Pak Walikota Whoville, Ned, terperangah memandang ke angkasa. Suara yang tadinya dikira main-main itu ternyata memang benar. Suara yang mengaku sebagai seekor gajah bernama Horton yang berbicara melalui cerobong. Horton berkata bahwa dunia Whoville yang ditempati Ned dan warganya itu tak lebih dari sekedar setitik debu yang menempel di sebuah bunga dan kini dipegang oleh Horton. Ini menjawab pertanyaan Ned sebelumnya dimana kondisi alam di Whoville berubah drastis.
Ini adalah salah satu adegan di Film Horton Hears The Who. Meski hanya film kartun ternyata film ini sarat dengan filosofi. Ned dan Horton, keduanya sama-sama dicemooh warganya karena menyampaikan sesuatu yang menurut nalar umum adalah mustahil dan gila. Ned dicemooh ketika mengatakan kepada warganya kalau dunia yang mereka tempati hanyalah setitik debu dan kini debu itu sedang dalam masalah besar karena sedang dalam posisi tidak aman dan bisa musnah kapan saja.
Di sisi lain, Horton dianggap gila oleh teman-temannya karena ia mempercayai bahwa ada kehidupan dalam sebuah debu. Dia dipaksa untuk percaya bahwa debu itu hanyalah debu. “Apa yang tidak dapat kamu lihat, dengar dan rasakan maka itu tidak ada,” Kata Kangaroo, tokoh antagonis di film ini. Namun Horton tetap pada pendirian dan keyakinannya untuk menyelamatkan debu dan segenap penghuninya. “Manusia tetaplah manusia, sekecil apapun dia,” kata Horton. Maka Horton pun menghadapi seluruh penghuni hutan Nool karena dianggap meracuni pikiran anak-anak. Tapi dengan sepenuh hati dan mempertaruhkan nyawa Horton tetap berusaha menyelamatkan Whoville.
Film ini sesungguhnya ingin menyampaikan pesan universal tentang penghargaaan terhadap sesama seperti tampak pada kepahlawanan yang unik dari gajah lugu, Horton dan juga ingin menyampaikan pesan bahwa apa yang kita ketahui sejauh akal kita tanpa kita sadari sesungguhnya sangat terbatas. Kita mungkin tak menyangka bahwa banyak hal yang diluar kemampuan kita yang tidak ketahui, mungkin dunia yang sangat kecil seperti Whoville atau seperti yang dikatakan Horton kepada Kangaroo,”Bagaimana jika dunia yang kita tinggali ini sebenarnya hanyalah setitik debu dan ketika ditemukan seseorang yang sangat besar dan berkata pada temannya bahwa di debu itu ada kehidupan, dan temannya itu pasti menertawakannya.” Apa yang tidak kita lihat, dengar dan rasakan tidak mengindikasikan bahwa itu tidak ada, itu lebih karena kita memang tidak atau belum mengetahuinya. Dan ketika di ranah itu maka hanya keyakinan-lah yang dapat menjangkaunya. Kita tak pernah melihat, mendengar dan merasakan Tuhan secaar fisik, tapi kita yakin keberadaanNya. Keyakinan yang tentu saja tak seharusnya mudah goyah karena cemoohan atau bahkan ancaman.
Film yang diadaptasi dari novel Dr. Seuss ini menjadi salah satu film yang sayang dilewatkan. Dan, pertanyaan saya, seperti pertanyaan Horton, bagaimana jika bumi yang kita tinggali ini sesungguhnya adalah hanya setitik debu, mengapung rapuh di angkasa raya.

Advertisements