You are currently browsing the category archive for the ‘hikmah’ category.

Singkat atau panjang mungkin hanya persepsi. Begitupun ketika waktu menuju akhir 2013. Entah bagaimana setahun ini terasa begitu singkat, tiba-tiba saja sudah akhir Desember. Di sisi lain tahun 2013 seperti terasa amat panjang, penuh peristiwa, anugerah, cobaan dan mungkin menjadi tahun yang cukup melelahkan.

Tahun 2013 dimulai dengan segala pernik dan sukacita dengan lahirnya anak kedua kami, Kaysa, Desember 2012. Tentu saja dinamika dan segala kerepotan mendidik dan membesarkan anak pertama masih saja membuat saya terkagum-kagum dan geleng kepala, betapa setiap anak memiliki dunia dan karakter masing-masing. Kini kami mendapat amanah baru, anak kedua.

Selain pernik tentang keluarga dan hiruk pikuknya anak-anak, kami juga mulai membangun rumah. Satu demi satu batu-bata tersusun, kayu diangkat, pasir dan semen ditempel, dan genteng dipasang. Bapak-lah yang menjadi orang yang paling berjasa. Beliau rela demikian bersusah payah dari membersihkan tanah yang penuh perdu, tidur di bawah tenda, makan bersama tukang-tukang, sementara ibu menjadi juru masaknya. Tak ada yang lebih indah dari kenyataan bahwa ada sebuah cinta yang tumbuh dari orang tua yang ingin melihat anaknya bahagia seperti itu. Saya selalu terenyuh sekaligus berbahagia jika mengingatnya. Saya mungkin saja bisa membayar orang untuk membuatkan bangunan, tapi apa yang dilakukan Bapak dan Ibu tidak mungkin akan mampu saya ganti dengan biaya berapapun. Mereka tak punya banyak uang untuk membantu saya, ibu saya bahkan pernah bilang bahwa sudah tak punya uang lagi, tapi peranannya justru melampaui dari sekedar uang dan harta. Saya sempat bilang ke istri saya bahwa sejelek apapun rumah itu jadinya itu adalah rumah yang terindah, bukan oleh karena bangunannya tapi oleh cinta yang membangunnya.

Namun, ketika awal tahun 2013, beberapa saat sebelum bangunan rumah benar-benar jadi, Bapak dipanggil oleh Sang Pencipta, di pangkuan saya. Bapak bahkan tidak sempat mengantar kami untuk pindah rumah yang sudah hampir jadi, sebuah monumen yang dibuatnya, beberapa bagian bahkan dibuat dengan tangannya sendiri.

Namun hidup harus terus berlanjut. Hari demi hari hampir diwarnai sesuatu yang baru, beruntun, terus menerus. Dari soal pekerjaan kantor, yang biasanya dibawa-bawa sampai rumah, dikerjakan sampai tengah malam atau hari-hari libur, sampai soal-soal keluarga, terutama, sekali lagi soal anak. Hampir setiap hari ada saja yang membuat takjub, heran, senang, tapi terkadang juga dongkol, sedih, semuanya berjalin berkelindan bercampur baur. Saking banyaknya hampir tak ada waktu untuk menulis atau bahkan mengingat-ingat apa saja yang sudah terjadi, setiap hari.

Tarik ulur antara pekerjaan kantor dan urusan membesarkan anak menjadi bagian yang tak habis-habisnya, meski terus terang kalau diminta memilih, saya akan memilih keluarga menjadi nomor satu.

Dan memang, tidak mudah menjadi orang tua, dan jika ingin belajar maka langkahnya mirip seperti belajar berenang, nyemplung-lah ke kolam dan belajarlah. Atau seperti belajar naik sepeda, genjotlah pedalnya dan belajarlah. Setidaknya saya ingin paling tidak seperti Bapak dan Ibu yang begitu total memberikan semua kepada kami, anak-anaknya, tanpa pamrih.

Kini, di tengah rintik maupun deras, hujan bisa saja dirasakan sebagai anugerah, bisa sebagai halangan, bahkan musibah. Namun, sejatinya apa yang tercurah dari langit adalah anugerah yang sudah diatur sedemikian rupa, ada yang menyenangkan hati atau mungkin membuat sedih bahkan luka. Semua sudah diatur untuk membuat kita lebih matang dan dewasa menjalani hidup dan pada gilirannya menyiapkan kehidupan ke depan yang lebih baik.

Bagaimanapun semua harus selalu disyukuri. Semoga 2013 yang super-duper padat dan melelahkan ini akan menjadi hikmah dan berbuah manis.
Selamat Tahun Baru 2014 dan selamat menikmati rinai hujan.

Advertisements

Doaku
Di tengah target pekerjaan yang menimbun, hari ini seperti benar-benar libur, nyaris tak ada progress, meski laptop seharian, bahkan sepertinya sejak semalam tidak mati, tapi nyaris tanpa mengerjakan apapun…
Oh, tidak, sejak semalam keluarga saya datang, entah sudah keberapa kian kali. Hanya untuk bersua, tak ada kepentingan lain. Tapi bagi saya, itu adalah kepentingan yang maha penting. Tak ada pembicaraan-pembicaraan serius, tapi berkumpul, phisically, adalah lebih bermakna dari segala diskusi atau keseriusan apapun. sejak dulu, bagi saya, momen berkumpul sepenuhnya adalah sebuah kemewahan, dan menjadi begitu sangat-sangat mewah sejak kepergian bapak. Waktu menjadi demikian berharganya sehingga hal hal lain seperti tidak terlalu penting, tak terkecuali pekerjaan atau lemburan.
Malam ini semua sudah pulang lagi, dan dengan bertepatan dengan malam Nishfu Sya\’ban doa saya semoga kami dipertemukan lagi, semoga dipertemukan dengan Ramadhan, semoga kelak dipertemukan dengan bapak, semuanya semoga dengan keadaan yang lebih baik.

Beberapa waktu lalu saya tiba-tiba tersentak ketika mengobrol ringan dengan bapak. Bukan soal topik yang dibicarakan, tapi saya tiba-tiba saja memperhatikan rambut bapak sudah hampir memutih semua, sudah jarang dan merontok. Saya seperti baru tersadar, bapak sudah tua. Begitupun kemudian ketika melihat ibu, sudah tidak sesehat dulu dan juga rambut memutih dan merontok. Dan tiba-tiba saja terfikir betapa banyak yang telah beliau berikan, kasih sayang yang mungkin nyaris tanpa batasnya. Sedang apa yang saya berikan kepada mereka tak akan pernah sebanding.

Kini bapak sudah tiada, kadang masih saja berurai airmata jika mengenangnya. Ibu sudah mulai sering sakit-sakitan, barangkali karena juga sering teringat bapak. Dan saya, masih saja dikejar perasaan risau tentang apa yang sudah saya berikan kepada mereka.

Tidak mudah menjadi orang tua. Itu ungkapan yang mungkin sering kita dengar yang barangkali tak akan dapat benar-benar dipahami sampai kita mengalami sendiri, menjadi orang tua. Dan ini  berlaku juga bagi saya.
Dulu kita mungkin banyak hal yang tidak kita setujui dari orangtua kita. atau banyak keinginan yang tidak dapat atau tidak mau dipenuhi orang tua. Kita lalu merasa bahwa orangtua kita bukan yang terbaik atau penilaian lain. Itu masa lalu. Ketika kita berkeluarga, dan memiliki anak tentu baru berasa sulitnya menangani anak. Terlebih lagi kalau anak kita ini cukup cerdas dan kreatif. Saya dan istri sudah beberapa waktu ini cukup kewalahan menangani Affan, entah sejak mulai usia berapa saya lupa, selalu saja ada tingkah polahnya. Sudah tak terhitung berbagai barang menjadi korban eksperimennya, dari gelas piring sampai HP dan laptop. Beberapa waktu terakhir mulai mereda, tapi sejak kehadiran adiknya ternyata timbul lagi. Ada ada saja keinginannya yang polahnya yang menuntut kesabaran sangat tinggi. Untuk menghadapinya harus bukanhal yang mudah. Tak ada tindakan jitu yang benar-benar ampuh baik yang hagus sampai yang agak keras. Hukuman atau punishment tidak ada yang efektif.
Salah satu cara yang kadang manjur adalah tidak menanggapi sama sekali jika dia berulah. kadang lama-lama dia akan minta maaf sendiri. Tapi cara ini hanya untuk menyetop sesuatu yang dia minta. AKan lebih sulit jika kita ingin dia melakukan sesuatu, misalnya makan apalagi berangkat sekolah, tentu tak bisa dengan metode “pembiaran” tadi. Kali ini metode yang sejauh ini paling efektif adalah dengan negosiasi dan bargaining.

