Saya mulai merantau ketika menapak jenjang SMA. Waktu itu masih lugu sekali, anak kampung yang gerogi dengan gemerlapnya kota, takut, khawatir, galau.. Saya awalnya ditipkan dengan seorang teman saudara saya karena kosnya dekat sekolah tapi sudah penuh. Saya tidak betah dan merasa asing, mengingat tak ada orang yang dikenal disitu. Akhirnya saya ikut dengan kakak saya meski kosnya jauh dari sekolah. Koskosan kakak saya ini sebenarnya rumah lama yang lalu dijadikan kos. Bangunannya agak tua, berlantai plester, agak gelap dan serem (beberapa teman katanya pernah melihat penampakan :)). Saya paling kecil sendiri, hampir semua penghuninya mahasiswa dan aktifis. Saya tinggal kira-kira setahun dan pindah ikut kos saudara sepupu karena semua penghuni kos saya itu digusur dengan alasan mau direhab.

Kos baru saya tak kalah sederhana, rumah yang lebih tua. Sebagian dindingnya tembok, separuhnya dinding kayu sehingga jika kamar sebelah sedang mengobrol maka akan terdengar jelas. Kami juga biasa ngobrol dengan teman kamar sebelah dari kamar masing-masing :)). Meski sangat sederhana penghuni nya tak main-main. Sebelah kamar saya kuliah S2 dan konon terpintar di kelasnya dan barangkali saja bisa jadi cendekiawan terkemuka jika saja penyakit paru-paru basah tak merenggut jiwanya karena kebanyakan begadang malam untuk belajar. Kami tak punya tape atau apalagi TV dan hiburannya adalah radio-tape kamar sebelah yang ditinggali guru nyentrik yang suara dari tapenya disalurkan kabel ke kamar kami dan dipasangi salon. Praktis kami hanya bisa mendengar lagu atau apappun yang disetel kawan di sebelah. Tempat tidur yang dipakai hanya kecil, cukup satu orang padahal kalau malam bisa ada 3 sampai 4 orang yang menginap di kamar. Jadi biasanya yang paling cepat tidur dia yang dapat tempat empuk di kasur busa, yang lain tidur di karpet dengan lantai plester yang sudah berlobang-lobang dan sesekali dilewati tikus.

Tahun berikutnya saya ikut lagi dengan kakak saya, kali ini mengontrak dengan teman-temannya sesama korban penggusuran. Rumah agak tua juga, dengan kamar yang disekat-sekat dengan tripleks yang sudah bolong-bolong. Bahkan kunci kamar hampir tak berfungsi lagi karena meski pintu dikunci sekalipun kita bisa menerobos melalui tripleks yang pakunya sudah copot. Hampir sama dengan kos lama, kos yang sekarang juga rebutan tempat tidur. Yang paling cepat tidur ya dapat kasur. Soal makan minum lebih parah, karena makanan atau minuman bisa ludes dalam waktu sesaat. Dulu bahkan punya satu gelas ekstra besar untuk membuat teh atau kopi yang diminum oleh semua penghuni kos, bersama-sama dengan gelas yang sama 😀

Kira-kira setahun kemudian saya pindah dan balik lagi bersama dengan sepupu saya. Kondisi kamar masih sama dengan sebelumnya hanya saja penghuninya lebih banyak. Ada tambahan beberapa orang teman dan adik, dalam kamar yang sama 🙂  Agak lama di kos ini sampai saya lulus SMA dan kuliah, akhirnya saya pindah ke kos baru dekat kampus. Kondisi tak jauh beda, lantai yang plesteran dan dinding yang separonya tripleks. Cuman di kos baru ini saya mulai mendapat privasi, bisa tidur sendirian di kamar. Saya juga membeli TV kuno hitamputih sehingga bisa menikmati siaran berita atau film di kamar. Saya cukup lama tinggal disini sampai lulus kuliah dan bekerja. Akhirnya saya mendapat beasiswa kuliah di Bandung dan mulai merantau di kota kembang.

Di Bandung, bersama beberapa teman dari Jogja, kami mengontrak rumah. Ini mungkin tempat tinggal terbaik selama saya sekian tahun merantau. Rumah tembok yang relatif baru dan lantai keramik. Sialnya kamar yang tersedia kurang satu sehingga dibuat satu kamar yang disekat tripleks. Ketika diundi saya kebagian undian pertama yang menempati kamar tripleks itu beberapa bulan sebelum gantian mendapat kamar reguler 😀

Ketika teman teman sudah mulai lulus, saya tertinggal sendirian. Beberapa bulan saya lontang lantung sendirian menunggui dua rumah ditemani kekhawatiran kalau kalau tidak lulus, karena ketika yang lain bahkan sudah selesai saya masih belum pasti dengan judul tugas akhir saya. Saya akhirnya pindah kos ke daerah Cisitu, diajak teman sekelas saya. Alhamdulillah di sana agak ramai sehingga tidak terlalu suntuk memikirkan kuliah. Apalagi ada teman yang nasibnya sama 🙂 Kos baru ini seperti kos terdahulu saya, kamarnya bersekat tripleks dan saya di lantai atas yang lantainya kayu. Disini selain teman sekelas, saya juga mengenal beberapa teman baru yang tinggal disana, om Taufik di kamar sebelah yang meski sudah punya perusahaan sendiri dia masih senang ngekos. Ada Imam, di kamar bawah, anak kampung yang bisa tembus ITB bahkan ketika wisuda, barengan dengan saya, dia dinobatkan menjadi mahasiswa terbaik se-ITB waktu itu dan mewakili wisudawan tampil di mimbar.

Kembali ke Jogja seperti kembali lagi ke masa lalu, saya kos atau kontrak dengan kondisi tak jauh dari rumah berlantai plester sampai kini ketika berkeluarga akhirnya baru mengontrak di rumah agak bagus dengan lantai keramik yang paling bagus yang pernah saya tinggali.

Dari sekian pengalaman itu saya belajar bahwa papan tinggal itu yang jauh lebih bermakna adalah para penghuninya, bukan fisik bangunannya. Saya sendiri dengan berbagai bentuk kondisi tempat tinggal, dari yang paling sederhana sampai paling bagus tak ada perbedaan yang mendasar. Saya  terbiasa tidur di kasur busa empuk atau di lantai plester dengan beralas karpet plastik (meski sekarang harus mulai memperhatikan badan yang mulai menua sehingga mikir juga kalo tidur di lantai hehe ). Ini barangkali juga karena saya sejak kecil juga terbiasa tinggal di rumah orangtua saya yang hanya dari kayu dan berlantai batu, sampai sekarang.  Namun, dari pengalaman selama ini juga malah ketika tinggal di tempat-tempat sederhana justru menemukan teman-teman yang unik dan paling berkesan.

Hidup tentu tak selalu bertabur kemewahan, justru ketika kita bisa berbahagia dari kesederhanaan itu akan menjadikan kita menjadi orang paling kaya.