Mental korup barangkali memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari koruptor. Karena sudah menjadi mental maka apapun mungkin sudah tak ada gunanya untuk menghalanginya berbuat korupsi. Gaji dan fasilitas yang dilipatgandaKan? Tak selalu mempan. Hukuman yang berat? Di kamus koruptor ini sudah ada dan disiapkan sogokan untuk penegak hukum. Mau dipenjara? Paling cuma sebentar dan formalitas. Bahkan ancaman dosa dan neraka? Bisa jadi dengan mental korupnya koruptor sudah menyiapkan ‘sogokan’ untuk tuhan juga. Taruhlah dia korupsi sekian milyar, lalu sebagian hasil korupsi itu dibuatkan mesjid mewah dan sedekah. Dia mengira dengan begitu dosa korupsinya terampuni.

Jangan heran kalau buron koruptor itu memiliki nama ‘islami’, di wawancara fasih menyebut salam, dan tertangkap di negri nun jauh di sana masih setia beribadah puasa..

Kita tak hendak menghakimi siapapun tentang ibadahnya diterima atau tidak, tapi minimal di mata kita kesalehan tak hanya diukur dari hal ritual tapi juga kesalehan sosial, serta kesalehan-kesalehan lain yang lebih nyata. Ibadah tak hanya ritual dan berhenti di masjid, justru di luar mesjid, di dunia nyata, ibadah kita akan diuji. mental kita yang sesungguhnya akan nampak disana.