Membangun sesuatu yang belum pernah ada bukanlah sesuatu yang gampang. Membangun rumah, misalnya. Kita harus mampu membayangkan seperti apa rumah itu, berapa kamar, berapa lantai, pondasinya bagaimana, bahan bangunannya pakai apa, dsb. Kita memerlukan bayangan lalu dibuat sketsa dan desain, dihitung kebutuhan materialnya, dst. Tanpa mempunyai gambaran akan sesuatu yang akan dibangun maka rumah itu akan sulit terwujud dengan baik. Itulah visi.

Bicara lebih luas lagi, lebih dari 66 tahun yang lalu, para pendiri republik ini tak hanya membangun rumah ukuran petak kecil, tapi sebuah negara yang besar. Diperlukan visi negarawan yang benar-benar mampu memimpikan sebuah bangsa yang merdeka dengan jutaan kepala, ribuan pulau, luas yang jauh membentang. Saya selalu saja terkagum dengan perjuangan pemimpin-pemimpin visioner masa lalu, Sukarno, Hatta, Syahrir, dan banyak lagi di masa itu.

Namun sayang, seiring usia bangsa ini yang semakin menua justru banyak visi pendiri negara ini dibelokkan. Semakin lama justru makin memprihatinkan. Ketika masa kemerdekaan kita kaya akan pemimpin berkualitas, sekarang kita justru krisis, nyaris tak punya pemimpin yang punya clear vision ke depan. Kita berjalan sekenanya, tanpa panduan, tanpa arahan, sendiri-sendiri.

Di saat orang muda diharapkan menjadi pemegang estafet kepemimpinan baru yang lebih jernih dan segar, di saat sama generasi \\\’pemburu rente negara\\\’ dari kalangan muda malah makin merebak dan semakin vulgar. Jangankan meneruskan membangun \\\’rumah bangsa\\\’ yang dirintis susah payah, justru malah menggerogoti sendi dan fondasinya demi kepentingan perut.

Meski begitu, kita tak hendak untuk apatis. Jalan ke depan masih panjang. Di tengah tempaan masa yang berat ini harapannya akan lahir pemimpin yang tangguh, memiliki karakter, memiliki visi, dan benar benar seorang negarawan sejati. Mudah mudahan muncul dalam beberapa tahun ini, atau belasan tahun lagi, atau kita perlu lebih sabar lagi,.. Dirgahayu Republik Indonesia

Advertisements