Selamat merayakan Idul Fitri bagi kawan-kawan sekalian, baik yang merayakannya duluan maupun belakangan. Ya, kali ini lebaran kembali berbeda. Saya pribadi sebenarnya tak terlalu merisaukan perbedaan lebaran apalagi perrbedaan ini sudah terjadi beberapa kali. Yang agak berbeda sekarang adalah gaungnya yang cukup membuat sedikit prihatin. Pada waktu-waktu lalu ketika lebaran berbeda secara umum tidak ada banyak masalah. Saya kira sebagian besar umat sudah mulai menyadari perlunya penghargaan atas perbedaan ini. Saya pun tak kaget ketika pemerintah memutuskan untuk “memundurkan” lebaran sehari dan ormas Muhammadiyah tetap pada pendirian semula. Tapi ketika mulai ada suara agak miring tentang perbedaan ini dan terkesan memojokkan Muhammadiyah karena berbeda sendiri dari ormas lain saya mulai agak risau. Bukan karena saya dibesarkan di Muhammadiyah tapi hendaknya upaya untuk mempersatukan umat dengan menyamakan lebaran hendaknya tak perlu dilakukan dengan konfrontatif. Apalagi preseden akan adanya perbedaan lebaran sudah jauh hari diketahui. Dalam hal ini tentu saja pemerintah-lah yang perlu mempertemukan perbedaan-perbedaan diantara ormas, namun bukan dengan pemaksaan penyeragaman, tapi dengna dialog dan pendekatan yang tentu saja tidak serta merta. Sebenarnya upaya semacam ini pernah dilakukan oleh Jusuf Kalla ketika menjadi Wapres. Waktu itu sudah ada komitmen dari NU-Muhammadiyah untuk berdialog secara berkesinambungan soal upaya penyatuan lebaran. Sayangnya upaya ini entah kenapa akhirnya putus di tengah jalan.

Saya pribadi sebenarnya merasa bahwa soal penampakan hilal ini sebenarnya hal yang tak perlu dibesar-besarkan. Apalagi keyakinan bereda disertai dengan menyerang orang lain. Yang lebaran duluan menganggap yang lebaran belakangan sebagai berdosa karena berpuasa di hari raya, dan sebaliknya yang lebaran belakangan menganggap yang lebaran duluan berdosa karena puasanya kurang sehari. Tahun ini perbedaan makin riuh di ranah maya, khususnya di jejaring sosial. Dulu, di jaman Rasulullah, ketika mendung menutupi hilal maka puasa digenapkan menjadi 30. Saya yakin jika ternyata besoknya hilal terlihat dan ternyata sudah tanggal 2 syawal maka tak jadi persoalan. Allah tak akan membebankan dosa meski secara empirik harusnya puasa sudah berakhir sehari sebelumnya. Contoh lain diriwayatkan kesaksian seorang Badui yang melihat hilal-pun dapat diterima, meski dia bukan ahli astronomi. Ini menunjukkan bahwa perbedaan penafsiran penentuan tanggal 1 Syawal bukanlah hal yang perlu dibesar-besarkan. Meski saya berharap ke depan ada kesepakatan untuk menentukan kriteria yang sama agar tidak ada lagi kontroversi seperti ini lagi. Dan sementara masih ada perbedaan lebaran mestinya yang selalu dikedepankan adalah adanya penghargaan atas perbedaan yang ada. Perbedaan ini juga bukan soal ormas belaka.

Dan, yang unik di lebaran ini, sewaktu berkunjung atau bertemu kawan hampir selalu perbincangan awal adalah pertanyaan “lebaran kapan?” Faktanya ini hanya jadi pembuka pembicaraan tak hendak kemudian menjadi ajang saling klaim kebenaran. Saya yakin bahwa Allah akan menerima ibadah dari hamba yang dengan niat ikhlas menjalankannya.

Mohon maaf lahir batin…