Hidup dan waktu untuk menjalaninya barangkali memang sangat mahal. Beruntunglah kita yang dapat menjalani hidup dan memanfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya.  Siang itu, hanya beberapa saat saja, saya makan siang dengan Bapak, dan mengobrol ringan tentang beberapa hal. Sebelumnya Bapak masih mengimami shalat Dhuhur di masjid. Tak menyangka bahwa itu adalah waktu-waktu yang indah di hari terakhir beliau. Yang membuat saya agak menyesal adalah ketika Shalat Asar saya ketiduran dan tidak berangkat ke masjid sehingga melewatkan shalat Asar terakhir bersama Bapak, walau belakangan saya baru tahu kalau Asar itu Bapak meminta Paman saya untuk menggantikan menjadi imam.

Tak ada yang menyangka bahwa kesempatan yang diberikan Allah untuk Bapak ternyata hanya sampai awal malam di hari itu. Ketika sore Bapak terjatuhsetelah mandi setelah sesaat pulang dari masjid, waktu itu bahkan tubuh beliau sudah kaku dan sudah tak bernafas lagi , Kami sangat kaget, cemas dan tentu saja panik. Saya dan keluarga menuntun membaca kalimah thayyibah meski Bapak sudah diam dan kaku. Tak dinyana satu satu nafas Bapak mulai muncul meski agak berat. Kemudian lisan sedikit demi sedikit mengucap “La ilaha illallah” dengan suara yang tidak jelas. Lama lama kalimah thayyibah yang diucapkan semakin jelas. Dan Bapak kembali sadar. Waktu itu kembali bapak merasakan nyeri di punggung yang beberapa hari sebelumnya sudah dirasakan menandakan bahwa kesadaran Bapak sudah pulih. Kami agak lega dan mencari anggota keluarga lain yang belum ada. Waktu itu adik saya belum pulang.

Tak disangka-sangka sepertinya kesadaran dan detik terakhir Bapak yang hanya beberapa jam itu memang diberikan Allah sebagai “bonus” bagi Bapak untuk berpamitan kepada kami. Tak ada yang menyangka Bapak pergi secepat itu, karena tidak sampai dua menit Bapak mencari ibu dan paman (yang saat itu tak ada disampingnya), Bapak telah tiada untuk selamanya, insyaallah dengan dimudahkan Allah. Saat itu dalam hati saya sempat meminta kepada Allah, jika saja ada anugerah rezeki dunia yang dijatahkan ke saya, jika boleh, untuk digantikan dengan kembalinya Bapak di antara kami. Walau setelah itu saya sadar, emas segunung-pun tak akan mampu membayar kehidupan walau hanya beberapa detik saja. Dan tentunya bonus waktu beberapa jam, sore itu sudah demikian berharganya untuk kami, ibu dan semua anak-anak,  berkesempatan mengantarkan Bapak pergi.

Semua hanya kepunyaan Allah semata, siapapun tak akan dapat menghalangi jika sang Pencipta memang menginginkan, tak juga tangis, jabatan dan kekayaan, semua tak ada artinya. Kepergian orang yang kita cintai pasti akan membuat sedih dan kehilangan besar, tapi yang tak kalah penting adalah menjaga cinta untuk keluarga dan orang-orang yang dicintai yang saat ini masih ada.

Advertisements