Angka 500 mungkin bukan angka istimewa, bukan angka hoki atau angka keramat. Ya, hanya kebetulan saja. Tulisan ini, sesaat setelah tombol Publish berwarna biru, adalah tulisan yang ke 500 yang terbit di blog ini. Banyak? Sedikit? Entahlah. Sejak pertama kali menulis di blog ini saya tak pernah menghitungnya. Huruf demi huruf mengalir begitu saja. Kata demi kata bertebaran begitu saja. Waktu-waktu terlalui begitu saja.

Ada salah satu yang membuat saya tergerak untuk menulis. Kata Ali, ilmu itu bak binatang buruan yang kita tangkap, dan tulisan adalah tali pengikatnya. Saya termasuk orang yang cukup pelupa. Saya seringkali menuliskan apa yang saya lihat, dengar, rasakan, pikirkan, supaya itu semua tak lari begitu saja. Selain itu apa yang saya tulis juga dapat dibaca orang lain sehingga barangkali akan bermanfaat juga.

Saya sejak kecil senang menulis, meski tak terpupuk karena tidak tahu bagaimana memupuknya. Seperti pohon akhirnya dia hanya tumbuh sendiri, seadanya. Hasrat menulis ini mungkin karena saya juga senang membaca. Sayangnya masa kecil saya juga tak cukup memiliki bacaan yang cukup bagi saya. Ini membuat saya selalu ingin mengajarkan ke banyak anak-anak sekarang tentang dunia kepenulisan dengan segala manfaat dan sukadukanya. Dan ini pernah saya lakukan di kampung, meski kini berhenti. Dengan sedikit banyak bergelut di dunia maya saya tahu betul bahwa kemampuan menulis (dalam bahasa lebih luas adalah kemampuan berekspresi) adalah keahlian kunci yang sangat fundamental. Sayang di pendidikan sekarang tak banyak diperhatikan. Suatu ketika saya ingin membangun sebuah sekolah kepenulisan yang diintegrasikan dengan profesionalisme di dunia teknologi global seperti internet hehehe… Jujur saja, di dunia dengan persaingan keras seperti ini satu-satunya senjata yang dipunyai anak-anak kampung sederhana adalah pena. Dan pena yang tehubung ke dunia global adalah senjata yang keampuhannya menjadi berlipat-lipat seperti bom nuklir yang efeknya berantai-rantai..

Saya tak terlalu risau apakah tulisan-tulisan saya akan banyak dibaca atau dikomentari orang. Tentu saja saya senang jika ada feedback dari pembaca karena itu adalah salah satu “sumber energi” untuk menulis lagi, tapi itu bukan utama. Apalagi saya termasuk blogger penyendiri yang jarang berkunjung atau blogwalking. Hanya berkomentar jika perlu saja, itupun sangat jarang. Barangkali karena saya juga tak punya banyak waktu untuk itu. Jumlah kunjungan juga tak terlalu membuat risau, apakah sedikit atau banyak, naik atau turun. Biarkan saja begitu adanya. Tak peduli apakah tulisan-tulisan itu bisa menjadi uang atau hanya menjadi sampah digital, seperti naskah skripsi yang dibuat begadang sekian bulan dan tahun dan berakhir menjadi pembungkus nasi kucing di angkringan. Tapi setidaknya masih ada manfaatnya bukan?

Saya tak apa jika yang membaca tulisan saya segelintir saja, tapi harapan saya tulisan-tulisan ini dapat bertahan sampai bertahun ke depan, 10, 25, 50, 100 tahun atau entah sampai generasi kapan nanti, atau sampai teknologi internet tergusur oleh revolusi teknologi lain atau malah hilang karena katastropi atau invasi alien (lebay banget ya:D)

Dan lagi-lagi tulisan ke 500 ini bisa dianggap banyak atau sedikit, ada manfaatnya atau hanya kericau yang tak berujung. Dan sebelum kericau saya melebar kemana-mana dan kopi susu di meja kerja sudah hampir habis serta mempertimbangkan listrik yang dihimbau bapak presiden untuk dihemat maka saya segera saja klik tombol Publish dan menghabiskan sisa kopi susu.

Advertisements