Saya pulang sudah maghrib dan itu hampir setiap hari. Seringkali terbersit rasa bersalah kepada anak karena waktu berinteraksi menjadi sangat terbatas. Beruntung anak saya biasa tidur agak malam sehingga masih cukup waktu bermain sebentar atau menemani nonton tivi. Ini biasanya lalu diikuti polah tingkah macam-macam ketika mulai bosan. Permintaannya lalu mulai bermacam-macam dan jika tidak dituruti maka mulai berulah dari melempar barang, membanting atau menginjak-injak (ini termasuk barang yang penting seperti laptop). Hampir tiap malam kami harus berjuang menghadapi si kecil ini. ketika semakin malam biasanya dia tidur dengan cepat jika memang sudah maunya. Dan sekejap suasana mendadak senyap, menyisakan rumah berantakan.

Dan kali ini ketika si kecil sudah lelap dan saya pun sudah capek dan mengantuk terdengar mobil di sebelah baru pulang. Disusul terdengar suara Si ibu mengucap salam kepada keluarganya. Saya mendadak terenyuh. Keluarga, utamanya si kecil di rumah tentu sangat menunggu. Suaminya terkena stroke dan cukup parah. Anak-anaknya masih kecil, paling besar SMA. Betapa beban si ibu ini menjadi tulangpunggung keluarga, baik dari sisi ekonomi maupun sebagai nahkoda pengendali rumah tangga. Semoga Allah memberi kekuatan kepada para ibu-ibu perkasa ini.
Saya lalu menengok sebelah, anak dan istri sudah lelap, terbersit pikiran betapa berharganya karuniaNya, karena meski kami bukan orang berlebih dalam hal harta, keluarga yang semua sehat tak kurang suatu apa jauh lebih berharga dari harta benda. Dan itu menjadikan hati menjadi begitu kaya.

Advertisements