Ada banyak hal yang dapat dinegosiasikan sehingga ada cukup alasan yang masuk akal baginya. Ini sangat sulit dan perlu kreatifitas lebih. Affan punya ingatan yang cukup kuat dan cukup lihai untuk memanfaatkan informasi dalam negosiasi. Ada saja hal baru setiap pagi yang menjadi alasan untuk tidak berangkat sekolah atau aktifitas sebelumnya; bangun pagi, sarapan, mandi. Setiap pagi harus ada ide baru untuk menjawab atau membujuk. Dari yang paling gamblang, dijanjikan beli permen Yupi, sedikit ditakut-takuti, atau sampai ultimatum. Dan tak ada satu metode pun yang cespleng untuk membuatnya takluk. Jika ada pasar malam, dia ditawarin dulu lihat meski kita tahu kalau siang hari pasti tutup, itu dipakai membujuk, diajak dulu lewat loaksi, ternyata tutup baru ke sekolah. Besoknya dia alasan sekolah libur (hadeh) lalu saya bilang ya udah kita lihat ke sekolah apa libur apa tidak, kalau libur nanti kita pulang lagi. Tentu ia tak berkutik dan “terpaksa” berangkat, saya pun segera ajak naik motor sebelum dia punya ide lain. Dan ada 1001 hal lain yang kadang saya “kalah” dalam negosiasi. Seperti pagi ini, akhirnya saya tak ada lagi “amunisi” tersisa apalagi sudah mulai siang dan akan telat ngantor. Ya sudah saya berangkat kantor, mudah-mudahan ibunya berhasil membujuk.
Dan memang, tidak mudah menjadi orang tua..

Hidup dan waktu untuk menjalaninya barangkali memang sangat mahal. Beruntunglah kita yang dapat menjalani hidup dan memanfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya.  Siang itu, hanya beberapa saat saja, saya makan siang dengan Bapak, dan mengobrol ringan tentang beberapa hal. Sebelumnya Bapak masih mengimami shalat Dhuhur di masjid. Tak menyangka bahwa itu adalah waktu-waktu yang indah di hari terakhir beliau. Yang membuat saya agak menyesal adalah ketika Shalat Asar saya ketiduran dan tidak berangkat ke masjid sehingga melewatkan shalat Asar terakhir bersama Bapak, walau belakangan saya baru tahu kalau Asar itu Bapak meminta Paman saya untuk menggantikan menjadi imam.

Tak ada yang menyangka bahwa kesempatan yang diberikan Allah untuk Bapak ternyata hanya sampai awal malam di hari itu. Ketika sore Bapak terjatuhsetelah mandi setelah sesaat pulang dari masjid, waktu itu bahkan tubuh beliau sudah kaku dan sudah tak bernafas lagi , Kami sangat kaget, cemas dan tentu saja panik. Saya dan keluarga menuntun membaca kalimah thayyibah meski Bapak sudah diam dan kaku. Tak dinyana satu satu nafas Bapak mulai muncul meski agak berat. Kemudian lisan sedikit demi sedikit mengucap “La ilaha illallah” dengan suara yang tidak jelas. Lama lama kalimah thayyibah yang diucapkan semakin jelas. Dan Bapak kembali sadar. Waktu itu kembali bapak merasakan nyeri di punggung yang beberapa hari sebelumnya sudah dirasakan menandakan bahwa kesadaran Bapak sudah pulih. Kami agak lega dan mencari anggota keluarga lain yang belum ada. Waktu itu adik saya belum pulang.

Tak disangka-sangka sepertinya kesadaran dan detik terakhir Bapak yang hanya beberapa jam itu memang diberikan Allah sebagai “bonus” bagi Bapak untuk berpamitan kepada kami. Tak ada yang menyangka Bapak pergi secepat itu, karena tidak sampai dua menit Bapak mencari ibu dan paman (yang saat itu tak ada disampingnya), Bapak telah tiada untuk selamanya, insyaallah dengan dimudahkan Allah. Saat itu dalam hati saya sempat meminta kepada Allah, jika saja ada anugerah rezeki dunia yang dijatahkan ke saya, jika boleh, untuk digantikan dengan kembalinya Bapak di antara kami. Walau setelah itu saya sadar, emas segunung-pun tak akan mampu membayar kehidupan walau hanya beberapa detik saja. Dan tentunya bonus waktu beberapa jam, sore itu sudah demikian berharganya untuk kami, ibu dan semua anak-anak,  berkesempatan mengantarkan Bapak pergi.

Semua hanya kepunyaan Allah semata, siapapun tak akan dapat menghalangi jika sang Pencipta memang menginginkan, tak juga tangis, jabatan dan kekayaan, semua tak ada artinya. Kepergian orang yang kita cintai pasti akan membuat sedih dan kehilangan besar, tapi yang tak kalah penting adalah menjaga cinta untuk keluarga dan orang-orang yang dicintai yang saat ini masih ada.

Entah bagaimana rasanya ketika banyak perasaan yang tercampur aduk ketika mengetahui salah satu orang yang kau cintai kemudian pergi, untuk selamanya. Hal itu yang saya alami. Kesedihan tak terkirakan tapi juga ada rasa bahagia, kehilangan yang besar tapi juga keiklhasan, entah apa lagi.
Baru beberapa jam dan beberapa menit sebelumnya saya berbincang dengan Bapak, dan dalam waktu yang tak terlalu lama kemudian ia pergi selamanya.

Ketika muda barangkali sebagian besar kita cukup angkuh untuk ingin hidup mandiri tanpa bantuan siapapun termasuk orang tua. Tapi semakin lama perasaan angkuh itu seperti sebuah kebodohan saja, setidaknya seperti yang saya alami. Bahkan ketika saya mulai hidup dari penghasilan sendiri, kuliah dengan biaya dari beasiswa, atau apapun hal lain yang harusnya membuat pembenaran akan keangkuhan bahwa kita dapat hidup mandiri. Semakin hari semakin saya merasakan bahwa saya tak bisa lepas dari bayangan bapak dan ibu saya. Ketika semakin “berumur” baru saya menyadari betapa besarnya kecintaan mereka. Banyak hal yang telah diberikan oleh mereka baik yang kasat mata (perhatian, materi, pelukan, dll) dan banyak hal lain yang tak pernah kita sadari, doa-doa yang selalu mereka panjatkan setiap waktu.

Bapak bagi saya adalah sosok penyayang. Bapak bukan tipe yang ingin dilayani dan tidak mau membebani orang lain, bahkan kami, anak-anaknya. Justru sebaliknya, bapak selalu berupaya melayani kami, ingin selalu membantu apapun kesulitan kami. Semakin sepuh bapak malah semakin berusaha membahagiakan kami, dengan segala upaya. Beliau habis-habisan membantu saya maupun kakak untuk membangun rumah yang ideal bagi kami, beliau sendiri tinggal di rumah kayu yang sejauh ingatan saya tak pernah berubah sejak saya lahir.
Karena bukan orang yang kaya, bapak tak memberikan banyak uang dan materi, tapi memberikan kami banyak cinta, hal yang kemudian saya sadari sebagai pemberian yang tak tergantikan oleh harta apapun. Semakin lama semakin besar cinta yang saya rasakan hingga hari-hari terakhirnya.
Dan entah kekuatan apa yang membawa saya pulang mendadak pagi itu, sekedar berbincang singkat adalah kesempatan yang Allah berikan bagi saya sehingga syukur tak terkira karenanya. Dan detik-detik terakhir ketika Bapak menghadap-Nya, tepat dihadapan saya yang hanya mampu berdoa dan mengusap keringat di dahi, pipi dan wajahnya sertqa menuntun membaca Asma Allah. Akhirnya Bapak kembali kepada Sang Pencipta dengan damai.

