Berbicara tentang nikmat yang kita dapatkan setiap saat tentu tak ada habisnya. Jika dihitung hitung nikmat yang wajib disyukuri hampir tanpa batas. Sayangnya kita seringkali tidak menyadari. Sebut saja nikmat sehat. Ketika sakit datang baru kita rasakan bagaimana nikmatnya sehat yang sehari-hari jarang disyukuri.
Sekitar dua minggu sebelum ramadhan saya harus dinas luar kota. Tak disangka saya merasa kesehatan agak menurun. Sedianya saya akan melanjutkan di kegiatan lain setelah kegiatan pertama selesai. Tapi baru sehari melanjutkan kondisi tubuh semakin menurun. Saya pulang Jogja dulu untuk istirahat barang sehari. Ternyata sakit saya semakin menjadi-jadi sehingga malah harus ijin beberapa hari. Sampai hari-hari awal ramadhan masih belum sembuh benar. Saya bersyukur bahwa meski lumayan mengganggu aktifitas, sakit saya tidak termasuk yang parah benar, dan Alhamdulillah tidak begitu mengganggu ibadah ramadhan. Dua hari sebelum ramadhan tetangga saya yang juga pemilik rumah kontrakan yang saya tempati tiba-tiba muntah dan pingsan saat di kantor. Ternyata terserang stroke. Padahal hari-hari biasanya tidak ada tampak gejala apa-apa. Cobaan ini tentu bagi beliau dan keluarganya sungguh berat (semoga Allah memudahkan). Dibanding sakit saya tentu tak ada apa-apanya. Anda dan saya yang masih dikaruniai kesehatan dan kesempatan menemui ramadhan ini tentu harus banyak bersyukur. Meski seakan tak dirasakan, betapa nikmat sehat begitu berharganya. Sekedar -maaf- kita buang air kecil saja bisa jadi sebuah karunia tak terkira kalau anda pernah melihat bagaimana tersiksanya mereka yang terkena batu ginjal yang betapa sakitnya hanya untuk buang air kecil.
Tugas kita untuk selalu bersyukur atas nikmat ini dengan baik dengan dzikir maupun dengan upaya untuk menjaganya dengan gaya hidup sehat.