Setiap orang bahkan seyiap mahkluk di dunia ini semua telah ditentukan rezekinya. Kadang tanpa disangka-sangka rezeki datang, dan juga pergi, besar ataupun kecil. Sewaktu ramadhan kemarin, sehabis mengantar istri tugas, saya mampir di toko buku sambil menunggu buka puasa. Tanpa sadar waktu berjalan dan menjelang maghrib. Saya tentusaja jadi terburu-buru. Ternyata di toko disediakan makanan kecil dan minuman untuk berbuka. Dalam kondisi lapar dan haus seharian, seteguk air dan sepotong kurma adalah rezeki yang luarbiasa. Karena belum makan dan belum sholat maghrib maka saya lalu mampir di masjid di jalan yang menuju saya pulang. Lepas maghrib saya mau beranjak untuk mencari warung, tiba-tiba ada yang mendekati saya membawa sekotak nasi, yang merupakan menu buka puasa di masjid tadi. Sekali lagi rezeki datang tak diduga 🙂

Kemarin, ketika pulang kantor saya sengaja ingin mencari salah satu koran lokal. Artikel saya barusan dimuat dan saya belum punya korannya. Ketika mampir di salah satu penjual koran ternyata kiosnya itu tak ditunggui, beberapa orang disitu juga tak tahu penjual tadi kemana. Saya pikir ini orang apa nggak niat cari rejeki. Ya sudah, cari penjual lain yang niat cari rezeki. Saya lanjutkan jalan pulang karena saya tahu di deket rumah juga ada beberapa penjual koran. Namun sampai di rumah saya tak memperoleh koran tadi. Penjual koran yang saya datangi ternyata kehabisan stok, tidak ada yang saya cari. Hari hampir magrib, saya khawatir kalau tak dapat hari itu maka saya akan lebih sulit mencarinya lagi. Saya lalu mencari kios yang lebih besar, sedikit agak jauh dari rumah, ternyata kios tutup. Saya lalu melanjutkan lagi sampai jauh,dan tak dinyana motor saya membawa saya ke penjual koran yang tidak ditunggui tadi. Padahal jalan yang saya lalui tadi lewat jalan memutar. Dan ternyata ternyata penjualnya belum ada juga! padahal mungkin sudah setengah jam lebih. Saya menunggu dan  mencari-cari penjualnya beberapa saat. Tidak ada yang tahu. Saya mau nitip uangnya saja sama pedagang kakilima di sebelahnya. Lalu ada seorang bapak dengan anak kecil datang, saya kira mau beli koran juga. Dia ternyata bilang “mari pak, beli apa?” Ternyata dia penjualnya, sambil senyum-senyum tanpa dosa. Saya langsung membayar dan ngeloyor pulang sambil berpikir bahwa rejekinya bapak itu, harus lewat saya yang membeli korannya, entah harus dengan cara bagaimana.

“Aku tahu rizkiku tidak akan diambil orang, karena itulah aku tenang.”  Hasan Bashri