampai saat ini belum juga selesi saya buat 😀

Saya pecah file-filenya dalam format file PNG transparan, terdiri dari beberapa jenis pesawat dan juga ilustrasi pendukung. Untuk mengunduhnya silahkan mengklik tautan http://tinyurl.com/tmgrafis1

Silahkan download gratis file ini dan memanfaatkan seperlunya. Saya akan senang jika Anda memberikan info di komentar di bawah tentang masukan dan kritik terkait disain ini. Untuk seri yang lain insyaallah akan menyusul.

Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Menulis itu memang terlihat sepele dan bukan perkara mudah. Untuk menulis di blog dengan konsisten adalah sesuatu yang sesungguhnya berat. Dengan berbagai pengalaman dan peristiwa yang saya alami sebenarnya banyak sekali yang dapat ditorehkan, paling tidak untuk menjadi pengingat diri sendiri. Namun apa daya, energi menulis di blog ini seperti terkuras. Entah kenapa.

Kali ini saya akan coba lagi mengupdate blog ini dengan beberapa variasi. Ya, sekedar sedikit berbagi dan untuk meninggalkan jejak.

Bertepatan dengan hari pahlawan ijinkan saya sharing kisah ttg nenek,#pahlawan keluarga besar kami. Ini hari ke-4 nenek, atau kami biasa panggil Mbah, terbaring di RS,koma. Meski agak jauh,kemarin saya sempatkan menengok beliau. Usia Mbah mgkn sudah mencapai 100. biasanya sangat sehat dan bugar. Teman seusianya sdh habis belasan tahun lalu
Mbah memiliki 7 anak,2 meninggal. Mbah kakung meninggal saat bapak saya masih SD kelas 3. Bs dibilang Mbah adalah single parent

Hidup di desa terpencil,kering,miskin, kehidupan keluarga Mbah dilakoni dengan tidak mudah.Belum lagi konflik politik silih berganti. Dari masa Belanda,Jepang,DI/TII,PKI,dll. Mbah melalui itu semua. Dengan kondisi demikian,keluarga Mbah ditempa dgn keras namun justru itu menelorkan jiwa2 penuh dedikasi dan tanggungjawab. Meski hidup kekurangan,semua anak2 harus mengenyam pendidikan, itu prinsip keluarga Mbah. Meski tdk sekolah Mbah sendiri tidak buta huruf

Setiap hari Mbah membaca Quran dengan terjemahan Jawa pegon setiap usai sholat 5 waktu. Setiap hari. Kebiasaan ini dilakoni hampir semasa hidup,sampai kira2 1-2 tahun terakhir karena penglihatan Mbah mulai kabur. Mungkin krn itu pula Mbah secara pikiran masih jernih. Dan mgkn stlh tdk mampu mmbaca quran lg, ingatan dan pikiran mulai menurun

Saya membayangkan masa mudanya Mbah pastilah wanita yg kuat,tegar,decisive.Tercermin pd anak2nya. Sbg cucu, saya merasakan ikatan kasih sayang anak2 Mbah sangat dalam. Sekali lagi itu mgkn hikmah kerasnya hidup..Bbrp hari sblm meninggal, bpk sempat mengigau memanggil2 nama Mbah. Entah knp,mgkn mmg ikatan yg begitu kuat

Anak2 Mbah hampir semua jd guru,melanjutkan jejak mbah kakung. Dari 5 anak yg hidup sampai dewasa kini tinggal 3. Pakde meninggal 10an thn lalu. Bpk saya meninggal awal thn ini. Mbah sendiri tyt mlh dikaruniai usia lbh panjang. Mbah masih dpt menemui belasan cucu,buyut bahkan ‘canggah’ (istilah Jawa utk anak dari buyut)

Setiap lebaran hampir semua selalu menyambangi Mbah sebagai pepunden keluarga..Hari2 ini pun anak cucu bergantian menemani Mbah di RS, sebuah pengabdian dan kasih yg selalu terpatri.Semoga Tuhan memberikan semua yg terbaik kepada Mbah, sang #pahlawan keluarga kami.

Dan semoga Tuhan mengabulkan doa Mbah yg selalu diulang2 kepada kami. Doa Mbah bukan doa agar kaya raya atau lainnya..doa yg selalu saja diucapkan Mbah terus menerus, bahkan sejak saya bisa mengingat, adalah agar kami semua diberikan kekuatan iman..

Semoga Allah mengabulkan doamu Mbah, nenek kami,pahlawan kami..

(tulisan ini saya ambil dari akun twitter, saya tulis 10 November 20013 lalu. Sore ini, 12 Nopember 2013, saya memperoleh kabar bahwa nenek akhirnya dipanggil Sang Pencipta. Semoga khusnul khatimah)

affmbah

 

Mohon ijin sedikit sharing. sudah sekian bulan berlalu sejak bapak meninggalkan kami semua sejak saya sekolah di kota, jika saya berangkat atau pulang naik bis saya selalu diantar-jemput ke/dari terminal terdekat Dulu biasanya bapak sendiri yg antar-jemput, setiap akhir pekan. mengantar atau menunggu di terminal dulu belum ada HP sehingga agak sulit berkomunikasi. Bapak akan setia menunggu sabtu sore ketika bis datang

Entah kenapa tadi malam menjelang pagi saya bermimpi dijemput bapak. uniknya bapak menjemput naik sepeda (biasanya pakai motor) uniknya lagi saya duduk di depan, di stang, mirip seperti anak balita, dan menghadap belakang, shg dpt melihat wajah bapak. wajahnya teduh dengan senyum kecil seperti biasanya. lekat saya memandangnya. dalam mimpi saya awalnya tidak sadar jk bpk sdh tiada lama-lama saya sadar kalau bapak sudah tiada. tapi saya hanya diam, menunggu..

Sesampai di sebuah jembatan, sudah dekat dari rumah, bapak berhenti dan turun dari sepeda Beliau berkata (dlm bahasa jawa): sudah ya sampai disini saja ya? saya sontak menangis sejadi-jadinya saya langsung memeluk erat sekali sambil berkata: pak saya kangen.. saya tahu bahwa itu hanya mimpi dan akan segera berlalu begitu bangun jadi saya meluapkan rasa kangen itu dengan erat memeluk bapak meski saya sadar bahwa itu hanya dalam mimpi

Pelan-pelan bapak menghilang dan sambil menangis saya membacakan doa sebisanya saya tidak tahu apakah mimpi itu hanya halusinasi atau memang dunia ruh itu masih bisa ada hubungan dg dunia kita wallahu a’lam tapi saya bersyukur untuk masih dapat memeluk bapak, walau dalam mimpi, entah itu benar bapak atau hanya halusinasi semoga bapak disana diberikan ketenangan, dilapangkan, dan selalu dirahmati Allah, ditemani sahabat2nya: amal baiknya

Selamat pagi kawan, jangan sampai dunia fana membuatmu lupa untuk selalu mendoakan kedua orang tua..

Foto diambil dari sini

Kalau kamu merasa bahwa hidup itu penuh kesulitan dan beban barangkali kita harus memikirkan ulang. Banyak kesulitan, sakit, kesengsaraan sebenarnya tergantung pada bagaimana kita memandang. Dari situlah barangkali kita akan belajar untuk menjadi ikhlas. Mungkin terlalu klise kalau dibilang di luar sana banyak orang yang lebih menderita dan mereka baik-baik saja, tapi memang demikian adanya.

