Doa orang teraniaya katanya adalah salah satu doa yang mustajab. Apakah anda pernah merasa di posisi teraniaya? Kalau pernah lalu apa yang menjadi doa anda?

Suatu ketika saya berada di pertigaan yang padat dan macet. Saya tiba-tiba terjebak di pertigaan itu, ketika hendak menyeberang ternyata di depan saya ada mobil yang menghalangi jalan saya padahal di sisi depan kanan berlawanan arah dengan saya ada mobil yang masuk dan sedikit terhalang motor saya. Mobilnya besar dan cukup mewah dan mahal. Saya berusaha maju untuk memberi jalan tapi tak bisa bergerak karena menunggu mobil di depan saya yang masih terhenti. Mungkin hanya hitungan beberapa detik saja harusnya untuk menunggu. Tapi pengendara mobil yang terhalang oleh saya itu nampaknya tak ada kesabaran. Dia memajukan mobilnya , saya kira saya terserempet, tapi ternyata dia berbuat itu dengan sengaja, dia memajukan mobilnya lagi, saya pun terjatuh meski tak sampai parah. Saya hanya mengumpati orang itu yang begitu sombong. Tapi hanya itu saja, saya tak berani memperkeruh suasana karena malas berurusan dengan hal tak penting macam itu, apalagi terus terang saya juga takut, pengendara mobil itu berbadan kekar tentu tak sebanding dengan saya yang kerempeng, dia orang kaya saya hanya orang miskin. Di titik itulah saya merasakan rasanya di posisi teraniaya, di posisi di mana orang berbuat semaunya dan dengan sombongya dan saya tak kuasa membalas kesewenangan itu.

Saya berfikir kalau saya orang yang baik mestinya memaafkan saja orang itu, tapi saya tak sesuci itu karena, jujur saja, memaafkan yang benar-benar dari lubuk hati bukan perkara gampang. Di sisi lain, dengan posisi teraniya, doa saya mungkin saja cukup makbul, saya bisa saja mendoakan yang buruk, tapi saya juga tak mau menjadi sejahat itu. Bukan sifat orang beriman yang suka mendoakan buruk. Saya lalu berfikir lagi dengan lebih simpel, bahwa Gusti Allah mboten sare (Tuhan tak pernah tidur). Entah motif apa orang itu berbuat seperti itu, itu biarlah urusan dia dengan Tuhan. Entah Tuhan mau membalasnya dengan apa sudah bukan lagi kewenangan saya, mau dibalas buruk, lebih buruk, atau justru dibalas kebaikan, sekali lagi itu urusan Tuhan. Dengan begitu saya menjadi merasa ringan dan menganggap kejadian itu sebagai angin lalu saja.

Apa yang saya alami barangkali tak ada apa-apanya dengan mungkin jutaan orang yang lebih teraniaya, tertekan, merasa dihina dilecehkan diinjak harga dirinya, baik psikologis, mental dan bahkan fisik dan tak mampu berbuat apa-apa. Saya lalu hanya berfikir bahwa saya harusnya juga lebih hati-hati bersikap, jangan-jangan saya juga pernah berbuat aniaya dengan orang lain, dan kita tak pernah tahu orang itu lalu mendoakan apa kepada kita. Doa itulah yang harusnya kita takutkan..
Semoga kita selalu dijauhkan dan dijaga dari perbuatan aniaya..