Kita diciptakan oleh Allah swt tak lain adalah untuk beribadah kepadaNya. Ibadah tentu saja dapat bermacam-macam dari ibadah mahdhah yang telah ditentukan ritualnya sampai ibadah dalam arti luas yakni keseharian kita.
Ibadah bermakna menyembah juga bermakna pengabdian. Sebagai mahluk yang dicipatakan dan jika ingin memenuhi kehendak pencipta maka kita tentu harus mematuhi apa yang disuruh, menjauhi yang dilarang. Kalau ditanya ibadah kita untuk siapa, pasti jawabnya untuk Allah. Kalau ditanya ibadah kita untuk apa, maka coba tanya lagi ke hati kecil. Ibadah memang ada iming-iming pahala dan syurga. Ibadah tertentu ada keutamaan akan diperlancar rezeki. Sholat dan puasa dapat membuat fisik menjadi sehat dan sebagainya. Itu hanya hikmah ataupun fadhilah.

Tapi kalau tujuan ibadah kita hanya sebatas itu tentu saja esensinya masih belum mengena, apalagi tujuan-tujuan yang dicari masih bersifat duniawi; harta, pangkat, dll. Kita tentu melakukan sesuatu bukan karena iming-iming, seperti anak kecil yang diminta bantuan orangtuanya dan dijanjikan permen. Bagi anak yang cinta orang tuanya apa yang disuruh pasti dilakukan suka hati, bahkan meski tanpa imbalan apapun, semua dilakukan karena cinta. Ibadah yang sejati tentu tak berharap rezeki berlimpah, kedudukan tinggi, enteng jodoh, atau tujuan-tujuan kecil. Ibadah sejati dilakukan karena cinta, untuk membalas cinta, untuk mendapatkan keridhaan Allah semata.

Advertisements