Suatu pagi di salah satu radio disiarkan kuliah subuh dibawakan AA Gym. Saya lupa pagi itu membahas apa, sampai pada sesi interaktif, seorang ibu minta doa karena punya masalah keluarga yang klasik. Penelepon kedua agak kurang jelas, sehingga AA Gym dengan sabar harus mengulang-ulang pertanyaan. Ternyata penelepon adalah seseorang dari satu kampung kecil jauh dari kota. Kalau tidak salah namanya Endun. Usianya 30an, lumpuh sejak kecil, hanya bisa duduk dan tak bisa apa-apa bahkan untuk sekedar ke kamar mandi. Kakaknya juga lumpuh, bahkan hanya bisa berbaring. Keduanya tak pernah sekolah karena kondisi fisik dan juga biaya. Endun sudah 50 kali lebih mencoba menelepon dan baru pagi itu bisa masuk.

Ketika ditanya bagaimana menjalani hidup ia hanya bilang ya bagaimana lagi, memang kondisi seperti itu. Tidak ada nada keluhan atau merasa paling menderita di seluruh dunia. Yang lebih membuat saya tersentuh ketika AA Gym meminta bicara dengan bapaknya. Bapaknya ini adalah buruh bangunan serabutan. Istrinya sudah meninggal. Si bapak harus mengurus dua anaknya setiap hari, dari urusan makan sampai urusan bersih-bersih (kedua anaknya tak mampu untuk buang air tanpa bantuan orang lain). Setelah itu ia kerja. Siang ia pulang, mengurus makan siang, membersihkan anak-anaknya lagi untuk sholat Dhuhur. Setelah itu melanjutkan kerja. Terus begitu setiap hari.

Dari suaranya bapak ini tercermin kesederhanaan luarbiasa. Ia tak bisa Bahasa Indonesia dan berbicara Bahasa Sunda. Betapa kehidupan sehari-hari yang berat dijalaninya puluhan tahun. Kedua anak lelaki yang mestinya menjadi tumpuan ketika masa tua ternyata malah sebaliknya, sampai masa tuanya ia mengurus kedua anaknya bak bayi saja. Apalagi setelah istrinya meninggal. Tapi ia menjalaninya dengan biasa saja. Sedih tentu saja. Tapi dari intonasi suara di telepon saja sungguh terpancar sebuah keikhlasan, tak ada penyesalan akan hidupnya atau menghiba untuk dikasihani. Hidup baginya adalah menjalani apa yang ada dihadapannya dengan ikhlas, biasa saja. Bapak ini mungkin tak pernah mengenal motivator, membaca buku penyemangat, belajar ilmu psikologi atau mengaji dari ustad terkenal, tapi ia ternyata mampu memaknai dan menjalani hidupnya dengan keikhlasan.

Kita yang banyak membaca buku atau mendengar pengajian tentu sudah sering dan hafal dengan bahasan tentang ikhlas, tapi pada tataran praktik mungkin kita kalah jauh dengan seorang bapak di pelosok desa di Sunda ini. Semoga Allah merahmati si bapak dan keluarganya.

Membuka mata, subuh 1 Januari 2013, di samping saya Affan (3,5 th) masih terlelap di sebelah, dalam kamar, Kaysa dan ibunya juga terlelap. Affan dan saya semalam begadang, bukannya merayakan malam tahun baru, tapi karena Affan sudah tidur sebelum magrib dan bangun lagi sekitar jam 8 dan tak mau tidur lagi sampai larut malam sampai sekitar tengah malam, karena saya sempat mendengar gaduh suara kembag api. Kaysa dan ibunya gantian bangun jam 2 dan tidur lagi ketika hampir subuh.

Jika dirasa ada semacam rasa capek dengan kehadiran anak, meski baru dua sekalipun. Tapi kehadiran anak adalah anugerah yang tak akan tergantikan harta benda apapun dimana kehadirannya saja, atau berada di dekatnya saja, atau sekilas melihat wajah dan senyumnya saja mampu menerbitkan sebuah kebahagiaan. Di sisi lain anak adalah amanah besar, Tuhan tentu tak sekedar memberi anugerah itu hanya untuk menyenangkan kami sebagai orang tua, tapi juga sekaligus membebankan amanah untuk membesarkan, mengasuh dan mendidik mereka untuk pada saatnya menjadi khalifah di muka bumi. Dan sekali lagi, ternyata itu bukan perkara mudah. Anak tumbuh sebagai manusia yang sangat unik, sebuah pribadi yang tak serta merta menjadi salinan dari orang tuanya. Orang tua benar-benar harus faham betul dengan karakteristik anak dan orang tua harus menerapkan, salah satunya adalah gaya parenting yang tepat.
Gaya parenting yang cukup banyak dianut adalah gaya otoriter. Orang tua menerapkan aturan yang ketat bahkan terlalu keras dengan alasan disiplin. Anak harus ikut apapun yang diinginkan orangtua, bahkan orangtua mengatur masa depan anak, harus jadi ini dan itu, dan seterusnya. Tak ada ruang bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri. Biasanya anak ditakut-takuti dengan hal-hal yang sebenarnya tidak logis, hanya karena misalnya supaya anak tidak menangis. Gaya seperti ini dapat membuat anak yang keras, yang otoriter pula atau justru sebaliknya menjadi tertekan dan ketika si anak menjadi orang tua akan bersikap sebaliknya karena ia tak ingin pengalaman pahit selama tumbuh kembangnya dialami anak-anaknya, dan ini adalah gaya kedua. Gaya ini dikenal sebagi permisive parenting. Anak diberi keleluasaan yang besar bahkan terlalu besar, boleh berbuat apapun dan orang tua cenderung membiarkan. Alasannya bisa karena orang tua terlalu sibuk atau karena terlalu menyayangi sehingga cenderung memanjakan anak. Anak yang dibesarkan dengan gaya ini kemungkinan akan menjadi kurang tahan banting, karena biasa terbiasa dimanjakan atau terlalu \’liar\’ dan sulit dikendalikan.

Di tengah kedua gaya itu adalah authoritative parenting, dimana anak dibebaskan memilih pilihan-pilihannya tapi ditekankan konsekwensi dari pilihan yang diambil. Kebebasan dalam hal ini adalah kebebasan yang terkontrol, ibarat layang-layang, ia dapat terbang tinggi melayang kiri kanan tapi tak lepas dari benangnya. Gaya ini memang paling sulit diterapkan karena harus sangat fleksibel dan tepat dalam setiap keputusan, kadangkala bisa sangat longgar tapi kadang juga keras jika sudah berhadapan dengan prinsip. Anak kadang dibiarkan melakukan sesuatu dan mengalami konsekuensi sendiri, learning by doing. Tapi tentu saja tidak dilakukan untuk hal-hal berbahaya. Ketika kecil Affan sudah terlihat sebagai anak yang suka eksplorasi, dan biasanya saya tidak banyak melarang jika memang tidak berbahaya. Suatu ketika dia ingin makan cabe (ia belum tahu kalau cabe itu pedas). Saya bilang kalau cabe tidak enak. Tipikal Affan adalah tidak percaya dan ia nekat memakan cabe dan saya biarkan saja. Saya cuma menyiapkan air putih ketika dia teriak teriak minta air sambil menjulurkan lidah kepedasan. Ia belajar memilih dan konsekwensi dari pilihannya. Ini tentu tak berlaku untuk hal berbahaya, misalnya kalau naik motor dia suka pencet klakson, starter atau membelokkan arah motor dan tentu saja memegang gas. Yang terakhir ini sudah sekian kali saya hindari meski akhirnya kecolongan juga. Kemarin sore ketika mau keluar dengan motor dan sudah mau tancap gas kancing mantelnya lepas dan minta dibetulkan. Tak dinyana ketika saya fokus dengan mantelnya Affan memegang gas motor dan menarik dengan keras! Untungnya motor menabrak pot dan pagar. Semakin kaget Affan menarik gas dengan semakin kuat sehingga semakin menderu, untungnya motor mentok. Saya gemetaran tak dapat bayangkan seandainya posisi motor lurus ke depan. Alhamdulillah kami tidak apa-apa,tapi Affan belajar satu hal yang berharga tentang apayang disebut bahaya. Ini contoh kecil betapa menjadi orangtua dan memilih gaya pengasuhan anak bukan hal yang mudah. Menjadi orang tua yang baik adalah perjuangan.

