Berangkat tarawih ke mesjid terkadang menjadi hal yang merepotkan. Affan biasanya akan merengek minta ikut. Giliran sampai di masjid tak ayal sukanya membuat keributan atau berlarian kemana-mana, atau bermain di tangga yang cukup tinggi yang menuju lantai dua. Ya, meskipun perlu sejak dini mengenalkan agama termasuk ke masjid, tantangannya adalah ketika anak menjadi tak terkendali. Dan itu bukan satu dua kali. Setiap ke masjid akan menjadi perjuangan tersendiri. Tahun lalu bahkan Affan sempat merubuhkan pembatas jamaah putra-putri ketika shalat berlangsung. Untuk tidak menimpa siapapun karena pembatas yang rubuh berada di posisi belakang yang kosong. Masih banyak tingkahlaku lain yang seringkali sulit diprediksi.
Bagi saya pribadi kelakuan anak yang demikian sebenarnya menjadi tantangan orang tua untuk bertindak lebih arif dan tentusaja ekstra sabar. Namun, menghadapi tipe anak yang agak sulit dikendalikan juga tak semudah yang diomongkan. Kunci utama adalah menghadapinya dengan kepala dingin dan tidak ikut terbawa emosi. Meski sekali dua kali agak jengkel karena tingkahnya itu, saya pribadi berusaha keras untuk tidak secara verbal atau fisik memberikan respon yang berlebihan. Pernah sesekali misalnya dengan mencubit. Karena ketika mau tidur dia bermain smackdown meloncat dan menubruk perut saya, dan dilakukan berkali-kali. Nah, ketika mendekat saya sudah siap-siap mencubit. Ternyata itu malah membuatnya makin semangat. Cara fisik ternyata gagal total. Kadang dengan verbal, dengan kata “nggak boleh” yang bagi dia sudah seperti tidak ada maknanya.
Hal yang paling saya hindari adalah men-judge/menghakimi. Konon menyebut anak sebagai “nakal” ketika misalnya sedang jengkel karena anak sudah dinasehati, justru malah seperti sebuah dorongan kepada anak menjadi yang diomongkan tadi, ucapan menjadi doa. Dan menjaga ucapan kita ketika kondisi seperti itu juga tidak mudah. Saya teringat akan sebuah kisah dari tanah Arab. Suatu ketika seorang ibu memasak roti yang enak. Persis ketika roti sudah matang masih hangat dan baunya harum dan siap disantap, seorang anak kecil yang merupakan anak ibu tadi datang. Tiba-tiba anak ini mengambil pasir dan menaburkannya di roti hangat yang sudah dibuat oleh si ibu tadi. Si ibu tentu saja jengkel. Ibu tadi lalu berteriak “Pergi kamu, biar kamu menjadi Imam Haramain”. Sekian tahun kemudian si anak menjadi Imam Masjidil Haram. Beliau adalah Syeikh Abdurrahman as-Sudais.

Saya sendiri apabila mendapati kelakuan anak yang tak terduga itu selalu berpikir positif bahwa anak ini kreatif sekali. Mbahnya yang kadang merasakan betapa susahnya menghadapi si kecil selalu ‘mengeluh’-nya adalah “ini anak memang pintar” sampai-sampai membuat orang dewasa kewalahan. Dengan begitu kita sendiri juga tidak stres menghadapinya. Kadang apa yang diingini anak kita penuhi kadang juga kalau perlu, ditolak, meski dia akan menangis sekeras apapun. Sebagai pembelajaran baginya bahwa tidak semua keinginan itu dapat terpenuhi.
Namun, ketika saya sembunyi-sembunyi mau menghidupkan motor untuk berangkat tarawih, Affan ternyata tahu. Dia sudah di depan pintu menangis keras-keras. Melihatnya berkalung sajadah kecil, menggamit sarung dan memakai peci yang kebesaran itu saya tidak tega juga. Akhirnya saya ajak tarawih dan seperti biasa, ia membuat keributan di masjid lagi.