Dahulu, di kampung saya ada salah satu tradisi yang sekarang sudah tak ada, yaitu ngenger, yaitu tradisi seorang anak, biasanya dari kalangan kurang mampu, untuk ikut dengan sebuah keluarga. Banyak anak-anak seusia SMP/SMA dari desa lain yang ikut dengan keluarga-keluarga di kampung saya. Mereka ini bukan lalu menjadi seperti pembantu, karena tidak dibayar dan tidak pula diharuskan untuk bekerja. Biasanya kesehariannya membantu apa yang bisa dibantu. Untuk makan sehari-hari sama dengan keluarga lain, tidak dibeda-bedakan. Untuk tidur juga diberi kamar atau bareng dengan anak kandung dari keluarga yg diikuti. Untuk sekolah dan keperluan pendidikan juga dibiayai. Meski tak ada hubungan darah sama sekali ikatan batin dari anak-anak ini menjadi seperti keluarga sendiri, bahkan sampai setelah mereka dewasa, merantau ke kota dan punya keluarga sendiri.

Ketika era ngenger di kampung kami sudah mulai menghilang, ada tradisi lain yang mirip. Di rumah orang tua saya, kala itu, disediakan ruangan yang cukup besar, hampir ukuran separuh rumah. Jadi rumah tainggal kami disekat menjadi dua bagaian besar, satu  bagian untuk keluarga kami dan ruangan lain diperuntukkan sebagai semacam asrama/pondok bagi siswa Madrasah Aliyah yang ada di kampung saya, tak ada biaya sepeserpun. Ada banyak yang tinggal disitu, dan hampir semua adalah anak-anak kalangan menengah bawah dari desa sekitar. Beberapa tahun mereka tinggal, menjadi seperti keluarga juga. Mereka memasak sendiri tapi kadang juga makan dari apa yang keluarga kami masak. Sampai akhirnya, beberapa tahun kemudian, sekolah Madrasah itu tutup karena tak mendapat murid, salah satu yang saya sesalkan karena saya masih terlalu kecil untuk bisa membantu sekolah itu untuk eksis. Kini, para “alumni” itu sudah bertebaran, merantau, berkeluarga, berprofesi dan menjalani hidup masing-masing.

Dari mereka-mereka yang pernah tinggal di rumah kami itu masih banyak yang sesekali datang. Sekedar bernostalgia atau bersilaturahim, beberapa mengajak anak istri. Ada yang jadi PNS, ada yang punya bengkel sendiri, ada yang masih serabutan, yang sukses ataupun yang masih belum mapan, ada kisah bahagia ada juga kisah pilu. Semua diterima baik oleh bapak dan ibu saya, semua disebut sebagai “anak sendiri” tak peduli seberapa sukses atau gagalnya mereka. Banyak cerita-cerita masa lalu yang lalu mengalir, ada yang dahulu ikut membantu ke sawah untuk panen atau menanam rombongan dan akhirnya telat sekolah berombongan, ada yang kehilangan uang sampai menangis tersedu (mereka jarang pegang uang 😦 ), ada yang baru tahu dan merasakan buah korma ketika pas buka puasa mereka diberi kurma satu-satu, dan banyak lagi. Dari beberapa tradisi itu kami merasa begitu “kaya”, bukan artian harta, tapi kaya dalam sebuah persaudaraan. Dan satu hal yang saya kagumi dari orangtua saya adalah mereka begitu pintar membangun dan menjaganya. Semua itu juga karena adanya satu ruang di rumah kami, bukan saja secara fisik, tapi juga membukakan ruang hati untuk berbagi dengan orang lain.

Dan saya, ketika berangan-angan membangun sebuah rumah, selalu saja kepikiran untuk menyediakan ruang atau kamar khusus untuk nantinya digunakan mereka yang dari kampung (baik dari kampung halaman saya atau kampung lain) yang ingin bersekolah/kuliah di Jogja atau mereka yang mau mendaftar SNMPTN dan tidak punya tempat berteduh. Ada semacam kewajiban untuk menyediakan “ruang” seperti yang disediakan oleh orangtua saya itu.Entah nanti akan terwujud atau tidak wallahu a’lam.