Entah kenapa suatu malam Affan rewel menangis tak karuan. Beberapa hari sebelumnya dia di rumah mbahnya beberapa hari. Saya berpikir apakah dia agak marah karena dia ditinggal di kampung dan tak ada orangtuanya yang menunggui. Tapi kalau melihat keseharian di rumah mbahnya affan tampak menikmati. Jadi sepertinya bukan itu masalahnya. Saya kebetulan saat membaca sebuah buku tak sengaja menemukan kemungkinan apa yang menjadi masalahnya. Istilahnya adalah terrible two, alias kekacauan tang dibuat saat anak usia sekitar 2 tahun. Salah satunya adalah membantah jika dilarang, suka melempar barang, suka marah, dan menangis tak karuan dll. Selain rewel tak karuan, gejala-gejala terrible two sebenarnya sudah terlihat agak lama, terutama soal lempar melempar. Entah berapa gelas piring yang jadi korban, juga remote TV, HP bahkan terakhir, laptop! Gejala melawan jika dilarang juga muncul sudah cukup lama. Pusing juga menghadapi kalau sudah begitu. Kalau dilarang malah menjadi-jadi, tapi apa ya tidak dilarang? Kalau beberapa hal kecil sih saya tak jadi masalah, semisal mencoret-coret tembok, tapi kalau sudah cukup mengkhawatirkan seperti menarik-narik tivi, membanting rice cooker, atau hal lain yang berbahaya ini cukup jadi masalah. Kadang dia nyadar sendiri kalau sudah merasakan akibatnya. Misalnya, tangannya pernah kena uap, atau ketika nekat makan cabe.

Yang agak menggelikan adalah ketika mulai menengenal kata ‘apa’. Tak urung pertanyaan mengalir terus menerus sampai pusing kehabisan jawaban. Saya jadi teringat seperti lagu permainan yang biasa dinyanyikan waktu Pramuka, yaitu lagu ‘makan apa’. Yang paling membuat pussing adalah tentusaja kalau sudah menangis ngamuk dan tak jelas maunya, seperti waktu malam itu. Dikasih mainan dilempar, dikasih makanan ditumpahkan, pokoknya nggak ada yang membuatnya berhenti. Mamanya tampaknya sudah menyerah. Saya lalu mendekatinya mengajak ngobrol, saya memposisikan dan menghargainya seperti orang dewasa, menanyakan apa maunya. Juga saya bilang kalau membuang nasi, kasihan mbah yang sudah menanamdi sawah,membawakan jauh-jauh, tapi malah ditumpahin. Lama saya ajak ngobrol dan member pengertian. Lama-lama ternyata melunak juga. Tangisnya mereda dan mulai mengambil nasi, memakannya, lalu bilang enaaakk! Kuncinya memang ketenangan dan kesabaran.

Konon terrible two ini sebenarnya dipicu oleh rasa ingin tahu dan upayya alamiah untuk bereksplorasi yang justru akan menjadi fundamen perkembangan anak saat dewasa. Bahkan anak berkembang dengan cara yang luar biasa. Tidak saja dia melakukan apa yang diajarkan, anak dapat melakukan atau menyimpulkan hal-hal yang tak pernah diajarkan. Dan masa-masa terrible two ini tak hanyamenjadi masa uji kesabaran dan membuat pening kepala, tapi juga masa yang menakjubkan