Singkat atau panjang mungkin hanya persepsi. Begitupun ketika waktu menuju akhir 2013. Entah bagaimana setahun ini terasa begitu singkat, tiba-tiba saja sudah akhir Desember. Di sisi lain tahun 2013 seperti terasa amat panjang, penuh peristiwa, anugerah, cobaan dan mungkin menjadi tahun yang cukup melelahkan.

Tahun 2013 dimulai dengan segala pernik dan sukacita dengan lahirnya anak kedua kami, Kaysa, Desember 2012. Tentu saja dinamika dan segala kerepotan mendidik dan membesarkan anak pertama masih saja membuat saya terkagum-kagum dan geleng kepala, betapa setiap anak memiliki dunia dan karakter masing-masing. Kini kami mendapat amanah baru, anak kedua.

Selain pernik tentang keluarga dan hiruk pikuknya anak-anak, kami juga mulai membangun rumah. Satu demi satu batu-bata tersusun, kayu diangkat, pasir dan semen ditempel, dan genteng dipasang. Bapak-lah yang menjadi orang yang paling berjasa. Beliau rela demikian bersusah payah dari membersihkan tanah yang penuh perdu, tidur di bawah tenda, makan bersama tukang-tukang, sementara ibu menjadi juru masaknya. Tak ada yang lebih indah dari kenyataan bahwa ada sebuah cinta yang tumbuh dari orang tua yang ingin melihat anaknya bahagia seperti itu. Saya selalu terenyuh sekaligus berbahagia jika mengingatnya. Saya mungkin saja bisa membayar orang untuk membuatkan bangunan, tapi apa yang dilakukan Bapak dan Ibu tidak mungkin akan mampu saya ganti dengan biaya berapapun. Mereka tak punya banyak uang untuk membantu saya, ibu saya bahkan pernah bilang bahwa sudah tak punya uang lagi, tapi peranannya justru melampaui dari sekedar uang dan harta. Saya sempat bilang ke istri saya bahwa sejelek apapun rumah itu jadinya itu adalah rumah yang terindah, bukan oleh karena bangunannya tapi oleh cinta yang membangunnya.

Namun, ketika awal tahun 2013, beberapa saat sebelum bangunan rumah benar-benar jadi, Bapak dipanggil oleh Sang Pencipta, di pangkuan saya. Bapak bahkan tidak sempat mengantar kami untuk pindah rumah yang sudah hampir jadi, sebuah monumen yang dibuatnya, beberapa bagian bahkan dibuat dengan tangannya sendiri.

Namun hidup harus terus berlanjut. Hari demi hari hampir diwarnai sesuatu yang baru, beruntun, terus menerus. Dari soal pekerjaan kantor, yang biasanya dibawa-bawa sampai rumah, dikerjakan sampai tengah malam atau hari-hari libur, sampai soal-soal keluarga, terutama, sekali lagi soal anak. Hampir setiap hari ada saja yang membuat takjub, heran, senang, tapi terkadang juga dongkol, sedih, semuanya berjalin berkelindan bercampur baur. Saking banyaknya hampir tak ada waktu untuk menulis atau bahkan mengingat-ingat apa saja yang sudah terjadi, setiap hari.

Tarik ulur antara pekerjaan kantor dan urusan membesarkan anak menjadi bagian yang tak habis-habisnya, meski terus terang kalau diminta memilih, saya akan memilih keluarga menjadi nomor satu.

Dan memang, tidak mudah menjadi orang tua, dan jika ingin belajar maka langkahnya mirip seperti belajar berenang, nyemplung-lah ke kolam dan belajarlah. Atau seperti belajar naik sepeda, genjotlah pedalnya dan belajarlah. Setidaknya saya ingin paling tidak seperti Bapak dan Ibu yang begitu total memberikan semua kepada kami, anak-anaknya, tanpa pamrih.

Kini, di tengah rintik maupun deras, hujan bisa saja dirasakan sebagai anugerah, bisa sebagai halangan, bahkan musibah. Namun, sejatinya apa yang tercurah dari langit adalah anugerah yang sudah diatur sedemikian rupa, ada yang menyenangkan hati atau mungkin membuat sedih bahkan luka. Semua sudah diatur untuk membuat kita lebih matang dan dewasa menjalani hidup dan pada gilirannya menyiapkan kehidupan ke depan yang lebih baik.

Bagaimanapun semua harus selalu disyukuri. Semoga 2013 yang super-duper padat dan melelahkan ini akan menjadi hikmah dan berbuah manis.
Selamat Tahun Baru 2014 dan selamat menikmati rinai hujan.