Melewati 2012
Hujan tak henti di ujung tahun ini. Hari demi hari akhirnya datang dan berlalu.Bukan waktu

yang penting tapi bagaimana kita melaluinya. Ada harapan tersemai, ada yang tumbuh dan

pupus. Banyak hal terjadi, banyak hal dikerjakan.
Tahun ini kami membangun rumah meski tak tahu apakah cukup mampu menyelesaikan atau tidak.

Apalagi 2012 nampaknya menjadi tahun yang kurang baik bagi bisnis. Beberapa bulan di akhir

tak hanya penurunan drastis penghasilan, tapi akhirnya mendapat surat pemecatan dari Google,

tanpa tahu duduk perkaranya. 🙂

Namun yang melebihi semua kekecewaan, kehawatiran, kekurangan dan hal-hal tak disukai, tahun

ini hadir anak kedua kami, melangkapi kebahagiaan melebihi dari harta apapun.
Dan di tengah hangatnya keluarga, di tengah rintik di luar hanya dengan rasa syukur akhirnya

2012 terlalui, semoga tahun depan lebih baik.

Anugerah Terindah Kedua
Suatu ketika saya bermimpi, menimang bayi yang begitu putih bersih dan saking putihnya seakan-akan seperti bersinar. Entah firasat atau pertanda, beberapa waktu kemudian ternyata istri saya hamil anak kedua.

Dan pagi itu barangkali tak ada suara yang lebih indah dari suara tangis yang memecah. Meski bukan yang pertama, tangis bayi anak kami yang lahir pagi itu tetap saja membuncahkan segala macam perasaan. Amazing.
Agak di luar perkiraan, anak kedua kami lahir lebih cepat dari HPL. Kami baru saja direpotkan anak pertama kami yang terkena cacar air dan tiba-tiba ternyata adiknya mau lahir. Beruntung Affan cukup dewasa, tidak rewel dan bahkan langsung menawarkan diri untuk dititipkan ke kakak sepupunya. Ia bahkan memasukkan beberapa kebutuhannya sendiri ke tas dan ikut dengan budenya. Istri saya berangkat dengan kakak dan saya mengikuti dengan motor di belakang. Sempat terjadi insiden kecil ketika di jalan saya sempat kena tabrak mobil dari belakang. Beruntung saya tidak kena luka serius, hannya lebam sedikit di kaki.
Proses kelahiran sedikit lama, dan mengingat ketuban sudah pecah maka mau tidak mau saat kelahiran tidak lagi ditunda. Setelah beberapa saat tidak ada reaksi akhirnya diberikan induksi dengan infus. Menunggui semalaman, selain harap-harap cemas juga kantuk yang selalu menyerang. Keluarga orang-tua saya malam itu juga menyusul. Kakak yang bidan juga ikut menunggui sehingga saya sedikit lebih tenang.
Kecemasan, rasa sakit,capek, apapun yang kami alami dan dirasakan sebelum kelahiran akhirnya semua terbayarkan ketika anak kami lahir dengan selamat dan sehat dan dengan tangisnya yang memecah.
Dan kini, 7 hari setelah kelahiran anak kedua kami akhirnya kami berikan nama yang juga merupakan doa dari kami Kaysa Kirana, yang menjadi doa kami agar nanti menjadi anak cantik, elok dan cerdas yang menjadi cahaya penerang.
Dan semoga, Affan segera sembuh dan dapat segera bertemu adiknya yang sudah berbulan bulan ditunggu.
Tidak ada harta benda apapun yang lebih bernilai bagi kami melebihi anugerah hadirnya kedua buah hati dalam keluarga kami ini.

Jakarta 8 Desember 2012

Setiap orang bahkan seyiap mahkluk di dunia ini semua telah ditentukan rezekinya. Kadang tanpa disangka-sangka rezeki datang, dan juga pergi, besar ataupun kecil. Sewaktu ramadhan kemarin, sehabis mengantar istri tugas, saya mampir di toko buku sambil menunggu buka puasa. Tanpa sadar waktu berjalan dan menjelang maghrib. Saya tentusaja jadi terburu-buru. Ternyata di toko disediakan makanan kecil dan minuman untuk berbuka. Dalam kondisi lapar dan haus seharian, seteguk air dan sepotong kurma adalah rezeki yang luarbiasa. Karena belum makan dan belum sholat maghrib maka saya lalu mampir di masjid di jalan yang menuju saya pulang. Lepas maghrib saya mau beranjak untuk mencari warung, tiba-tiba ada yang mendekati saya membawa sekotak nasi, yang merupakan menu buka puasa di masjid tadi. Sekali lagi rezeki datang tak diduga 🙂

Kemarin, ketika pulang kantor saya sengaja ingin mencari salah satu koran lokal. Artikel saya barusan dimuat dan saya belum punya korannya. Ketika mampir di salah satu penjual koran ternyata kiosnya itu tak ditunggui, beberapa orang disitu juga tak tahu penjual tadi kemana. Saya pikir ini orang apa nggak niat cari rejeki. Ya sudah, cari penjual lain yang niat cari rezeki. Saya lanjutkan jalan pulang karena saya tahu di deket rumah juga ada beberapa penjual koran. Namun sampai di rumah saya tak memperoleh koran tadi. Penjual koran yang saya datangi ternyata kehabisan stok, tidak ada yang saya cari. Hari hampir magrib, saya khawatir kalau tak dapat hari itu maka saya akan lebih sulit mencarinya lagi. Saya lalu mencari kios yang lebih besar, sedikit agak jauh dari rumah, ternyata kios tutup. Saya lalu melanjutkan lagi sampai jauh,dan tak dinyana motor saya membawa saya ke penjual koran yang tidak ditunggui tadi. Padahal jalan yang saya lalui tadi lewat jalan memutar. Dan ternyata ternyata penjualnya belum ada juga! padahal mungkin sudah setengah jam lebih. Saya menunggu dan  mencari-cari penjualnya beberapa saat. Tidak ada yang tahu. Saya mau nitip uangnya saja sama pedagang kakilima di sebelahnya. Lalu ada seorang bapak dengan anak kecil datang, saya kira mau beli koran juga. Dia ternyata bilang “mari pak, beli apa?” Ternyata dia penjualnya, sambil senyum-senyum tanpa dosa. Saya langsung membayar dan ngeloyor pulang sambil berpikir bahwa rejekinya bapak itu, harus lewat saya yang membeli korannya, entah harus dengan cara bagaimana.

“Aku tahu rizkiku tidak akan diambil orang, karena itulah aku tenang.”  Hasan Bashri

Makan barangkali adalah urusan hidup mati. Tidak makan bisa menjadi jalan kematian,Namun, makan berlebihan dan tak pandang ‘bulu’ juga bisa menjadi jalan yang sama: makanan menjadi racun.