Bapak telah pergi selamanya namun cinta itu selalu lekat di hati kami semua. Hati ini mungkin menjadi terasa hampa dan kosong, tapi di sisi lain ada rasa ikhlas karena semua bukan milik kita. Tak hendak terus-terusan menangisi kepergiannya, karena itu tak akan berarti apapun. Yang saya berharap adalah Allah meringankan lisan dan hati kami untuk dapat mendoakan Bapak dan Ibu.
Dan sepanjang jalan ketika mengantar jenazah Bapak ke tempat peristirahatan terakhir, menyaksikan tubuh itu diturunkan ke liang lahat, ditutupi tanah, sedikit demi sedikit, kembali seperti mengingatkan sekali lagi bahwa Bapak benar-benar telah pergi selamanya. Lailahaillallah, Semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Sedih ketika ditinggalkan, tapi syukur dapat mengantar kepergiannya dengan damai, rasa menyesal karena selama ini belum banyak membahagiakan, dan beragam perasaan mengaduk-aduk. Namun kami sebagai anak sudah ikhlas melepas, sudah ridho bahwa sebagai seorang ayah telah menunaikan tugasnya lebih dari yang kami butuhkan. Tak banyak warisan harta tapi warisan cinta Bapak melebihi segalanya. Engkau mungkin tak akan tahu berapa besar engkau mencintai dan dicintai seseorang sampai kemudian ia meninggalkanmu.
“Hai jiwa yang tenang (muthmainah)! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai! Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah ke dalam syurga-Ku…”
(Al-Fajr: 27-30)

Berdoalah kepada-Ku niscaya akan aku ijabah (perkenankan) (QS 40:30)

Banyak diantara kita begitu mengagungkan apa yang kita miliki, apa yang kita bisa, apa yang kita kuasai. Kita mungkin memiliki uang yang lebih dari cukup untuk membeli apa saja, memiliki otak pintar yang dapat menyelesaikan masalah apa saja, punya segalanya di dunia. Terkadang tanpa sadar bahwa sebenarnya kita cukup pongah bahwa apa yang ada di kita ini semuanya hanyalah karena belas kasih dari Allah. Kita kadang terlalu pongah bahwa seolah-olah dengan daya upaya sendirilah kita membangun kesuksesan, mampu mengumpulkan banyak harta karena keahlian dan kepintaran kita tanpa perlu bantuan orang lain bahkan kadang menyepelekan peran Tuhan dan malah “menuhankan” ikhtiar. Kita seringkali lupa berdoa karena sudah sedemikian percaya dirinya dengan ikhtiar.

Berdoa sesungguhnya bukan sekedar ‘meminta’ dimana kita mungkin akan merasa tidak perlu berdoa jika kita sudah merasa cukup. Misalnya kita sudah merasa kaya dan banyak uang sehingga kita tak perlu berdoa meminta rizki atau merasa sehat perkasa, mampu menjaga hidup yang higienis, rajin olahraga sehingga tak perlu berdoa untuk kesehatan. Doa sesungguhnya adalah menunjukkan bahwa kita adalah makhluk lemah tak berdaya meskipun secara fisik kita seolah-olah mampu berbuat apapun untuk mewujudkan keinginan. Doa bukanlah ikhtiar atau usaha agae keinginan terpenuhi. Ibarat mau mengambil buah di pohon, doa bukan upaya menggoyang dahan supaya buah jatuh, tapi memohon belas kasih pemilik pohon.

Doa ibarat tabungan, meski doa tak segera dikabulkan sebenarnya ia adalah tabungan untuk keperluan lain yang mungkin tidak kita perhitungkan sebelumnya. Ibarat anak kecil yang selalu minta jajan, keinginannya itu kalau selalu dipenuhi mungkin suatu ketika ia akan memiliki tabungan cukup untuk membeli sepeda, ketika saatnya tiba. Jika setiap saat ia membeli jajan maka ketika kebutuhan penting lain tiba-tiba ada di hadapan tabungannya sudah habis karena tidak dipersiapkan.

Begitupun dengan doa, ketika semua doa langsung dipenuhi barangkali kita malah sudah tak punya tabungan lagi, apalagi jika kita jarang berdoa. Jika Anda rajin berdoa untuk ditambah rizki dan ternyata tidak segera dipenuhi, barangkali saja doa itu akan diijabah lain waktu atau diganti dengan cara lain, misalnya harusnya Anda itu sakit keras dan akan butuh banyak biaya untuk berobat dan rizki yang harusnya kita terima ‘tunai’ diganti dengan badan yang sehat.

Jadi meski doa kadang tidak semuanya segera diijabah teruslah berdoa karena ijabah itu bisa jadi akan ada di lain waktu maupun lain wujudnya.

(Pada kesempatan ini saya mohon doa untuk Ayah saya yang sakit syaraf di tulang belakang sehingga kesulitan bangun dan agak terganggu penglihatan sehingga agak kesulitan sholat jamaah dan membaca Quran)

Singapura terkenal sebagai negara kecil yang kaya dengan peringkat GDP perkapita urutan ke 5. Namun kekayaan tidak berbanding lurus dengan kebahagiaan. setidaknya itu tercermin dalam survei Gallup. Singapura tercatat sebagai negara paling rendah dalam tingkat kebahagiaan penduduknya yakni hanya 46%, masih di bawah Irak dan Afghanistan (50% dan 55%).

Dalam penelitian itu terungkap bahwa negara-negara paling bahagia justru di kawasan Amerika Latin. Padahal kawasan itu bukanlah kawasan negara kaya bahkan beberapa termasuk berbahaya, karena konflik atau perdagangan narkotika.

Indonesia sendiri menempati urutan 19 dengan 79% responden mengaku bahagia dan positif. Beberapa bulan lalu Indonesia malah menempati posisi teratas menurut IPSOSS Global.

Kalau Anda menjadi responden penelitian kebahagiaan ini, apa yang akan Anda jawab?

http://internasional.kompas.com/read/2012/12/23/11521788/Survei.Warga.Singapura.Paling.Tidak.Bahagia.di.Dunia

http://us.dunia.news.viva.co.id/news/read/292723-indonesia–negara-paling-bahagia-sedunia

Salah satu yang membuat saya risau dengan perkembangan teknologi informasi salah satunya adalah membanjirnya informasi dan kedewasaan kita dalam memilah dan memilih informasi. Ada salah satu analogi bagaimana kita mengkonsumsi informasi ini adalah seperti minum air dari air terjun yang deras. Kita mungkin melewatkan banyak air yang terbuang dan tidak terminum dan yang lebih parah adalah kita juga akan menelan mentah-mentah banyak air yang kita tak sempat dan tak mampu memilih (dan merasakan) mana air yang bersih atau tidak. Berbeda dengan ketika meminum seteguk air dari gelas di saat dahaga.
Saya pernah menulis tentang pentingnya memilih informasi dari sumber yang terpercaya, terutama jika dikaitkan dengan keimanan. Saya agak terkejut mengingat ternyata sebagian besar pembaca memahami maksud saya dengan keliru. Beberapa bahkan memberi komentar yang bernada menghujat dan di luar konteks yang saya bicarakan. Dan itu tak perlu saya tanggapi dengan serius. Sebagian pembaca lain memberi komentar yang kurang lebih adalah biarlah orang mendapat informasi yang salah dari sumber yang salah tapi informasi tersebut dapat memperkuat keimanan. Saya terus terang tak sepakat. Informasi yang terkait dengan keimanan justru harus berasal dari sumber yang benar-benar valid dan terpercaya. Dalam sejarah kita akan menemukan bagaimana upaya memperoleh validitas informasi tentang sunnah (ucapan dan perbuatan Rasulullah) misalnya, melahirkan ilmu-ilmu yang terkait dengan upaya menentukan suatu hadits apakah dalam kategori mutawatir atau shahih yang dapat menjadi pegangan ataukah hadits itu dhaif (lemah) atau bahkan tertolak (munkar). Kalau ada ulama hadits, setelah melalui tahapan kajian yang benar dan berpendapat bahwa suatu hadits dianggap sebagai palsu, tertolak dan tidak valid akan dengan serta merta dianggap kafir karena berpendapat demikian?
Dalam dunia dengan informasi yang membanjir seperti sekarang ini memilih informasi yang valid bukan perkara mudah. Setiap orang dapat dengan mudah membuat dan menyebarkan informasi dengan sangat mudah, terutama di ranah media sosial. Ada satu contoh kasus yang dapat kita renungkan. Beberapa waktu lalu ada salah satu figur publik yang mendukung salah satu calon di Pilkada kemudian menyebarkan informasi bahwa calon saingan tidak layak dipilih karena orang tuanya adalah non-muslim. Ingat, Saya tak berbicara soal pilkada-nya tapi dengan statemen “non-muslim” tersebut. Dalam Islam, menuduh muslim lain sebagai kafir adalah tuduhan sangat serius. (Tapi saya juga tak akan membahas hal ini). Setelah diklarifikasi dan ternyata informasi yang disebarkannya itu salah, figur publik tadi dengan nada berkelit mengatakan bahwa informasi yang didapatnya itu valid, yaitu sudah diperbincangkan luas di internet dan biasanya yang sudah beredar di internet itu adalah kebenaran. Saya cukup terhenyak bahwa statemen seperti itu dikeluarkan oleh seorang figur publik yang notabene ucapan-ucapannya akan berdampak luas.
Ada lagi informasi visual ditambah komentar dan berita yang beritanya juga beredar cukup luas yaitu tentang pembantaian Suku Rohingnya di Burma. Meskipun konflik di sana benar adanya tapi informasi yang beredar kadung salah dan memancing reaksi yang berlebihan. Beberapa foto yang menunjukkan pembantaian di Burma itu ternyata hanya rekayasa. Salah satu foto yang beredar adalah foto ketika beberapa pendeta Budha mengevakuasi korban bencana alam. Foto lain adalah foto tentang korban pesawat di salah satu negara di Afrika. Keduanya terlanjur beredar luas di internet dengan informasi provokatif sebagai sebuah pembantaian berlatar kebencian antar agama. Saya sekali lagi tak mengatakan bahwa peristiwa di Burma itu tidak ada, saya hanya menekankan kepada berita/foto yang tidak bertanggungjawab tersebut. Kebencian sudah terlanjur tersebar dari berita yang tidak valid.
Dua contoh tadi menurut saya perlu menjadi renungan kita apakah dengan informasi yang salah dari sumber yang salah akan memberi dampak yang baik? Atau akankah kita akan membiarkan orang lain dalam ketidaktahuan dengan berpikir bahwa itu baik bagi mereka dan dengan mengabaikan kerugian bagi orang lain (yang bisa jadi menjadi korban fitnah dari informasi yang tidak benar)?
(Lain kali insyaallah saya akan menulis tentang penyebaran informasi yang tidak benar yang pernah terjadi di masa Rasulullah dan sempat menimbulkan kekisruhan sampai akhirnya menjadi penyebab turunnya salah satu ayat Al Quran)

