Tidak mudah menjadi orang tua. Itu ungkapan yang mungkin sering kita dengar yang barangkali tak akan dapat benar-benar dipahami sampai kita mengalami sendiri, menjadi orang tua. Dan ini  berlaku juga bagi saya.
Dulu kita mungkin banyak hal yang tidak kita setujui dari orangtua kita. atau banyak keinginan yang tidak dapat atau tidak mau dipenuhi orang tua. Kita lalu merasa bahwa orangtua kita bukan yang terbaik atau penilaian lain. Itu masa lalu. Ketika kita berkeluarga, dan memiliki anak tentu baru berasa sulitnya menangani anak. Terlebih lagi kalau anak kita ini cukup cerdas dan kreatif. Saya dan istri sudah beberapa waktu ini cukup kewalahan menangani Affan, entah sejak mulai usia berapa saya lupa, selalu saja ada tingkah polahnya. Sudah tak terhitung berbagai barang menjadi korban eksperimennya, dari gelas piring sampai HP dan laptop. Beberapa waktu terakhir mulai mereda, tapi sejak kehadiran adiknya ternyata timbul lagi. Ada ada saja keinginannya yang polahnya yang menuntut kesabaran sangat tinggi. Untuk menghadapinya harus bukanhal yang mudah. Tak ada tindakan jitu yang benar-benar ampuh baik yang hagus sampai yang agak keras. Hukuman atau punishment tidak ada yang efektif.
Salah satu cara yang kadang manjur adalah tidak menanggapi sama sekali jika dia berulah. kadang lama-lama dia akan minta maaf sendiri. Tapi cara ini hanya untuk menyetop sesuatu yang dia minta. AKan lebih sulit jika kita ingin dia melakukan sesuatu, misalnya makan apalagi berangkat sekolah, tentu tak bisa dengan metode “pembiaran” tadi. Kali ini metode yang sejauh ini paling efektif adalah dengan negosiasi dan bargaining.

Ada banyak hal yang dapat dinegosiasikan sehingga ada cukup alasan yang masuk akal baginya. Ini sangat sulit dan perlu kreatifitas lebih. Affan punya ingatan yang cukup kuat dan cukup lihai untuk memanfaatkan informasi dalam negosiasi. Ada saja hal baru setiap pagi yang menjadi alasan untuk tidak berangkat sekolah atau aktifitas sebelumnya; bangun pagi, sarapan, mandi. Setiap pagi harus ada ide baru untuk menjawab atau membujuk. Dari yang paling gamblang, dijanjikan beli permen Yupi, sedikit ditakut-takuti, atau sampai ultimatum. Dan tak ada satu metode pun yang cespleng untuk membuatnya takluk. Jika ada pasar malam, dia ditawarin dulu lihat meski kita tahu kalau siang hari pasti tutup, itu dipakai membujuk, diajak dulu lewat loaksi, ternyata tutup baru ke sekolah. Besoknya dia alasan sekolah libur (hadeh) lalu saya bilang ya udah kita lihat ke sekolah apa libur apa tidak, kalau libur nanti kita pulang lagi. Tentu ia tak berkutik dan “terpaksa” berangkat, saya pun segera ajak naik motor sebelum dia punya ide lain. Dan ada 1001 hal lain yang kadang saya “kalah” dalam negosiasi. Seperti pagi ini, akhirnya saya tak ada lagi “amunisi” tersisa apalagi sudah mulai siang dan akan telat ngantor. Ya sudah saya berangkat kantor, mudah-mudahan ibunya berhasil membujuk.
Dan memang, tidak mudah menjadi orang tua..