Dan ‘makan’ dalam konteks lebih luas memiliki pemaknaan serupa, keserakahan. Orang bisa bersembunyi di balik topeng masing masing untuk menampakkan wajah santun, misalnya kita ingin kaya karena bercita cita membantu orang banyak, membangun rumah ibadah, mau kebaikan ini mau itu. Meski tak semua orang seperti itu, topeng yang dikenakan yang kadang tak disadari oleh si pemakai sendiri.
Seperti juga kita harus makan, orang harus mencukupi kebutuhan dasar untuk hidupnya, harus sejahtera dulu sebelum menyejahterakan orang lain. Tapi tidak kemudian menunggu menjadi super sejahtera lalu membantu orang. Tak perlu menunggu sampai punya mobil untuk memasukkan uang duapuluh ribu ke kotak amal. Kadang semakin ‘sejahtera’ seseorang justru semakin banyak berhitung untung rugi.

Mungkin kita harus belajar lebih filosofis makna dari kalimat yang diucapkan Nabi Muhammad, ‘Makanlah jika sudah lapar, dan berhentilah sebelum kenyang’

Sebentar lagi Ramadhan selesai. Anda boleh senang, sedih, pura-pura sedih atau biasa saja seperti bulan-bulan lain berlalu. Selama puasa banyak hal yang memaksa kita untuk menahan keinginan, terkungkung. Tapi bukankah ketika kita tanpa batasan justru menjadikan kita kacau. Kalau tidak dibatasi kita mungkin akan memakan apa saja yang dirasa dari makanan tradisional sampai  junk food, yang tak jarang sesungguhnya adalah racun. Dengan puasa kita harusnya belajar, menahan untuk tidak selalu tergoda memakan makanan, meski enak sekalipun. Perut bisa menjadi sarang penyakit, jika kita tidak selektif memilih apa yang masuk ke dalamnya, bisa penyakit fisik atau penyakit ruhani.

Itu baru soal makan. Ada banyak keinginan yang harusnya belajar untuk ditekan atau ditahan. Banyak sifat yang tidak baik yang timbul dari keinginan yang berlebihan. Keinginan berlebihan dapat terlahir menjadi perbuatan yang juga berlebihan. Puasa adalah latihan untuk menahan keiginan, bahkan meski apa yang kita inginkan ada di depan hidung kita.

Tapi banyak dari kita justru menyikapi puasa dengan hal lain; memburu berbagai makanan enak untuk dinikmati saat buka, memburu pakaian dengan model-model paling baru dan populer untuk menyambut lebaran, mengisi waktu menunggu buka dan sahur menonton tayangan-tayangan tivi yang kebanyakan berisi acara duniawi meski dibungkus “baju” religi. Bahkan dengan batasan-batasan itupun kita tak mampu memahami kenapa ada batasan, kenapa kita harus menahan diri. Batasan yang seringkali dimaknai secara formal.

Jika demikian, lalu apakah setelah puasa selesai kita kemudian merasa bebas, merdeka dari batasan-batasan?

Saat ini saya tengah bereksperimen dengan aplikasi Android dan Java. Beberapa aplikasi yang sudah saya buat saya publikasikan di beberapa situs di internet. Seri aplikasi yang terakhir saya selesaikan adalah seri Sepercik Hikmah. Seri ini merupakan kumpulan beberapa tulisan lepas saya yang saya publikasikan di blog ini. Jika Anda berminat mencobanya silahkan download di mtamim.com/hikmah. Untuk versi Java sebenarnya sudah saya upload juga di beberapa tempat dan jumlah download-nya sudah cukup banyak. Yang terhitung baru adalah versi Android yang baru belakangan saya sempat pelajari

Masukan dan kritik membangun dari Anda sekalian akan sangat saya hargai. Selamat membaca

Ibadah, menurut makna leksikalnya adalah tunduk merendahkan diri, yakni tunduk dan patuh terhadap perintah Allah. Dalam kehidupan praktis sehari hari ibadah kemudian lebih dimaknai sempit sebagai seangkaian ritual. Meskipun tidak sepenuhnya salah, ibadah ritual sebenarnya hanya sebagian dari ibadah yang lebih luas. Kita seringkali memaknai ibadah hanya sekedar shalat, zakat, puasa, haji dan beberapa ibadah lain yang ada dalam fiqih. Padahal dalam ibadah ritual (mahdhah) pun sebenarnya terkandung banyak pesan untuk ibadah yang sifatnya sosial.

Ibadah zakat misalnya, tak dipungkiri merupakan ibadah yang secara langsung memiliki peranan dalam membangun masyarakat serta menumbuhkan kepedulian kepada kaum tak mampu. Jika dikelola dengan manajemen yang baik ibadah zakat ini menjadi potensi besar dalam pengentasan kemiskinan. Dalam ibadah shalat-pun yang secara ritual sepertinya hanya berhubungan antara manusia dan pencipta-Nya, sesungguhnya banyak pesan-pesan sosialnya. Keutamaan shalat berjamaah misalnya, secara tak langsung menekankan perlunya persatuan, kekompakan, kepemimpinan dan lain-lain. Bahkan kalau kita merenungkan lebih lanjut kita memulai shalat dengan takbir mengagungkan Allah akan tetapi ditutup dengan doa keselamatan untuk kanan kiri dan sesama manusia. Dalam Surat Al Maun juga disebutkan keterkaitan shalat dengan kepedulian sesama, bahkan disebutkan orang yang shalat-pun bisa celaka karena lalai dalam shalat.

Kekurang-pahaman tentang pentingnya ibadah sosial ini kadang membuat kita kurang tepat memberi prioritas. Misalnya ada orang yang berulangkali naik haji, sementara tetangga kanan kirinya banyak yang hidup susah atau tak bisa sekolah. Haji dianggap lebih utama karena perintahnya jelas eksplisit dalam Quran dan Hadits sedangkan memberi beasiswa pendidikan tak tercantum sama sekali.

Bagi seorang muslim ibadah tak hanya sekedar hubungan dengan Allah (hablum minallah) tapi juga hubungan dengan sesama (hablum minannas). Kesalehan tak hanya saleh dalam ibadah ritual, tapi juga harus saleh secara sosial meskipun perintah kesalehan sosial ini seringkali tidak tersurat secara eksplisit dalam ajaran agama.

Janganlah tertipu dengan banyaknya amal ibadah yang telah kamu lakukan, karena sesungguhnya kamu tidak mengetahui apakah Allah menerima amalan kamu atau tidak” (Hasan Al Bashri).

Mei barangkali memiliki tema besar yaitu perubahan. Bukan karena saya lahir di bulan ini sehingga menjadi momentum untuk melakukan perubahan 🙂 Mei belasan tahun lalu tak lepas dari perubahan berbangsa dan bernegara. Masih lekat di ingatan saya ketika jaman begitu otoriter, sehingga bahkan untuk menyebut sebuah nama saja harus berbisik-bisik, takut ada intel yang mendengar. Masih terbayang ketakutan dan dengkul gemetaran ketika tengah malam melewati jalanan lebar yang menjadi lorong sempit hanya setengah meter karena kiri kanan penuh dengan tentara, dengan moncong-moncong senapannya tepat dihadapan wajah atau ketika meringkuk sambil bertakbir ketakutan di imaman masjid karena polisi merangsek sampai masuk masjid menangkapi pendemo. Masih terngiang kawan-kawan berorasi di titik yang dikenal dengan sebutan Tangga Demokrasi, sambil bernyanyi lagu Darah Juang

Disini,
negeri kami.
Tempat padi terhampar luas,
samuderanya kaya raya.
Negeri kami subur, Tuan

Di negeri permai ini
berjuta rakyat bersimbah luka.
Anak buruh tak sekolah,
pemuda desa tak kerja.

