Membuka mata, subuh 1 Januari 2013, di samping saya Affan (3,5 th) masih terlelap di sebelah, dalam kamar, Kaysa dan ibunya juga terlelap. Affan dan saya semalam begadang, bukannya merayakan malam tahun baru, tapi karena Affan sudah tidur sebelum magrib dan bangun lagi sekitar jam 8 dan tak mau tidur lagi sampai larut malam sampai sekitar tengah malam, karena saya sempat mendengar gaduh suara kembag api. Kaysa dan ibunya gantian bangun jam 2 dan tidur lagi ketika hampir subuh.

Jika dirasa ada semacam rasa capek dengan kehadiran anak, meski baru dua sekalipun. Tapi kehadiran anak adalah anugerah yang tak akan tergantikan harta benda apapun dimana kehadirannya saja, atau berada di dekatnya saja, atau sekilas melihat wajah dan senyumnya saja mampu menerbitkan sebuah kebahagiaan. Di sisi lain anak adalah amanah besar, Tuhan tentu tak sekedar memberi anugerah itu hanya untuk menyenangkan kami sebagai orang tua, tapi juga sekaligus membebankan amanah untuk membesarkan, mengasuh dan mendidik mereka untuk pada saatnya menjadi khalifah di muka bumi. Dan sekali lagi, ternyata itu bukan perkara mudah. Anak tumbuh sebagai manusia yang sangat unik, sebuah pribadi yang tak serta merta menjadi salinan dari orang tuanya. Orang tua benar-benar harus faham betul dengan karakteristik anak dan orang tua harus menerapkan, salah satunya adalah gaya parenting yang tepat.
Gaya parenting yang cukup banyak dianut adalah gaya otoriter. Orang tua menerapkan aturan yang ketat bahkan terlalu keras dengan alasan disiplin. Anak harus ikut apapun yang diinginkan orangtua, bahkan orangtua mengatur masa depan anak, harus jadi ini dan itu, dan seterusnya. Tak ada ruang bagi anak untuk menjadi dirinya sendiri. Biasanya anak ditakut-takuti dengan hal-hal yang sebenarnya tidak logis, hanya karena misalnya supaya anak tidak menangis. Gaya seperti ini dapat membuat anak yang keras, yang otoriter pula atau justru sebaliknya menjadi tertekan dan ketika si anak menjadi orang tua akan bersikap sebaliknya karena ia tak ingin pengalaman pahit selama tumbuh kembangnya dialami anak-anaknya, dan ini adalah gaya kedua. Gaya ini dikenal sebagi permisive parenting. Anak diberi keleluasaan yang besar bahkan terlalu besar, boleh berbuat apapun dan orang tua cenderung membiarkan. Alasannya bisa karena orang tua terlalu sibuk atau karena terlalu menyayangi sehingga cenderung memanjakan anak. Anak yang dibesarkan dengan gaya ini kemungkinan akan menjadi kurang tahan banting, karena biasa terbiasa dimanjakan atau terlalu \’liar\’ dan sulit dikendalikan.

Di tengah kedua gaya itu adalah authoritative parenting, dimana anak dibebaskan memilih pilihan-pilihannya tapi ditekankan konsekwensi dari pilihan yang diambil. Kebebasan dalam hal ini adalah kebebasan yang terkontrol, ibarat layang-layang, ia dapat terbang tinggi melayang kiri kanan tapi tak lepas dari benangnya. Gaya ini memang paling sulit diterapkan karena harus sangat fleksibel dan tepat dalam setiap keputusan, kadangkala bisa sangat longgar tapi kadang juga keras jika sudah berhadapan dengan prinsip. Anak kadang dibiarkan melakukan sesuatu dan mengalami konsekuensi sendiri, learning by doing. Tapi tentu saja tidak dilakukan untuk hal-hal berbahaya. Ketika kecil Affan sudah terlihat sebagai anak yang suka eksplorasi, dan biasanya saya tidak banyak melarang jika memang tidak berbahaya. Suatu ketika dia ingin makan cabe (ia belum tahu kalau cabe itu pedas). Saya bilang kalau cabe tidak enak. Tipikal Affan adalah tidak percaya dan ia nekat memakan cabe dan saya biarkan saja. Saya cuma menyiapkan air putih ketika dia teriak teriak minta air sambil menjulurkan lidah kepedasan. Ia belajar memilih dan konsekwensi dari pilihannya. Ini tentu tak berlaku untuk hal berbahaya, misalnya kalau naik motor dia suka pencet klakson, starter atau membelokkan arah motor dan tentu saja memegang gas. Yang terakhir ini sudah sekian kali saya hindari meski akhirnya kecolongan juga. Kemarin sore ketika mau keluar dengan motor dan sudah mau tancap gas kancing mantelnya lepas dan minta dibetulkan. Tak dinyana ketika saya fokus dengan mantelnya Affan memegang gas motor dan menarik dengan keras! Untungnya motor menabrak pot dan pagar. Semakin kaget Affan menarik gas dengan semakin kuat sehingga semakin menderu, untungnya motor mentok. Saya gemetaran tak dapat bayangkan seandainya posisi motor lurus ke depan. Alhamdulillah kami tidak apa-apa,tapi Affan belajar satu hal yang berharga tentang apayang disebut bahaya. Ini contoh kecil betapa menjadi orangtua dan memilih gaya pengasuhan anak bukan hal yang mudah. Menjadi orang tua yang baik adalah perjuangan.