Seringkali kita dengar anjuran para dai untuk selalu bersyukur atas segala nikmat, baik nikmat rezki, nikmat sehat, dan lainnya, dan yang harus paling disyukuri adalah nikmat hidayah. Hidayah Allah-lah yang menuntun kita untuk menegakkan sholat, menggerakkan kaki menuju masjid, melafalkan di lisan ayat Quran, dan banyak lagi amal perbuatan lain.

Hidayah adalah kehendak Allah untuk membuka hati kita, namun bukan kemudian kita santai-santai menunggu hidayah datang, tapi harus selalu berdoa untuk memperolehnya dan bahkan memperjuangkannya.

Dalam Surat Fatihan yang kita ulang-ulang tiap sholat, kita selalu bermohon untuk diberi hidayah, ditunjukkan ke jalan yang lurus. Tak berhenti di situ saja, dalam upaya memperoleh hidayah kita juga harus tak segan-segan menggali hikmah, terus belajar, terus berupaya agar dapat memperoleh hidayah, baik dengan amal mematuhi perintah Allah, menjauhi laranganNya, serta terus menggali ilmu untuk mendekatkan diri kepadaNya.

Jaman dahulu, Ibrahim berjuang keras mencari tuhan baik dengan akal pikiran dan hati, dengan perenungan maupun mengamati alam. Kalau kita pernah mendengar kisah Ibrahim mungkin perjuangannya tak sesederhana kisah itu, bisa jadi jauh lebih dahsyat dan berat.

Kita sekarang harusnya lebih mudah untuk mengenal tuhan, karena apa? Kita sudah diberikan manual book petunjuk yang dapat kita baca dengan lebih mudah yaitu Al-Quran. Kita diberikan contoh pengejawantahan Quran dalam kehidupan yang dapat kita tauladani, yaitu Rasulullah Muhammad.

Tinggal kita sendiri yang mau atau tidak untuk berdoa dan berharap akan hidayah itu serta berjuang berikhtiar mendapatkannya.

Mulailah lagi dengan membaca Al Quran..