Mereka dirampas haknya
tergusur dan lapar.
Bunda relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat.
Padamu kami berjanji
tuk membebaskan rakyat

Ya, tapi itu dulu, masa muda ketika kita yang melihat ketidakberesan akhirnya bersuara, protes, menuntut, marah.. Dan kini apa yang dulu diimpikan pun ternyata masih jauh panggang dari api. Kini, di satu sisi jauh lebih baik dari dulu, tapi di sisi lain jauh lebih buruk. Kini, saya dan mungkin Anda yang dulu ikut turun ke jalan bukan lagi mahasiswa. Kini saya sudah bekerja dan memiliki tanggungjawab yang harus saya emban. Negara ini memang masih banyak salah urus. Masih banyak hal yang harus dibenahi. Kini tentu bukan saatnya kita hanya bisa protes, mengumpat, berkoar-koar saja. Kita kini memiliki tanggung jawab untuk menjadi bagian dari solusi diantara ruwetnya benang kusut persoalan ini. Dan solusi ini harus kita perjuangkan sedini mungkin, meski setapak demi setapak, dengan upaya dan kemampuan kita masing masing. Meski seidh melihat kondisi sekarang ini kita tentu kemudian tak harus menyerah. Masih banyak orang baik di negeri ini dan masih banyak orang yang perduli dengan masa depan bangsa ini, entah kapan dan bagaimana saya yakin suatu ketika semuanya akan jauh lebih baik lagi.

Saya mulai merantau ketika menapak jenjang SMA. Waktu itu masih lugu sekali, anak kampung yang gerogi dengan gemerlapnya kota, takut, khawatir, galau.. Saya awalnya ditipkan dengan seorang teman saudara saya karena kosnya dekat sekolah tapi sudah penuh. Saya tidak betah dan merasa asing, mengingat tak ada orang yang dikenal disitu. Akhirnya saya ikut dengan kakak saya meski kosnya jauh dari sekolah. Koskosan kakak saya ini sebenarnya rumah lama yang lalu dijadikan kos. Bangunannya agak tua, berlantai plester, agak gelap dan serem (beberapa teman katanya pernah melihat penampakan :)). Saya paling kecil sendiri, hampir semua penghuninya mahasiswa dan aktifis. Saya tinggal kira-kira setahun dan pindah ikut kos saudara sepupu karena semua penghuni kos saya itu digusur dengan alasan mau direhab.

Kos baru saya tak kalah sederhana, rumah yang lebih tua. Sebagian dindingnya tembok, separuhnya dinding kayu sehingga jika kamar sebelah sedang mengobrol maka akan terdengar jelas. Kami juga biasa ngobrol dengan teman kamar sebelah dari kamar masing-masing :)). Meski sangat sederhana penghuni nya tak main-main. Sebelah kamar saya kuliah S2 dan konon terpintar di kelasnya dan barangkali saja bisa jadi cendekiawan terkemuka jika saja penyakit paru-paru basah tak merenggut jiwanya karena kebanyakan begadang malam untuk belajar. Kami tak punya tape atau apalagi TV dan hiburannya adalah radio-tape kamar sebelah yang ditinggali guru nyentrik yang suara dari tapenya disalurkan kabel ke kamar kami dan dipasangi salon. Praktis kami hanya bisa mendengar lagu atau apappun yang disetel kawan di sebelah. Tempat tidur yang dipakai hanya kecil, cukup satu orang padahal kalau malam bisa ada 3 sampai 4 orang yang menginap di kamar. Jadi biasanya yang paling cepat tidur dia yang dapat tempat empuk di kasur busa, yang lain tidur di karpet dengan lantai plester yang sudah berlobang-lobang dan sesekali dilewati tikus.

Tahun berikutnya saya ikut lagi dengan kakak saya, kali ini mengontrak dengan teman-temannya sesama korban penggusuran. Rumah agak tua juga, dengan kamar yang disekat-sekat dengan tripleks yang sudah bolong-bolong. Bahkan kunci kamar hampir tak berfungsi lagi karena meski pintu dikunci sekalipun kita bisa menerobos melalui tripleks yang pakunya sudah copot. Hampir sama dengan kos lama, kos yang sekarang juga rebutan tempat tidur. Yang paling cepat tidur ya dapat kasur. Soal makan minum lebih parah, karena makanan atau minuman bisa ludes dalam waktu sesaat. Dulu bahkan punya satu gelas ekstra besar untuk membuat teh atau kopi yang diminum oleh semua penghuni kos, bersama-sama dengan gelas yang sama 😀

Kira-kira setahun kemudian saya pindah dan balik lagi bersama dengan sepupu saya. Kondisi kamar masih sama dengan sebelumnya hanya saja penghuninya lebih banyak. Ada tambahan beberapa orang teman dan adik, dalam kamar yang sama 🙂  Agak lama di kos ini sampai saya lulus SMA dan kuliah, akhirnya saya pindah ke kos baru dekat kampus. Kondisi tak jauh beda, lantai yang plesteran dan dinding yang separonya tripleks. Cuman di kos baru ini saya mulai mendapat privasi, bisa tidur sendirian di kamar. Saya juga membeli TV kuno hitamputih sehingga bisa menikmati siaran berita atau film di kamar. Saya cukup lama tinggal disini sampai lulus kuliah dan bekerja. Akhirnya saya mendapat beasiswa kuliah di Bandung dan mulai merantau di kota kembang.

Di Bandung, bersama beberapa teman dari Jogja, kami mengontrak rumah. Ini mungkin tempat tinggal terbaik selama saya sekian tahun merantau. Rumah tembok yang relatif baru dan lantai keramik. Sialnya kamar yang tersedia kurang satu sehingga dibuat satu kamar yang disekat tripleks. Ketika diundi saya kebagian undian pertama yang menempati kamar tripleks itu beberapa bulan sebelum gantian mendapat kamar reguler 😀

Ketika teman teman sudah mulai lulus, saya tertinggal sendirian. Beberapa bulan saya lontang lantung sendirian menunggui dua rumah ditemani kekhawatiran kalau kalau tidak lulus, karena ketika yang lain bahkan sudah selesai saya masih belum pasti dengan judul tugas akhir saya. Saya akhirnya pindah kos ke daerah Cisitu, diajak teman sekelas saya. Alhamdulillah di sana agak ramai sehingga tidak terlalu suntuk memikirkan kuliah. Apalagi ada teman yang nasibnya sama 🙂 Kos baru ini seperti kos terdahulu saya, kamarnya bersekat tripleks dan saya di lantai atas yang lantainya kayu. Disini selain teman sekelas, saya juga mengenal beberapa teman baru yang tinggal disana, om Taufik di kamar sebelah yang meski sudah punya perusahaan sendiri dia masih senang ngekos. Ada Imam, di kamar bawah, anak kampung yang bisa tembus ITB bahkan ketika wisuda, barengan dengan saya, dia dinobatkan menjadi mahasiswa terbaik se-ITB waktu itu dan mewakili wisudawan tampil di mimbar.

Kembali ke Jogja seperti kembali lagi ke masa lalu, saya kos atau kontrak dengan kondisi tak jauh dari rumah berlantai plester sampai kini ketika berkeluarga akhirnya baru mengontrak di rumah agak bagus dengan lantai keramik yang paling bagus yang pernah saya tinggali.