Berangkat tarawih ke mesjid terkadang menjadi hal yang merepotkan. Affan biasanya akan merengek minta ikut. Giliran sampai di masjid tak ayal sukanya membuat keributan atau berlarian kemana-mana, atau bermain di tangga yang cukup tinggi yang menuju lantai dua. Ya, meskipun perlu sejak dini mengenalkan agama termasuk ke masjid, tantangannya adalah ketika anak menjadi tak terkendali. Dan itu bukan satu dua kali. Setiap ke masjid akan menjadi perjuangan tersendiri. Tahun lalu bahkan Affan sempat merubuhkan pembatas jamaah putra-putri ketika shalat berlangsung. Untuk tidak menimpa siapapun karena pembatas yang rubuh berada di posisi belakang yang kosong. Masih banyak tingkahlaku lain yang seringkali sulit diprediksi.
Bagi saya pribadi kelakuan anak yang demikian sebenarnya menjadi tantangan orang tua untuk bertindak lebih arif dan tentusaja ekstra sabar. Namun, menghadapi tipe anak yang agak sulit dikendalikan juga tak semudah yang diomongkan. Kunci utama adalah menghadapinya dengan kepala dingin dan tidak ikut terbawa emosi. Meski sekali dua kali agak jengkel karena tingkahnya itu, saya pribadi berusaha keras untuk tidak secara verbal atau fisik memberikan respon yang berlebihan. Pernah sesekali misalnya dengan mencubit. Karena ketika mau tidur dia bermain smackdown meloncat dan menubruk perut saya, dan dilakukan berkali-kali. Nah, ketika mendekat saya sudah siap-siap mencubit. Ternyata itu malah membuatnya makin semangat. Cara fisik ternyata gagal total. Kadang dengan verbal, dengan kata “nggak boleh” yang bagi dia sudah seperti tidak ada maknanya.
Hal yang paling saya hindari adalah men-judge/menghakimi. Konon menyebut anak sebagai “nakal” ketika misalnya sedang jengkel karena anak sudah dinasehati, justru malah seperti sebuah dorongan kepada anak menjadi yang diomongkan tadi, ucapan menjadi doa. Dan menjaga ucapan kita ketika kondisi seperti itu juga tidak mudah. Saya teringat akan sebuah kisah dari tanah Arab. Suatu ketika seorang ibu memasak roti yang enak. Persis ketika roti sudah matang masih hangat dan baunya harum dan siap disantap, seorang anak kecil yang merupakan anak ibu tadi datang. Tiba-tiba anak ini mengambil pasir dan menaburkannya di roti hangat yang sudah dibuat oleh si ibu tadi. Si ibu tentu saja jengkel. Ibu tadi lalu berteriak “Pergi kamu, biar kamu menjadi Imam Haramain”. Sekian tahun kemudian si anak menjadi Imam Masjidil Haram. Beliau adalah Syeikh Abdurrahman as-Sudais.

Saya sendiri apabila mendapati kelakuan anak yang tak terduga itu selalu berpikir positif bahwa anak ini kreatif sekali. Mbahnya yang kadang merasakan betapa susahnya menghadapi si kecil selalu ‘mengeluh’-nya adalah “ini anak memang pintar” sampai-sampai membuat orang dewasa kewalahan. Dengan begitu kita sendiri juga tidak stres menghadapinya. Kadang apa yang diingini anak kita penuhi kadang juga kalau perlu, ditolak, meski dia akan menangis sekeras apapun. Sebagai pembelajaran baginya bahwa tidak semua keinginan itu dapat terpenuhi.
Namun, ketika saya sembunyi-sembunyi mau menghidupkan motor untuk berangkat tarawih, Affan ternyata tahu. Dia sudah di depan pintu menangis keras-keras. Melihatnya berkalung sajadah kecil, menggamit sarung dan memakai peci yang kebesaran itu saya tidak tega juga. Akhirnya saya ajak tarawih dan seperti biasa, ia membuat keributan di masjid lagi.

Dalam hidup kita pasti akan selalu menengok keluar dan kedalam diri kita, atau sebaliknya. Manusia senang membanding-bandingkan antara satu dengan lain, yang baik maupun yang buruk. Sifat sifat membandingkan itu kadang menimbulkan sifat tidak baik. Kalau ada orang berbuat jahat, barangkali akan kita nilai diri kita ‘lebih baik’ lalu sedikit banyak menjadi sombong. Kalau melihat orang lain senang, mendapat rezeki misalnya, kadang membuat kita tumbuh rasa iri.

Suatu ketika ada seorang bertanya kepada ustad: “Ustad, bagaimana saya mengatasi perasaan iri, orang tua saya lebih memperhatikan kakak-kakak saya, lebih mencukupi mereka. Tapi kenyataannya saya malah lebih mapan sementara kakak-kakak saya malah belum.”

Penanya ini sepertinya bertanya tapi sebenarnya jawabannya sudah ada dalam pertanyaannya itu sendiri. Penilaian dan pembandingan kita terhadap orang lain, yang menjadi sebab ke-iri-an kita seringkali sangat subjektif. Mungkin hampir semua anak akan menilai orangtuanya tidak adil sehingga menyebabkan iri terhadap saudaranya dan bahkan menjadi kebencian ke orang tua. Kita mungkin tak pernah tahu pertimbangan orangtua dalam menyikapi anak-anaknya karena jauh tersimpan di lubuk hati. Bisa saja anak yang satu dipandang lebih lemah sehingga lebih membutuhkan dukungan. Dalam kasus di atas justru malah terbukti kalau si penanya ternyata lebih mapan, lebih kuat menghadapi hidup. Dan jikalaupun benar orang tua memberikan kasih sayang atau perhatian yang berbeda bukankah hal itu tidak menjadi pembenar untuk benci? Kalau memang demikian anggaplah itu juga hak prerogatif orang tua yang harus dihormati. Bukankah jasa orangtua juga jauh lebih besar? Lagipula kalau diri kita lebih mapan bukankah tanggung jawab kita juga untuk membantu saudara kita yang masih kesulitan.

