Semua bermula dari niat. Entah niat itu terbersit dalam sepersekian detik namun niat mendasari banyak hal. Dalam ibadah mahdhah, termasuk shalat dan puasa ramadhan, niat menjadi syarat agar ibadah diterima.

Suatu ketika saya naik bus kota Solo-Jogja dari rumah di kampung setelah mengantar anak saya yang ikut mbahnya. Beberapa saat setelah naik ada pengamen masuk. Saya terkadang memberi uang kadang juga tidak, ini tergantung juga dengan sikap pengamen itu sendiri. Ketika pengamen ini masuk dan mulai bernyanyi saya mendapati ternyata dia seorang ibu-ibu. Suaranya biasa saja tapi relatif sopan. Saya tiba-tiba membayangkan apakah ibu ini begitu membanting tulang untuk siapa, mungkin nanti sore dia pulang disambut anaknya yang masih kecil, menanti dibelikan sebungkus es, atau mungkin pulang menemui suaminya yang tergolek lumpuh tak berdaya? Tiba-tiba terbersit niat untuk memberi uang sekedarnya, bukan karena saya kasihan tapi karena penghargaan buat ibu ini untuk bekerja sekedar mengamen di bis.

Seandainya niat itu tak muncul, mungkin saya lebih memilih tutup telinga dan tidur, tapi niat yang hanya sepersekian detik itu menggerakkan hati, pikiran dan akhirnya tangan saya untuk merogoh kantong dan memberi selembar uang.

Demikian pentingnya sebuah niat sehingga kita diwajibkan untuk mengawali ibadah dengan niat yang benar bahwa kita melakukannya hanya untuk Allah. Bahkan para khatib sering mengingatkan untuk selalu memperbarui niat yang mungkin sudah agak ‘usang’ dan berdebu, meluruskan niat yang mungkin masih ada bengkok, memantapkan niat yang mungkin masih agak rapuh. Niat yang kadang sementara orang merasa perlu dilafalkan, niat yang perlu terus diulang sehingga meresap, mendarah daging.

Mari meniatkan segala aktifitas kehidupan untuk ibadah hanya bagi Allah semata.

(selama ramadhan ini saya insyaaallah meniatkan untuk menulis setiap hari di blog ini 🙂 )

Advertisements