Dari sekian pengalaman itu saya belajar bahwa papan tinggal itu yang jauh lebih bermakna adalah para penghuninya, bukan fisik bangunannya. Saya sendiri dengan berbagai bentuk kondisi tempat tinggal, dari yang paling sederhana sampai paling bagus tak ada perbedaan yang mendasar. Saya  terbiasa tidur di kasur busa empuk atau di lantai plester dengan beralas karpet plastik (meski sekarang harus mulai memperhatikan badan yang mulai menua sehingga mikir juga kalo tidur di lantai hehe ). Ini barangkali juga karena saya sejak kecil juga terbiasa tinggal di rumah orangtua saya yang hanya dari kayu dan berlantai batu, sampai sekarang.  Namun, dari pengalaman selama ini juga malah ketika tinggal di tempat-tempat sederhana justru menemukan teman-teman yang unik dan paling berkesan.

Hidup tentu tak selalu bertabur kemewahan, justru ketika kita bisa berbahagia dari kesederhanaan itu akan menjadikan kita menjadi orang paling kaya.

Dahulu, di kampung saya ada salah satu tradisi yang sekarang sudah tak ada, yaitu ngenger, yaitu tradisi seorang anak, biasanya dari kalangan kurang mampu, untuk ikut dengan sebuah keluarga. Banyak anak-anak seusia SMP/SMA dari desa lain yang ikut dengan keluarga-keluarga di kampung saya. Mereka ini bukan lalu menjadi seperti pembantu, karena tidak dibayar dan tidak pula diharuskan untuk bekerja. Biasanya kesehariannya membantu apa yang bisa dibantu. Untuk makan sehari-hari sama dengan keluarga lain, tidak dibeda-bedakan. Untuk tidur juga diberi kamar atau bareng dengan anak kandung dari keluarga yg diikuti. Untuk sekolah dan keperluan pendidikan juga dibiayai. Meski tak ada hubungan darah sama sekali ikatan batin dari anak-anak ini menjadi seperti keluarga sendiri, bahkan sampai setelah mereka dewasa, merantau ke kota dan punya keluarga sendiri.

Ketika era ngenger di kampung kami sudah mulai menghilang, ada tradisi lain yang mirip. Di rumah orang tua saya, kala itu, disediakan ruangan yang cukup besar, hampir ukuran separuh rumah. Jadi rumah tainggal kami disekat menjadi dua bagaian besar, satu  bagian untuk keluarga kami dan ruangan lain diperuntukkan sebagai semacam asrama/pondok bagi siswa Madrasah Aliyah yang ada di kampung saya, tak ada biaya sepeserpun. Ada banyak yang tinggal disitu, dan hampir semua adalah anak-anak kalangan menengah bawah dari desa sekitar. Beberapa tahun mereka tinggal, menjadi seperti keluarga juga. Mereka memasak sendiri tapi kadang juga makan dari apa yang keluarga kami masak. Sampai akhirnya, beberapa tahun kemudian, sekolah Madrasah itu tutup karena tak mendapat murid, salah satu yang saya sesalkan karena saya masih terlalu kecil untuk bisa membantu sekolah itu untuk eksis. Kini, para “alumni” itu sudah bertebaran, merantau, berkeluarga, berprofesi dan menjalani hidup masing-masing.

Dari mereka-mereka yang pernah tinggal di rumah kami itu masih banyak yang sesekali datang. Sekedar bernostalgia atau bersilaturahim, beberapa mengajak anak istri. Ada yang jadi PNS, ada yang punya bengkel sendiri, ada yang masih serabutan, yang sukses ataupun yang masih belum mapan, ada kisah bahagia ada juga kisah pilu. Semua diterima baik oleh bapak dan ibu saya, semua disebut sebagai “anak sendiri” tak peduli seberapa sukses atau gagalnya mereka. Banyak cerita-cerita masa lalu yang lalu mengalir, ada yang dahulu ikut membantu ke sawah untuk panen atau menanam rombongan dan akhirnya telat sekolah berombongan, ada yang kehilangan uang sampai menangis tersedu (mereka jarang pegang uang 😦 ), ada yang baru tahu dan merasakan buah korma ketika pas buka puasa mereka diberi kurma satu-satu, dan banyak lagi. Dari beberapa tradisi itu kami merasa begitu “kaya”, bukan artian harta, tapi kaya dalam sebuah persaudaraan. Dan satu hal yang saya kagumi dari orangtua saya adalah mereka begitu pintar membangun dan menjaganya. Semua itu juga karena adanya satu ruang di rumah kami, bukan saja secara fisik, tapi juga membukakan ruang hati untuk berbagi dengan orang lain.

Dan saya, ketika berangan-angan membangun sebuah rumah, selalu saja kepikiran untuk menyediakan ruang atau kamar khusus untuk nantinya digunakan mereka yang dari kampung (baik dari kampung halaman saya atau kampung lain) yang ingin bersekolah/kuliah di Jogja atau mereka yang mau mendaftar SNMPTN dan tidak punya tempat berteduh. Ada semacam kewajiban untuk menyediakan “ruang” seperti yang disediakan oleh orangtua saya itu.Entah nanti akan terwujud atau tidak wallahu a’lam.

Setiap kali mendengar atau mengunjungi teman atau saudara yang mendapat karunia berupa kelahiran maka selalu saya merasakan sebuah spirit dan harapan terpancar. Seperti sebuah fajar menyeruak memecah malam. Setiap kelahiran adalah sebuah optimisme baru saat seorang anak manusia akan menoreh sebuah sejarah bagi dunia, sekecil apapun sesederhana apapun itu. Setiap kali kelahiran baru adalah harapan dan optimisme akan adanya satu anak manusia yang akan memperbaiki dunia yang makin carut marut ini meski sekecil apapun perannya.
Ketika Anda menyadari bahwa Andalah yang suatu ketika adalah anak yang baru lahir itu juga. Anda adalah salah satu anak manusia yang spesial, tak ada duanya di jagat raya. Jika Anda suatu ketika adalah ayah atau ibu dari anak manusia yang baru lahir itu sudah selayaknya Anda mensyukuri anugerah yang melebiihi apapun segunung emas sekalipun. Syukur yang diiringi sebuah tanggung jawab untuk memastikan si anak menjadi manusia spesial yang bakal mewarnai jalan sejarah, memastikan sang fajar untuk merekah menyinari dunia.

Ada semacam tradisi di keluarga saya jika memberi nama anak laki-laki maka kebanyakan dinamai Muhammad pada nama depannya. Bagi orang tua tentu bukan tanpa maksud atau hanya karena ikut-ikutan, apalagi nama Muhammad konon adalah rekor nama yang paling banyak digunakan diseluruh dunia.

Nama adalah doa, jadi pemberian nama Muhammad kepada seorang anak tentunya tersimpan doa agar anak dapat menjadikan Nabi Muhammad sebagai teladan yang menjadi role-model nya, agar anak dapat meniru akhlak dan perilakunya.
Namun belakangan kita juga cukup tersentak, banyak tokoh dengan nama yang bagus, bahkan salah satunya ada juga nama Muhammad gencar dibicarakan media atas perilakunya. Tentu hal ini menjadi keprihatinan kita semua bahwa dengan ternyata ada orang yang menyandang nama besar Muhammad, yang memiliki arti ‘terpuji’, ternyata tak sepadan dengan perilakunya.
Walaupun demikian menurut saya kelakuan yang tidak terpuji itu tak mengurangi keagungan Nabi Muhammad. Dan sayapun tak kemudian merasa malu karena menyandang nama itu. Semoga saya dapat memenuhi doa orang tua saya dan semoga shalawat dan salam selalu tercurah kepada Muhammad Rasulullah saw.