Iri hati hanya akan menggerogoti jiwa kita. Lihatlah sekeliling, tetangga, teman, dari hari ke hari ada saja yang berpotensi membuat iri. Gaji besar, mobil baru, rumah baru, seolah olah membuat kita semakin lama semakin kecil, tertinggal, lalu menjadi minder, rapuh, sakit hati, atau apapun yang membuat kita lebih menderita jika kita melihatnya dari sisi negatif. Kita seringkali lalu lari dari kenyataan. Keinginan untuk harta lebih, menyaingi kawan atau tetangga membuat apapun dilakukan.
Iri sebenarnya berasal dari persepsi dan sudut pandang kita sendiri. Kalau kita selalu berpikir dan bertindak positif maka insyaallah penyakit iri tak akan tumbuh. Jika kita selalu bersyukur dengan apa yang kita peroleh bahkan ikut bersyukur dan ikut berbahagia dengan apa yang diperoleh teman, tetangga atau saudara, maka iri hati tak akan pernah terpikirkan.

Suatu ketika Rasulullah menunjukkan bahwa ada seorang shahabat yang disebutkan sebagai ahli syurga. Seorang shahabat lain, Abdullah bin Amr bin Ash menjadi penasaran. Ia lalu ‘membuntuti’ shahabat yang disebut sebagai calon penghuni syurga tadi, bahkan sampai ikut selama 3 hari 3 malam menginap dirumahnya karena ingin tahu amal apa yang diperbuat. Abdullah tak melihat ada amal yang istimewa, bahkan tak dilihatnya pula shahabat tadi bangun malam untuk sholat tahajud misalnya.

Saking penasaran Abdullah bertanya kepadanya;”Amal apakah gerangan yang kamu lakukan sampai kamu mencapai tingkatan itu, yang kami tidak mampu lakukan?”

Shahabat itu menjawab: ”Tidak ada amalan apa-apa yang istimewa kecuali yang kamu lihat, hanya saja aku tidak punya rasa benci dan iri dengki kepada salah seorang pun dari kaum muslimin yang dikaruniai Allah kebaikan”.

Angka 500 mungkin bukan angka istimewa, bukan angka hoki atau angka keramat. Ya, hanya kebetulan saja. Tulisan ini, sesaat setelah tombol Publish berwarna biru, adalah tulisan yang ke 500 yang terbit di blog ini. Banyak? Sedikit? Entahlah. Sejak pertama kali menulis di blog ini saya tak pernah menghitungnya. Huruf demi huruf mengalir begitu saja. Kata demi kata bertebaran begitu saja. Waktu-waktu terlalui begitu saja.

Ada salah satu yang membuat saya tergerak untuk menulis. Kata Ali, ilmu itu bak binatang buruan yang kita tangkap, dan tulisan adalah tali pengikatnya. Saya termasuk orang yang cukup pelupa. Saya seringkali menuliskan apa yang saya lihat, dengar, rasakan, pikirkan, supaya itu semua tak lari begitu saja. Selain itu apa yang saya tulis juga dapat dibaca orang lain sehingga barangkali akan bermanfaat juga.

Saya sejak kecil senang menulis, meski tak terpupuk karena tidak tahu bagaimana memupuknya. Seperti pohon akhirnya dia hanya tumbuh sendiri, seadanya. Hasrat menulis ini mungkin karena saya juga senang membaca. Sayangnya masa kecil saya juga tak cukup memiliki bacaan yang cukup bagi saya. Ini membuat saya selalu ingin mengajarkan ke banyak anak-anak sekarang tentang dunia kepenulisan dengan segala manfaat dan sukadukanya. Dan ini pernah saya lakukan di kampung, meski kini berhenti. Dengan sedikit banyak bergelut di dunia maya saya tahu betul bahwa kemampuan menulis (dalam bahasa lebih luas adalah kemampuan berekspresi) adalah keahlian kunci yang sangat fundamental. Sayang di pendidikan sekarang tak banyak diperhatikan. Suatu ketika saya ingin membangun sebuah sekolah kepenulisan yang diintegrasikan dengan profesionalisme di dunia teknologi global seperti internet hehehe… Jujur saja, di dunia dengan persaingan keras seperti ini satu-satunya senjata yang dipunyai anak-anak kampung sederhana adalah pena. Dan pena yang tehubung ke dunia global adalah senjata yang keampuhannya menjadi berlipat-lipat seperti bom nuklir yang efeknya berantai-rantai..

Saya tak terlalu risau apakah tulisan-tulisan saya akan banyak dibaca atau dikomentari orang. Tentu saja saya senang jika ada feedback dari pembaca karena itu adalah salah satu “sumber energi” untuk menulis lagi, tapi itu bukan utama. Apalagi saya termasuk blogger penyendiri yang jarang berkunjung atau blogwalking. Hanya berkomentar jika perlu saja, itupun sangat jarang. Barangkali karena saya juga tak punya banyak waktu untuk itu. Jumlah kunjungan juga tak terlalu membuat risau, apakah sedikit atau banyak, naik atau turun. Biarkan saja begitu adanya. Tak peduli apakah tulisan-tulisan itu bisa menjadi uang atau hanya menjadi sampah digital, seperti naskah skripsi yang dibuat begadang sekian bulan dan tahun dan berakhir menjadi pembungkus nasi kucing di angkringan. Tapi setidaknya masih ada manfaatnya bukan?

Saya tak apa jika yang membaca tulisan saya segelintir saja, tapi harapan saya tulisan-tulisan ini dapat bertahan sampai bertahun ke depan, 10, 25, 50, 100 tahun atau entah sampai generasi kapan nanti, atau sampai teknologi internet tergusur oleh revolusi teknologi lain atau malah hilang karena katastropi atau invasi alien (lebay banget ya:D)

Dan lagi-lagi tulisan ke 500 ini bisa dianggap banyak atau sedikit, ada manfaatnya atau hanya kericau yang tak berujung. Dan sebelum kericau saya melebar kemana-mana dan kopi susu di meja kerja sudah hampir habis serta mempertimbangkan listrik yang dihimbau bapak presiden untuk dihemat maka saya segera saja klik tombol Publish dan menghabiskan sisa kopi susu.

Bagi sebuah bangunan, fondasi adalah komponen yang sangat vital. Kekuatan fondasi melandasi kekuatan bangunan sehingga bisa tahan terhadap goncangan dan krisis. Tidak hanya bangunan dalam arti fisik tapi juga tentang hidup.
Hari-hari ini kami cukup disibukkan dengan langkah awal membangun rumah setelah sekian waktu dapat membeli tanah, dari hasil menabung dan juga pinjaman. Awalnya tak terpikir akan memulai kapan dan bagaimana mengingat sisa tabungan mulai berkurang dan tak mungkin lagi mengajukan pinjaman baru. Tiba-tiba dapat kabar dari rumah kalau bapak dan ibu akan datang dan memulai untuk membantu membangun fondasi.
Keluarga saya bukanlah keluarga yang berlebih secara materi sehingga saya pun tak pernah meminta bantuan finansial. Namun, mereka memiliki ikatan yang erat sehingga apa yang menjadi kebutuhan kami juga menjadi kebutuhan mereka, apa kesulitan kami juga akan dicarikan solusinya. Sebenarnya saya berkeinginan membangun rumah sendiri, meski entah kapan. Soal uang dan tabungan saya pikir bisa dicari, meski tak dapat semudah dan secepat membalik telapak tangan. Membangun rumah sendiri mungkin akan jadi kebanggaan, semacam menjadi sebuah monumen kemandirian. Apalagi hampir semua orang yang pernah muda akan merasakan semacam “kesombongan” bahwa kita dapat hidup mandiri tanpa bantuan orang lain, termasuk orangtua dan keluarga. Bahwa tanpa mereka pun kita bisa mencari makan, mencari penghasilan dan membuat rumah. Tapi itu dulu. Kini seiring waktu saya justru mulai merasakan dan menilai dengan agak beda. Meski dalam hati ada keyakinan bahwa nantinya kami dapat mewujudkan membangun rumah dengan usaha sendiri, entah kapan, tapi keinginan bapak dan ibu dan keluarga untuk membantu saya nilai lain. Bukannya saya menganggap itu sebagai semacam intervensi, keinginan memanjakan, atau mau turut campur dalam kehidupan saya. Sama sekali tidak.

