Sebentar lagi Ramadhan selesai. Anda boleh senang, sedih, pura-pura sedih atau biasa saja seperti bulan-bulan lain berlalu. Selama puasa banyak hal yang memaksa kita untuk menahan keinginan, terkungkung. Tapi bukankah ketika kita tanpa batasan justru menjadikan kita kacau. Kalau tidak dibatasi kita mungkin akan memakan apa saja yang dirasa dari makanan tradisional sampaiĀ  junk food, yang tak jarang sesungguhnya adalah racun. Dengan puasa kita harusnya belajar, menahan untuk tidak selalu tergoda memakan makanan, meski enak sekalipun. Perut bisa menjadi sarang penyakit, jika kita tidak selektif memilih apa yang masuk ke dalamnya, bisa penyakit fisik atau penyakit ruhani.

Itu baru soal makan. Ada banyak keinginan yang harusnya belajar untuk ditekan atau ditahan. Banyak sifat yang tidak baik yang timbul dari keinginan yang berlebihan. Keinginan berlebihan dapat terlahir menjadi perbuatan yang juga berlebihan. Puasa adalah latihan untuk menahan keiginan, bahkan meski apa yang kita inginkan ada di depan hidung kita.

Tapi banyak dari kita justru menyikapi puasa dengan hal lain; memburu berbagai makanan enak untuk dinikmati saat buka, memburu pakaian dengan model-model paling baru dan populer untuk menyambut lebaran, mengisi waktu menunggu buka dan sahur menonton tayangan-tayangan tivi yang kebanyakan berisi acara duniawi meski dibungkus “baju” religi. Bahkan dengan batasan-batasan itupun kita tak mampu memahami kenapa ada batasan, kenapa kita harus menahan diri. Batasan yang seringkali dimaknai secara formal.

Jika demikian, lalu apakah setelah puasa selesai kita kemudian merasa bebas, merdeka dari batasan-batasan?

Advertisements