Apakah anda sedang mencari cara untuk bahagia? Tahukah Anda bahwa ada sekitar 45 juta pencarian di Google yang mencari frasa “how to be happy” setiap bulannya. Itu baru di Google, belum di mesin pencari lain dan belum frasa sejenis dan belum dalam bahasa lain. Jadi kalau Anda sedang mencari cara untuk bahagia Anda tidak sendirian.
Kita mungkin seringkali resah, galau, dan berfikir bahwa kita adalah orang paling menderita dan tidak berbahagia di seluruh dunia. Kita mencari-cari kebahagiaan itu dimana-mana. Sebagian mencarinya di harta benda, sebagian mencarinya di ketenaran, sebagian di kekuasaan, dll. Namun tahukah Anda bahwa kebahagiaan sebenarnya tergantung pada ukuran yang ada diri kita sendiri.
Ada orang yang sangat bahagia dengan cukup naik sepeda onta, sementara yang lain masih saja merasa kurang padahal sudah mengendarai mobil. Ada yang sudah sangat berbahagia ketika makan nasi putih dengan tempe dan sambal sementara yang lain masih terus berburu makanan-makanan enak dan mahal dan tak pernah terpuaskan.
Kalau Anda tak mau baju Anda kekecilan pilihan bagi Anda adalah membeli baju baru atau menjaga tubuh agar tidak kegemukan.

Apakah harimu selalu buruk? Tiap hari dijebak macet, dikejar deadline dan tanggungan pekerjaan, nonton tivi isinya hanya politisi membual dan sinetron yang tak karuan, baca koran penuh berita tak menyenangkan, buka Facebook dan twitter isinya timeline penuh status galau dan membosankan…
Tunggu dulu, hariku selalu baru, ketika si kecil ini berulah hampir tanpa bisa diprediksi. Dari nggak mau mandi pagi tapi kalau sudah kena air nggak mau keluar dari ember. Selalu mecuri kesempatan memecahkan gelas piring, menumpah nasi dan sayur, melempar HP dan remote control,mengobrak abrik kulkas dan menginjak-injak laptop, dan di ujung hari menyisakan rumah yang bak kapal pecah. Kemudian sekejap senyap karena kini dia sudah tenggelam dalam mimpinya…

Ya,selalu baru setiap hari, setiap malam…
Selamat tidur, Nak! Sampai ketemu besok di hari baru lagi 😉

Dalam Al Quran dijelaskan bahwa orang yang bersedekah akan memperoleh balasan yang jauh berlipatganda banyak. Ibarat menanam biji benih yang lalu tumbuh menjadi 7 bulir yang setiap bulir berisi 100 biji. Sebagai orang beriman tentu kita yakin dengan janji Allah itu. Namun, dalam prakteknya saya kira kemudian ada yang menyikapi dengan kurang tepat, yaitu niat orang bersedekah.

Setiap hari setiap manusia memiliki kebutuhan untuk hidup; pangan, sandang, papan dan kebutuhan lain. Dalam memenuhi kebutuhan itu seringkali kita masih saja kekurangan, sifat dasar manusia. Dalam hitungan bisnis untuk memperoleh laba orang berusaha terlebih dahulu, mengeluarkan modal dengan harapan mendapat untung. Sudut pandang bisnis inilah yang kadang terbawa ketika kita bersedekah. Kita mengeluarkan harta untuk bersedekah dengan pengharapan laba, dianggap seperti modal. Kita bersedekah 10.000 berharap besok mendapat 100.000.

Menurut saya, sedekah adalah bentuk pengejawantahan sifat Rahman-Rahim Allah dan bentuk tanggung jawab kita terhadap sesama. Entah balasan itu langsung diterima dengan segera dan instan ataukah baru kita peroleh di akhirat adalah kehendak Allah semata. Jikasaja ada kisah orang bersedekah lalu menjadi kaya, atau rezekinya lancar itu juga hak Allah untuk memberinya rezeki. Pun jika ada orang bersedekah tapi setelah itu bisnisnya justru malah seret, usahanya lebih susah itupun juga rahasia Allah. Tidak semua balasan yang kita terima dari amal kita akan langsung kita dapat.

Untuk bersedekah hendaknya luruskan niat, jangan hanya karena hitung-hitungan ‘bisnis’ untuk ingin memperoleh lebih banyak harta lagi, tapi niat itu semata karena Allah. Jika balasan itu tak kita terima disini sekarang justru bulir-bulir imbalan akan jauh lebih berharga jika kita terima nanti, di akhirat kelak.

Bagi kawan-kawan yang tengah dirundung susah karena bisnis di dunia online sedang dalam masa sulit, jangan patah semangat!

Doa orang teraniaya katanya adalah salah satu doa yang mustajab. Apakah anda pernah merasa di posisi teraniaya? Kalau pernah lalu apa yang menjadi doa anda?

Suatu ketika saya berada di pertigaan yang padat dan macet. Saya tiba-tiba terjebak di pertigaan itu, ketika hendak menyeberang ternyata di depan saya ada mobil yang menghalangi jalan saya padahal di sisi depan kanan berlawanan arah dengan saya ada mobil yang masuk dan sedikit terhalang motor saya. Mobilnya besar dan cukup mewah dan mahal. Saya berusaha maju untuk memberi jalan tapi tak bisa bergerak karena menunggu mobil di depan saya yang masih terhenti. Mungkin hanya hitungan beberapa detik saja harusnya untuk menunggu. Tapi pengendara mobil yang terhalang oleh saya itu nampaknya tak ada kesabaran. Dia memajukan mobilnya , saya kira saya terserempet, tapi ternyata dia berbuat itu dengan sengaja, dia memajukan mobilnya lagi, saya pun terjatuh meski tak sampai parah. Saya hanya mengumpati orang itu yang begitu sombong. Tapi hanya itu saja, saya tak berani memperkeruh suasana karena malas berurusan dengan hal tak penting macam itu, apalagi terus terang saya juga takut, pengendara mobil itu berbadan kekar tentu tak sebanding dengan saya yang kerempeng, dia orang kaya saya hanya orang miskin. Di titik itulah saya merasakan rasanya di posisi teraniaya, di posisi di mana orang berbuat semaunya dan dengan sombongya dan saya tak kuasa membalas kesewenangan itu.

Saya berfikir kalau saya orang yang baik mestinya memaafkan saja orang itu, tapi saya tak sesuci itu karena, jujur saja, memaafkan yang benar-benar dari lubuk hati bukan perkara gampang. Di sisi lain, dengan posisi teraniya, doa saya mungkin saja cukup makbul, saya bisa saja mendoakan yang buruk, tapi saya juga tak mau menjadi sejahat itu. Bukan sifat orang beriman yang suka mendoakan buruk. Saya lalu berfikir lagi dengan lebih simpel, bahwa Gusti Allah mboten sare (Tuhan tak pernah tidur). Entah motif apa orang itu berbuat seperti itu, itu biarlah urusan dia dengan Tuhan. Entah Tuhan mau membalasnya dengan apa sudah bukan lagi kewenangan saya, mau dibalas buruk, lebih buruk, atau justru dibalas kebaikan, sekali lagi itu urusan Tuhan. Dengan begitu saya menjadi merasa ringan dan menganggap kejadian itu sebagai angin lalu saja.