 

Terkait dengan “kesombongan” untuk mandiri, ada semacam perasaan harus mengalah bahwa bapak dan ibu tentu juga memiliki keinginan untuk juga membangun “monumen” agar nantinya kami akan mengenang sampai kapanpun. Di titik ini “monumen kemandirian” saya harus rela mengalah untuk “monumen cinta” dari orang tua. Egoisme saya untuk menjadi “mandiri” harus dikesampingkan.
Dan ketika fondasi ini terbentuk, meski baru fondasi, ada banyak sekali yang ikut memikirkan dan merasakan prosesnya. Kami, terutama istri saya, merancang desain dibantu kawan-kawan. Kami juga menyiapkan material yang sebagian harganya sudah meroket. Sebagaian material lain dicarikan oleh bapak saya sekaligus mengkordinasi tukang dari kampung yang sebagian besar adalah orang-orang dekat juga. Kayu untuk kusen dan atap dicarikan dari tegalan nenek saya di kampung oleh saudara-saudara di rumah, digarap oleh mertua kakak saya yang kebetulan profesinya juga tukang kayu. Ibu saya menyiapkan perlengkapan makan dan tiap hari memasak lauk dan sayur sedang nasi dimasak sendiri oleh para tukang. Biaya untuk tukang saya ambilkan dari uang yang berputar-putar, dari awalnya uang yang dipinjam paman saya yang butuh biaya, saya pinjamkan melalui bapak , dan beberapa waktu lalu dikembalikan ke saya, belum sempat ditabung langsung dipakai membayar tukang. Sebagian lagi adalah gaji bulanan dari Google yang baru sempat saya cairkan..
Banyak hal membuat saya harus banyak bersyukur. Saya katakan kepada istri saya bahwa sejelek-jeleknya nanti rumah kami kalau nanti jadi, saya akan menganggapnya sebagai yang paling indah. Karena sesungguhnya keindahan itu tidak dibentuk dari desain fisik yang mewah tapi jauh lebih indah ketika itu semua dibangun dengan fondasi cinta, kehangatan dan kasih sayang keluarga. Sesuatu yang saya sadari mungkin tak dimiliki banyak orang.

Apa yang terjadi waktu jumatan nampaknya hampir seragam, kalau tidak mengantuk ya pikiran melayang kemana mana.Ini juga berlaku bagi saya. Saya tak hendak menyalahkan siapapun, apalagi khatib. Ini sudah menjadi sebuah kebiasaan kita semua, yang tentu saja kurang baik.

Sholat jumat sebenarnya seperti sebuah analog ketika batre jiwa kita mulai drop setelah seminggu dipakai habis habisan dan perlu dicharge lagi, sehingga kita lebih semangat lagi dalam beribadah maupun menjalani hidup yang makin sulit ini. Harusnya usai jumatan adalah saat ketika energi kita full dan berkobar kobar siap berjuang, berperang dan mengorbankan apa saja, termasuk nyawa. Tentu saja ‘perang’ kali ini tak harus menghunus pedang atau dengan bom, karena musuh dan senjatanya juga lain. Boleh jadi perang kita melawan kebodohan sehingga mengobarkan semangat untuk mendidik. Barangkali perang kita adalah perang melawan ide negatif sehingga mendorong kita lebih giat menulis ide positif.

Ya, jumatan sebetulnya memiliki potensi yang strategis. Sayang potensi itu masih menjadi potensi terpendam.

Kadang satu tindakan kecil dapat berimbas jauh lebih besar dan lebih luas serta mempengaruhi banyak orang, bahkan seringkali tanpa disadari. Tindakan itu bukan hanya dapat dilakukan pejabat pengambil keputusan saja, dan itu hal yang wajar karena dia memang sebagai pemimpin, tapi bisa jadi tindakan serupa dilakukan oleh satu orang iseng dan tak bertanggungjawab. Ambil contoh kasus pencurian alat pendeteksi kegunungapian di Tangkuban Perahu yang bahkan sampai membuat petugas penjaga gunung api meninggal karena mengejar pencuri itu. Sungguh prihatin masih ada saja orang yang tega merusak dan mencuri alat sepenting itu, yang bisa jadi mempengaruhi ke banyak orang. banyak kasus serupa kita jumpai di tempat lain, misalnya pendeteksi tsunami yang belum lama dipasang ternyata sudah raib. Entah apa yang ada di pikiran orang yang mencuri itu.
Dulu, saat Merapi meletus juga ada saja orang iseng yang melakukan jamming jalur komunikasi sehingga frekuensi tak dapat digunakan. Tak tahu apa tujuannya. Padahal jalur komunikasi ini adalah tulangpunggung penyebaran informasi yang berurusan dengan hidup-mati banyak orang. Kalau yang mencuri alat deteksi gunung api atau tsunami masih bisa diperkirakan alatnya untuk dijual, barangkali si pencuri memang tak punya uang, tapi pelaku jamming jelas tak punya motif ekonomi. Barangkali memang orang itu tak punya motif dan lebih karena ‘sakit.’
Di luar negri ada juga kisah keisengan yang mengakibatkan kerusakan tak bernilai. Salah seorang gadis iseng ceroboh bermain api dan dalam beberapa jam sebuah pohon yang konon terbesar di dunia dan berumur ribuan tahun, dikenal dengan nama Senator, hangus dalam sesaat.
Sekali lagi motif tindakan orang orang ini mungkin macam-macam dari iseng, ceroboh, kebutuhan perut, atau karena sakit. Kalau dalam kriteria manusia menurut Ghazali manusia itu ada yang wajib, sunnah, mubah, makruh atau haram. Entah mereka itu masuk kriteria mana.
Jadi hati-hati dalam semua tindakan kita. Segala sesuatu mungkin tak bisa bermula dari hal kecil, tapi hal kecil bisa jadi dapat memulai hal-hal besar, entah baik atau buruk.

Saya pulang sudah maghrib dan itu hampir setiap hari. Seringkali terbersit rasa bersalah kepada anak karena waktu berinteraksi menjadi sangat terbatas. Beruntung anak saya biasa tidur agak malam sehingga masih cukup waktu bermain sebentar atau menemani nonton tivi. Ini biasanya lalu diikuti polah tingkah macam-macam ketika mulai bosan. Permintaannya lalu mulai bermacam-macam dan jika tidak dituruti maka mulai berulah dari melempar barang, membanting atau menginjak-injak (ini termasuk barang yang penting seperti laptop). Hampir tiap malam kami harus berjuang menghadapi si kecil ini. ketika semakin malam biasanya dia tidur dengan cepat jika memang sudah maunya. Dan sekejap suasana mendadak senyap, menyisakan rumah berantakan.

Dan kali ini ketika si kecil sudah lelap dan saya pun sudah capek dan mengantuk terdengar mobil di sebelah baru pulang. Disusul terdengar suara Si ibu mengucap salam kepada keluarganya. Saya mendadak terenyuh. Keluarga, utamanya si kecil di rumah tentu sangat menunggu. Suaminya terkena stroke dan cukup parah. Anak-anaknya masih kecil, paling besar SMA. Betapa beban si ibu ini menjadi tulangpunggung keluarga, baik dari sisi ekonomi maupun sebagai nahkoda pengendali rumah tangga. Semoga Allah memberi kekuatan kepada para ibu-ibu perkasa ini.
Saya lalu menengok sebelah, anak dan istri sudah lelap, terbersit pikiran betapa berharganya karuniaNya, karena meski kami bukan orang berlebih dalam hal harta, keluarga yang semua sehat tak kurang suatu apa jauh lebih berharga dari harta benda. Dan itu menjadikan hati menjadi begitu kaya.

Keyakinan diri sangat berpengaruh besar bagi kesuksesan. Bagaimana mau sukses jika kita sendiri tidak percaya diri dan ragu pada yang yang kita lakukan.
Jika Anda juga mengalami itu sesungguhnya itu wajar saja, yang menjadi penentu adalah bagaimana langkah kita jika tingkat kepercayaan diri itu ternyata rendah.
Seringkali ketika membandingkan diri dengan orang lain yang menurut kita lebih sukses, menganggapnya lebih segalanya, semua tentang keberhasilannya itu, dari kita, dan kita lalu membayangkan kegagalan kita di masa lalu atau kelemahan yang kita punya. Ini semakin membuat kita berfikir negatif dan selalu menyalahkan diri sendiri. Kita dengan tak sadar tengah mencari pembenaran untuk tidak percaya diri.
Lalu bagaimana sebaiknya? Untuk membangun mental attitude dan kepercayaan diri alangkah baiknya kita justru fokus secara positif ke diri sendiri. Ingatlah semua keberhasilan-keberhasilan yang pernah anda raih, bahkan di masa-masa sulit dan dulu rasanya kita hampir seperti mustahil untuk kita lalui. Lihatlah bahwa Anda punya kekuatan tersendiri, punya keunikan yang tidak dimiliki siapapun. Berpikirlah positif bahwa setiap langkah yang akan anda tempuh pasti akan membuahkan hasil yang menjadikan Anda selangkah lebih maju.
Setiap orang pasti akan pernah menemui saat ketika keyakinan akan diri sampai pada titik terendah, termasuk saya. Dan ketika saya merasa sudah terpuruk itu biasanya saya akan berkata dengan diri sendiri, “Hei, Kamu sudah melakukan banyak hal yang hebat, sudah berhasil melalui banyak masa-masa yang lebih sulit. Jadi tak ada alasan untuk menyerah atau berpikir bahwa Kamu tak akan mampu melakukan lebih baik lagi.”


