Apa yang terjadi waktu jumatan nampaknya hampir seragam, kalau tidak mengantuk ya pikiran melayang kemana mana.Ini juga berlaku bagi saya. Saya tak hendak menyalahkan siapapun, apalagi khatib. Ini sudah menjadi sebuah kebiasaan kita semua, yang tentu saja kurang baik.

Sholat jumat sebenarnya seperti sebuah analog ketika batre jiwa kita mulai drop setelah seminggu dipakai habis habisan dan perlu dicharge lagi, sehingga kita lebih semangat lagi dalam beribadah maupun menjalani hidup yang makin sulit ini. Harusnya usai jumatan adalah saat ketika energi kita full dan berkobar kobar siap berjuang, berperang dan mengorbankan apa saja, termasuk nyawa. Tentu saja ‘perang’ kali ini tak harus menghunus pedang atau dengan bom, karena musuh dan senjatanya juga lain. Boleh jadi perang kita melawan kebodohan sehingga mengobarkan semangat untuk mendidik. Barangkali perang kita adalah perang melawan ide negatif sehingga mendorong kita lebih giat menulis ide positif.

Ya, jumatan sebetulnya memiliki potensi yang strategis. Sayang potensi itu masih menjadi potensi terpendam.