Bagi sebuah bangunan, fondasi adalah komponen yang sangat vital. Kekuatan fondasi melandasi kekuatan bangunan sehingga bisa tahan terhadap goncangan dan krisis. Tidak hanya bangunan dalam arti fisik tapi juga tentang hidup.
Hari-hari ini kami cukup disibukkan dengan langkah awal membangun rumah setelah sekian waktu dapat membeli tanah, dari hasil menabung dan juga pinjaman. Awalnya tak terpikir akan memulai kapan dan bagaimana mengingat sisa tabungan mulai berkurang dan tak mungkin lagi mengajukan pinjaman baru. Tiba-tiba dapat kabar dari rumah kalau bapak dan ibu akan datang dan memulai untuk membantu membangun fondasi.
Keluarga saya bukanlah keluarga yang berlebih secara materi sehingga saya pun tak pernah meminta bantuan finansial. Namun, mereka memiliki ikatan yang erat sehingga apa yang menjadi kebutuhan kami juga menjadi kebutuhan mereka, apa kesulitan kami juga akan dicarikan solusinya. Sebenarnya saya berkeinginan membangun rumah sendiri, meski entah kapan. Soal uang dan tabungan saya pikir bisa dicari, meski tak dapat semudah dan secepat membalik telapak tangan. Membangun rumah sendiri mungkin akan jadi kebanggaan, semacam menjadi sebuah monumen kemandirian. Apalagi hampir semua orang yang pernah muda akan merasakan semacam “kesombongan” bahwa kita dapat hidup mandiri tanpa bantuan orang lain, termasuk orangtua dan keluarga. Bahwa tanpa mereka pun kita bisa mencari makan, mencari penghasilan dan membuat rumah. Tapi itu dulu. Kini seiring waktu saya justru mulai merasakan dan menilai dengan agak beda. Meski dalam hati ada keyakinan bahwa nantinya kami dapat mewujudkan membangun rumah dengan usaha sendiri, entah kapan, tapi keinginan bapak dan ibu dan keluarga untuk membantu saya nilai lain. Bukannya saya menganggap itu sebagai semacam intervensi, keinginan memanjakan, atau mau turut campur dalam kehidupan saya. Sama sekali tidak.

 

Terkait dengan “kesombongan” untuk mandiri, ada semacam perasaan harus mengalah bahwa bapak dan ibu tentu juga memiliki keinginan untuk juga membangun “monumen” agar nantinya kami akan mengenang sampai kapanpun. Di titik ini “monumen kemandirian” saya harus rela mengalah untuk “monumen cinta” dari orang tua. Egoisme saya untuk menjadi “mandiri” harus dikesampingkan.
Dan ketika fondasi ini terbentuk, meski baru fondasi, ada banyak sekali yang ikut memikirkan dan merasakan prosesnya. Kami, terutama istri saya, merancang desain dibantu kawan-kawan. Kami juga menyiapkan material yang sebagian harganya sudah meroket. Sebagaian material lain dicarikan oleh bapak saya sekaligus mengkordinasi tukang dari kampung yang sebagian besar adalah orang-orang dekat juga. Kayu untuk kusen dan atap dicarikan dari tegalan nenek saya di kampung oleh saudara-saudara di rumah, digarap oleh mertua kakak saya yang kebetulan profesinya juga tukang kayu. Ibu saya menyiapkan perlengkapan makan dan tiap hari memasak lauk dan sayur sedang nasi dimasak sendiri oleh para tukang. Biaya untuk tukang saya ambilkan dari uang yang berputar-putar, dari awalnya uang yang dipinjam paman saya yang butuh biaya, saya pinjamkan melalui bapak , dan beberapa waktu lalu dikembalikan ke saya, belum sempat ditabung langsung dipakai membayar tukang. Sebagian lagi adalah gaji bulanan dari Google yang baru sempat saya cairkan..
Banyak hal membuat saya harus banyak bersyukur. Saya katakan kepada istri saya bahwa sejelek-jeleknya nanti rumah kami kalau nanti jadi, saya akan menganggapnya sebagai yang paling indah. Karena sesungguhnya keindahan itu tidak dibentuk dari desain fisik yang mewah tapi jauh lebih indah ketika itu semua dibangun dengan fondasi cinta, kehangatan dan kasih sayang keluarga. Sesuatu yang saya sadari mungkin tak dimiliki banyak orang.