Pak Walikota Whoville, Ned, terperangah memandang ke angkasa. Suara yang tadinya dikira main-main itu ternyata memang benar. Suara yang mengaku sebagai seekor gajah bernama Horton yang berbicara melalui cerobong. Horton berkata bahwa dunia Whoville yang ditempati Ned dan warganya itu tak lebih dari sekedar setitik debu yang menempel di sebuah bunga dan kini dipegang oleh Horton. Ini menjawab pertanyaan Ned sebelumnya dimana kondisi alam di Whoville berubah drastis.
Ini adalah salah satu adegan di Film Horton Hears The Who. Meski hanya film kartun ternyata film ini sarat dengan filosofi. Ned dan Horton, keduanya sama-sama dicemooh warganya karena menyampaikan sesuatu yang menurut nalar umum adalah mustahil dan gila. Ned dicemooh ketika mengatakan kepada warganya kalau dunia yang mereka tempati hanyalah setitik debu dan kini debu itu sedang dalam masalah besar karena sedang dalam posisi tidak aman dan bisa musnah kapan saja.
Di sisi lain, Horton dianggap gila oleh teman-temannya karena ia mempercayai bahwa ada kehidupan dalam sebuah debu. Dia dipaksa untuk percaya bahwa debu itu hanyalah debu. “Apa yang tidak dapat kamu lihat, dengar dan rasakan maka itu tidak ada,” Kata Kangaroo, tokoh antagonis di film ini. Namun Horton tetap pada pendirian dan keyakinannya untuk menyelamatkan debu dan segenap penghuninya. “Manusia tetaplah manusia, sekecil apapun dia,” kata Horton. Maka Horton pun menghadapi seluruh penghuni hutan Nool karena dianggap meracuni pikiran anak-anak. Tapi dengan sepenuh hati dan mempertaruhkan nyawa Horton tetap berusaha menyelamatkan Whoville.
Film ini sesungguhnya ingin menyampaikan pesan universal tentang penghargaaan terhadap sesama seperti tampak pada kepahlawanan yang unik dari gajah lugu, Horton dan juga ingin menyampaikan pesan bahwa apa yang kita ketahui sejauh akal kita tanpa kita sadari sesungguhnya sangat terbatas. Kita mungkin tak menyangka bahwa banyak hal yang diluar kemampuan kita yang tidak ketahui, mungkin dunia yang sangat kecil seperti Whoville atau seperti yang dikatakan Horton kepada Kangaroo,”Bagaimana jika dunia yang kita tinggali ini sebenarnya hanyalah setitik debu dan ketika ditemukan seseorang yang sangat besar dan berkata pada temannya bahwa di debu itu ada kehidupan, dan temannya itu pasti menertawakannya.” Apa yang tidak kita lihat, dengar dan rasakan tidak mengindikasikan bahwa itu tidak ada, itu lebih karena kita memang tidak atau belum mengetahuinya. Dan ketika di ranah itu maka hanya keyakinan-lah yang dapat menjangkaunya. Kita tak pernah melihat, mendengar dan merasakan Tuhan secaar fisik, tapi kita yakin keberadaanNya. Keyakinan yang tentu saja tak seharusnya mudah goyah karena cemoohan atau bahkan ancaman.
Film yang diadaptasi dari novel Dr. Seuss ini menjadi salah satu film yang sayang dilewatkan. Dan, pertanyaan saya, seperti pertanyaan Horton, bagaimana jika bumi yang kita tinggali ini sesungguhnya adalah hanya setitik debu, mengapung rapuh di angkasa raya.

Steve Jobs hampir menjadi seperti sebuah legenda di dunia IT. Lahir dari ibu biologis yang masih muda, belum menikah Steve Job lalu tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga yang mengadopsinya. Perjuangan hidupnya tak mudah mengingat orangtua adopsinya juga bukan orang berkecukupan bahkan untuk dia masuk ke universitas harus menghabiskan tabungan orangtuanya itu. Bahkan ketika kuliah pun ternyata dia harus mengambil keputusan besar, drop out, padahal untuk kuliah itu dia harus menghabiskan harta orangtuanya. Tapi memang itu sebuah keputusan besar yang terbaik. Karena DO Steve Jobs akhirnya mengambil kelas non reguler, yaitu kelas kaligrafi. Tapi inilah kemudian yang menjadi awal sejarah baru yang kemudian menjadi sangat fenomenal yaitu komputer Apple.
Ini adalah bagian dari pidato Comancement of Speech dari Steve Jobs di Stanford yang begitu memukau mengisahkan hidupnya (transkrip pidato ini dapat dibaca disini). Hal yang menjadi inspirasi dari seorang Steve Jobs ini menurut saya salah satunya adalah semangatnya untuk memberi perubahan kepada dunia. Apa yang dilakukan, karya yang dia hasilkan tak lagi hanya bertujuan mencari uang, tapi sebuah semangat untuk memberikan perubahan positif bagi dunia. Membuat apa yang tadinya tak mungkin menjadi nyata. Dari tangan Steve Jobs ini lah keluar perangkat-perangkat yang tak hanya sebagai produk yang memudahkan hidup, tapi juga karya seni yang indah dan elegan.


Dan ketika hari ini tersiar, kabar Steve Jobs meninggal masih saja menggemparkan meski sudah lama dia berjuang melawan kanker pankreas.  Dunia pantas kehilangan seorang inspirator abad ini. Sebuah perjalanan hidup seorang manusia yang panjang berliku dan akhirnya berhenti di satu titik.
Sebuah ungkapan dari Steve Jobs yang akan selalu terngiang:
“Jika hari ini adalah hari terakhir dalam hidup saya, akankah saya mengerjakan apa yang ingin saya lakukan hari ini ?”

RIP, Steve Jobs…

 

Kata yang keluar dari lisan ibarat panah yang lepas dari busur. Kadang kita tak mampu mengendalikan jika dia sudah melesat, dia bisa melukai bahkan membunuh, bahkan bisa jadi balik melesat menuju kita sendiri.

Anda mungkin tak bermaksud sungguh-sungguh, atau hanya iseng dan main-main saat mengeluarkan kata. Tapi dari yang sekedar iseng itu bisa menjadi masalah besar. Dengan kata orang bisa tersinggung, dan bila dia merasa harga diri sudah dilecehkan apapun bisa terjadi.

Kata bahkan mungkin tak hanya menyinggung, yang masuk telinga turun ke hati, kata bisa jadi lebih dari itu. Kata adalah doa yang orang bilang jika ada malaikat mengamini apa yang terucap, baik atau buruk, bisa saja menjadi kenyataan meski tadinya hanya berkelakar.

Saya punya teman yang memiliki pengalaman buruk soal ini. Suatu ketika kawan saya ini punya usaha yang berkembang sangat pesat. Keadaan seperti di atas angin, serba lancar dan mudah. Suatu ketika dia berucap bahwa selama ini jalannya begitu dilancarkan tuhan, jadi katanya, yangsaya kira tak sungguh-sungguh, sekarang dia menunggu cobaan Nya. Sungguh apa yang kemudian seperti antiklimaks. Cobaan demi cobaan datang berturutan, usahanya bubar, dikejar banyak oorang, bahkan sampai dia kemudian memulai lagi dari nol, menikah, dan cobaan terus saja tak henti sampai akhirnya dia pergi entah kemana…(mudah mudahan Allah memberinya jalan).

Jadi ingatlah, kata bukan sekedar kata, dia bisa jadi obat, bisa jadi senjata pembunuh. Kata adalah doa yang dapat suatu ketika terkabulkan. Maka jagalah setiap kata terucap, sedapat mungkin hanya kata kata yang baik dan bermanfaat yang senantiasa terucapkan di lisan atau tertulis dengan pena atau ketukan keyboard. Jagalah dia sebelum melesat tanpa kendali.

