Salah satu yang membuat saya risau dengan perkembangan teknologi informasi salah satunya adalah membanjirnya informasi dan kedewasaan kita dalam memilah dan memilih informasi. Ada salah satu analogi bagaimana kita mengkonsumsi informasi ini adalah seperti minum air dari air terjun yang deras. Kita mungkin melewatkan banyak air yang terbuang dan tidak terminum dan yang lebih parah adalah kita juga akan menelan mentah-mentah banyak air yang kita tak sempat dan tak mampu memilih (dan merasakan) mana air yang bersih atau tidak. Berbeda dengan ketika meminum seteguk air dari gelas di saat dahaga.
Saya pernah menulis tentang pentingnya memilih informasi dari sumber yang terpercaya, terutama jika dikaitkan dengan keimanan. Saya agak terkejut mengingat ternyata sebagian besar pembaca memahami maksud saya dengan keliru. Beberapa bahkan memberi komentar yang bernada menghujat dan di luar konteks yang saya bicarakan. Dan itu tak perlu saya tanggapi dengan serius. Sebagian pembaca lain memberi komentar yang kurang lebih adalah biarlah orang mendapat informasi yang salah dari sumber yang salah tapi informasi tersebut dapat memperkuat keimanan. Saya terus terang tak sepakat. Informasi yang terkait dengan keimanan justru harus berasal dari sumber yang benar-benar valid dan terpercaya. Dalam sejarah kita akan menemukan bagaimana upaya memperoleh validitas informasi tentang sunnah (ucapan dan perbuatan Rasulullah) misalnya, melahirkan ilmu-ilmu yang terkait dengan upaya menentukan suatu hadits apakah dalam kategori mutawatir atau shahih yang dapat menjadi pegangan ataukah hadits itu dhaif (lemah) atau bahkan tertolak (munkar). Kalau ada ulama hadits, setelah melalui tahapan kajian yang benar dan berpendapat bahwa suatu hadits dianggap sebagai palsu, tertolak dan tidak valid akan dengan serta merta dianggap kafir karena berpendapat demikian?
Dalam dunia dengan informasi yang membanjir seperti sekarang ini memilih informasi yang valid bukan perkara mudah. Setiap orang dapat dengan mudah membuat dan menyebarkan informasi dengan sangat mudah, terutama di ranah media sosial. Ada satu contoh kasus yang dapat kita renungkan. Beberapa waktu lalu ada salah satu figur publik yang mendukung salah satu calon di Pilkada kemudian menyebarkan informasi bahwa calon saingan tidak layak dipilih karena orang tuanya adalah non-muslim. Ingat, Saya tak berbicara soal pilkada-nya tapi dengan statemen “non-muslim” tersebut. Dalam Islam, menuduh muslim lain sebagai kafir adalah tuduhan sangat serius. (Tapi saya juga tak akan membahas hal ini). Setelah diklarifikasi dan ternyata informasi yang disebarkannya itu salah, figur publik tadi dengan nada berkelit mengatakan bahwa informasi yang didapatnya itu valid, yaitu sudah diperbincangkan luas di internet dan biasanya yang sudah beredar di internet itu adalah kebenaran. Saya cukup terhenyak bahwa statemen seperti itu dikeluarkan oleh seorang figur publik yang notabene ucapan-ucapannya akan berdampak luas.
Ada lagi informasi visual ditambah komentar dan berita yang beritanya juga beredar cukup luas yaitu tentang pembantaian Suku Rohingnya di Burma. Meskipun konflik di sana benar adanya tapi informasi yang beredar kadung salah dan memancing reaksi yang berlebihan. Beberapa foto yang menunjukkan pembantaian di Burma itu ternyata hanya rekayasa. Salah satu foto yang beredar adalah foto ketika beberapa pendeta Budha mengevakuasi korban bencana alam. Foto lain adalah foto tentang korban pesawat di salah satu negara di Afrika. Keduanya terlanjur beredar luas di internet dengan informasi provokatif sebagai sebuah pembantaian berlatar kebencian antar agama. Saya sekali lagi tak mengatakan bahwa peristiwa di Burma itu tidak ada, saya hanya menekankan kepada berita/foto yang tidak bertanggungjawab tersebut. Kebencian sudah terlanjur tersebar dari berita yang tidak valid.
Dua contoh tadi menurut saya perlu menjadi renungan kita apakah dengan informasi yang salah dari sumber yang salah akan memberi dampak yang baik? Atau akankah kita akan membiarkan orang lain dalam ketidaktahuan dengan berpikir bahwa itu baik bagi mereka dan dengan mengabaikan kerugian bagi orang lain (yang bisa jadi menjadi korban fitnah dari informasi yang tidak benar)?
(Lain kali insyaallah saya akan menulis tentang penyebaran informasi yang tidak benar yang pernah terjadi di masa Rasulullah dan sempat menimbulkan kekisruhan sampai akhirnya menjadi penyebab turunnya salah satu ayat Al Quran)

Advertisements