Apa yang saya alami barangkali tak ada apa-apanya dengan mungkin jutaan orang yang lebih teraniaya, tertekan, merasa dihina dilecehkan diinjak harga dirinya, baik psikologis, mental dan bahkan fisik dan tak mampu berbuat apa-apa. Saya lalu hanya berfikir bahwa saya harusnya juga lebih hati-hati bersikap, jangan-jangan saya juga pernah berbuat aniaya dengan orang lain, dan kita tak pernah tahu orang itu lalu mendoakan apa kepada kita. Doa itulah yang harusnya kita takutkan..
Semoga kita selalu dijauhkan dan dijaga dari perbuatan aniaya..

Selamat merayakan Idul Fitri bagi kawan-kawan sekalian, baik yang merayakannya duluan maupun belakangan. Ya, kali ini lebaran kembali berbeda. Saya pribadi sebenarnya tak terlalu merisaukan perbedaan lebaran apalagi perrbedaan ini sudah terjadi beberapa kali. Yang agak berbeda sekarang adalah gaungnya yang cukup membuat sedikit prihatin. Pada waktu-waktu lalu ketika lebaran berbeda secara umum tidak ada banyak masalah. Saya kira sebagian besar umat sudah mulai menyadari perlunya penghargaan atas perbedaan ini. Saya pun tak kaget ketika pemerintah memutuskan untuk “memundurkan” lebaran sehari dan ormas Muhammadiyah tetap pada pendirian semula. Tapi ketika mulai ada suara agak miring tentang perbedaan ini dan terkesan memojokkan Muhammadiyah karena berbeda sendiri dari ormas lain saya mulai agak risau. Bukan karena saya dibesarkan di Muhammadiyah tapi hendaknya upaya untuk mempersatukan umat dengan menyamakan lebaran hendaknya tak perlu dilakukan dengan konfrontatif. Apalagi preseden akan adanya perbedaan lebaran sudah jauh hari diketahui. Dalam hal ini tentu saja pemerintah-lah yang perlu mempertemukan perbedaan-perbedaan diantara ormas, namun bukan dengan pemaksaan penyeragaman, tapi dengna dialog dan pendekatan yang tentu saja tidak serta merta. Sebenarnya upaya semacam ini pernah dilakukan oleh Jusuf Kalla ketika menjadi Wapres. Waktu itu sudah ada komitmen dari NU-Muhammadiyah untuk berdialog secara berkesinambungan soal upaya penyatuan lebaran. Sayangnya upaya ini entah kenapa akhirnya putus di tengah jalan.

Saya pribadi sebenarnya merasa bahwa soal penampakan hilal ini sebenarnya hal yang tak perlu dibesar-besarkan. Apalagi keyakinan bereda disertai dengan menyerang orang lain. Yang lebaran duluan menganggap yang lebaran belakangan sebagai berdosa karena berpuasa di hari raya, dan sebaliknya yang lebaran belakangan menganggap yang lebaran duluan berdosa karena puasanya kurang sehari. Tahun ini perbedaan makin riuh di ranah maya, khususnya di jejaring sosial. Dulu, di jaman Rasulullah, ketika mendung menutupi hilal maka puasa digenapkan menjadi 30. Saya yakin jika ternyata besoknya hilal terlihat dan ternyata sudah tanggal 2 syawal maka tak jadi persoalan. Allah tak akan membebankan dosa meski secara empirik harusnya puasa sudah berakhir sehari sebelumnya. Contoh lain diriwayatkan kesaksian seorang Badui yang melihat hilal-pun dapat diterima, meski dia bukan ahli astronomi. Ini menunjukkan bahwa perbedaan penafsiran penentuan tanggal 1 Syawal bukanlah hal yang perlu dibesar-besarkan. Meski saya berharap ke depan ada kesepakatan untuk menentukan kriteria yang sama agar tidak ada lagi kontroversi seperti ini lagi. Dan sementara masih ada perbedaan lebaran mestinya yang selalu dikedepankan adalah adanya penghargaan atas perbedaan yang ada. Perbedaan ini juga bukan soal ormas belaka.

Dan, yang unik di lebaran ini, sewaktu berkunjung atau bertemu kawan hampir selalu perbincangan awal adalah pertanyaan “lebaran kapan?” Faktanya ini hanya jadi pembuka pembicaraan tak hendak kemudian menjadi ajang saling klaim kebenaran. Saya yakin bahwa Allah akan menerima ibadah dari hamba yang dengan niat ikhlas menjalankannya.

Mohon maaf lahir batin…

Seringkali kita dengar anjuran para dai untuk selalu bersyukur atas segala nikmat, baik nikmat rezki, nikmat sehat, dan lainnya, dan yang harus paling disyukuri adalah nikmat hidayah. Hidayah Allah-lah yang menuntun kita untuk menegakkan sholat, menggerakkan kaki menuju masjid, melafalkan di lisan ayat Quran, dan banyak lagi amal perbuatan lain.

Hidayah adalah kehendak Allah untuk membuka hati kita, namun bukan kemudian kita santai-santai menunggu hidayah datang, tapi harus selalu berdoa untuk memperolehnya dan bahkan memperjuangkannya.

Dalam Surat Fatihan yang kita ulang-ulang tiap sholat, kita selalu bermohon untuk diberi hidayah, ditunjukkan ke jalan yang lurus. Tak berhenti di situ saja, dalam upaya memperoleh hidayah kita juga harus tak segan-segan menggali hikmah, terus belajar, terus berupaya agar dapat memperoleh hidayah, baik dengan amal mematuhi perintah Allah, menjauhi laranganNya, serta terus menggali ilmu untuk mendekatkan diri kepadaNya.

Jaman dahulu, Ibrahim berjuang keras mencari tuhan baik dengan akal pikiran dan hati, dengan perenungan maupun mengamati alam. Kalau kita pernah mendengar kisah Ibrahim mungkin perjuangannya tak sesederhana kisah itu, bisa jadi jauh lebih dahsyat dan berat.

Kita sekarang harusnya lebih mudah untuk mengenal tuhan, karena apa? Kita sudah diberikan manual book petunjuk yang dapat kita baca dengan lebih mudah yaitu Al-Quran. Kita diberikan contoh pengejawantahan Quran dalam kehidupan yang dapat kita tauladani, yaitu Rasulullah Muhammad.

Tinggal kita sendiri yang mau atau tidak untuk berdoa dan berharap akan hidayah itu serta berjuang berikhtiar mendapatkannya.

Mulailah lagi dengan membaca Al Quran..

Berapa jarak antara kita dengan Allah? Dalam Quran dikatakan bahwa jaraknya dekat sekali. Sehingga setiap menyeruNya maka Allah akan menjawab.

Kadang mungkin ada orang yang merasa sudah jauh dari Allah, sudah banyak dosa, banyak meninggalkan ajaran agama. Saking jauhnya maka dia merasa tak ada tempat lagi untuk kembali.

Ada semacam mental block yang menghalanginya untuk kembali kepada Allah. Sikap mental macam ini sesungguhnya tidak tepat. Kita diajarkan untuk yakin bahwa Allah akan menerima taubat, akan mengijabah doa. Anggapan bahwa Allah tak lagi sudi menerima hambaNya yang ingin kembali justru menjadikan kita semakin jauh.

Kita harus senantiasa yakin bahwa Allah Maha Kasih, Maha Pengampun, Maha Bijak.. Kita harus selalu berbaik sangka, bahwa apapun yang diberikanNya kepada kita adalah yang terbaik. Hilangkan mental block yang akan menghalangi kita mendekat kepadaNya