Membangun sesuatu yang belum pernah ada bukanlah sesuatu yang gampang. Membangun rumah, misalnya. Kita harus mampu membayangkan seperti apa rumah itu, berapa kamar, berapa lantai, pondasinya bagaimana, bahan bangunannya pakai apa, dsb. Kita memerlukan bayangan lalu dibuat sketsa dan desain, dihitung kebutuhan materialnya, dst. Tanpa mempunyai gambaran akan sesuatu yang akan dibangun maka rumah itu akan sulit terwujud dengan baik. Itulah visi.

Bicara lebih luas lagi, lebih dari 66 tahun yang lalu, para pendiri republik ini tak hanya membangun rumah ukuran petak kecil, tapi sebuah negara yang besar. Diperlukan visi negarawan yang benar-benar mampu memimpikan sebuah bangsa yang merdeka dengan jutaan kepala, ribuan pulau, luas yang jauh membentang. Saya selalu saja terkagum dengan perjuangan pemimpin-pemimpin visioner masa lalu, Sukarno, Hatta, Syahrir, dan banyak lagi di masa itu.

Namun sayang, seiring usia bangsa ini yang semakin menua justru banyak visi pendiri negara ini dibelokkan. Semakin lama justru makin memprihatinkan. Ketika masa kemerdekaan kita kaya akan pemimpin berkualitas, sekarang kita justru krisis, nyaris tak punya pemimpin yang punya clear vision ke depan. Kita berjalan sekenanya, tanpa panduan, tanpa arahan, sendiri-sendiri.

Di saat orang muda diharapkan menjadi pemegang estafet kepemimpinan baru yang lebih jernih dan segar, di saat sama generasi \\\’pemburu rente negara\\\’ dari kalangan muda malah makin merebak dan semakin vulgar. Jangankan meneruskan membangun \\\’rumah bangsa\\\’ yang dirintis susah payah, justru malah menggerogoti sendi dan fondasinya demi kepentingan perut.

Meski begitu, kita tak hendak untuk apatis. Jalan ke depan masih panjang. Di tengah tempaan masa yang berat ini harapannya akan lahir pemimpin yang tangguh, memiliki karakter, memiliki visi, dan benar benar seorang negarawan sejati. Mudah mudahan muncul dalam beberapa tahun ini, atau belasan tahun lagi, atau kita perlu lebih sabar lagi,.. Dirgahayu Republik Indonesia

Mental korup barangkali memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari koruptor. Karena sudah menjadi mental maka apapun mungkin sudah tak ada gunanya untuk menghalanginya berbuat korupsi. Gaji dan fasilitas yang dilipatgandaKan? Tak selalu mempan. Hukuman yang berat? Di kamus koruptor ini sudah ada dan disiapkan sogokan untuk penegak hukum. Mau dipenjara? Paling cuma sebentar dan formalitas. Bahkan ancaman dosa dan neraka? Bisa jadi dengan mental korupnya koruptor sudah menyiapkan ‘sogokan’ untuk tuhan juga. Taruhlah dia korupsi sekian milyar, lalu sebagian hasil korupsi itu dibuatkan mesjid mewah dan sedekah. Dia mengira dengan begitu dosa korupsinya terampuni.

Jangan heran kalau buron koruptor itu memiliki nama ‘islami’, di wawancara fasih menyebut salam, dan tertangkap di negri nun jauh di sana masih setia beribadah puasa..

Kita tak hendak menghakimi siapapun tentang ibadahnya diterima atau tidak, tapi minimal di mata kita kesalehan tak hanya diukur dari hal ritual tapi juga kesalehan sosial, serta kesalehan-kesalehan lain yang lebih nyata. Ibadah tak hanya ritual dan berhenti di masjid, justru di luar mesjid, di dunia nyata, ibadah kita akan diuji. mental kita yang sesungguhnya akan nampak disana.

Kita diciptakan oleh Allah swt tak lain adalah untuk beribadah kepadaNya. Ibadah tentu saja dapat bermacam-macam dari ibadah mahdhah yang telah ditentukan ritualnya sampai ibadah dalam arti luas yakni keseharian kita.
Ibadah bermakna menyembah juga bermakna pengabdian. Sebagai mahluk yang dicipatakan dan jika ingin memenuhi kehendak pencipta maka kita tentu harus mematuhi apa yang disuruh, menjauhi yang dilarang. Kalau ditanya ibadah kita untuk siapa, pasti jawabnya untuk Allah. Kalau ditanya ibadah kita untuk apa, maka coba tanya lagi ke hati kecil. Ibadah memang ada iming-iming pahala dan syurga. Ibadah tertentu ada keutamaan akan diperlancar rezeki. Sholat dan puasa dapat membuat fisik menjadi sehat dan sebagainya. Itu hanya hikmah ataupun fadhilah.

Tapi kalau tujuan ibadah kita hanya sebatas itu tentu saja esensinya masih belum mengena, apalagi tujuan-tujuan yang dicari masih bersifat duniawi; harta, pangkat, dll. Kita tentu melakukan sesuatu bukan karena iming-iming, seperti anak kecil yang diminta bantuan orangtuanya dan dijanjikan permen. Bagi anak yang cinta orang tuanya apa yang disuruh pasti dilakukan suka hati, bahkan meski tanpa imbalan apapun, semua dilakukan karena cinta. Ibadah yang sejati tentu tak berharap rezeki berlimpah, kedudukan tinggi, enteng jodoh, atau tujuan-tujuan kecil. Ibadah sejati dilakukan karena cinta, untuk membalas cinta, untuk mendapatkan keridhaan Allah semata.

Mana lebih penting, proses atau hasil? Sebagian orang mungkin akan mementingkan hasil karena itulah yang terlihat nyata. Sebagian menganggap penting proses karena itu yang harus diusahakan, masalah hasilnya seperti apa yang penting sudah berusaha. Kenyataannya keduanya sama pentingnya, dan itu berlaku juga dalam ibadah.
Dalam ibadah kita tentu harus memperhatikan proses dengan rinci. Sholat misalnya, kita harus suci dulu, harus tahu dan sesuai syarat dan rukun, proses dan runtutan harus benar. Tapi, apakah itu saja cukup? Tentu tidak. Ibadah tidak berhenti di proses ritual yang kering. Sholat tak hanya membekas di dahi yang hitam tapi membekas di hati dan tercermin di perbuatan. Sholat harus mewujud ke dalam hasil menjadikan kita meningkat ke jenjang lebih mulia. Jadi proses itu penting tapi jangan sampai kita berkutat di sana terus menerus, kita harus terus mengevaluasi proses dan melangkah lebih maju lagi.
Dan hasil ibadah yang sesungguhnya hanya akan kita tahu setelah kita nanti bertemu Sang Pencipta, apakah amal ibadah kita diridhai atau hanya sia-sia..
Semoga Allah selalu meridhai..

Manusia tempatnya salah dan dosa. Tak seorangpun di dunia ini yang tak pernah satu kalipun melakukan kesalahan. Namun, kenyataan ini bukannya membuat kita lalu terus menerus melakukan kesalahan. Sebagai orang beriman maka apabila kita sadar telah berbuat salah maka kita harus kemudian bertaubat. Allah begitu sayangnya terhadap manusia sehingga jika kita bertaubat dan kembali ke jalanNya maka Allah-pun begitu gembira menerima kita. Lebih gembira dari seorang yang kehilangan unta di padang pasir panas yang lalu mendapati untanya kembali.
Ketika kita bertaubat dan menarik diri dari berbuat salah maka konsekwensi dari apa yang pernah kita lakukan tidak bisa hilang begitu saja. Apa yang telah kita perbuat, apakah itu baik atau buruk bakal mendapat konsekwensinya. Jadi kalau kita pernah berbuat salah maka konsekwensinya akan tetap ada meski kita telah berhenti berbuat salah yang kita kenal sebagai dosa. Agar kita tidak kemudian menanggung konsekwensi itu maka kita diperintahkan untuk beristighfar, memohon ampunan atas dosa-dosa kita.
Jadi jika menyadari berbuat kesalahan maka kita harus segera bertaubat dan meminta ampunan atas dosa, baik dengan diwujudkan dengan lisan atau dengan peraku dan perbuatan.
Allahumma astaghfiruka wa atuubu ilaika…