Beberapa hari tidak bersama anak rasanya ada sesuatu yang hilang. Hampir seminggu anak saya, Affan, ikut mbahnya di kampong karena kemarin istri saya ada tugas luar sementara pengasuh anak saya sakit dan harus opname. Saya sendiri nggak tega waktu anak saya dijemput untuk diajak mbahnya, akhirnya saya ikut pulang dan paginya balik lagi. Saya tak ingat usia berapa saya pertama kali pergi untuk lebih dari sehari semalam tanpa orang tua, sementara anak saya belum sampai 2 tahun sudah “berani” tanpa kami. Ada semacam rasa bersalah karena kami harus meninggalkan anak karena alasan pekerjaan. Sebenarnya sudah beberapa kali kami meninggalkan anak, tapi paling hanya sehari atau dua hari, itupun masih di rumah kontrakan kami yang anak saya sudah terbiasa dan ada pengasuh yang sudah biasa sehari-hari bersama anak saya. Jikasaja kami bebas menerima atau menolak tugas tentu anak yang menjadi prioritas.

Beruntung anak saya ternyata tanpa kami malah lebih dewasa, jarang sekali menangis, tidur malam tidak banyak ribut, tak suka melempar barang, hanya makan yang relative lebih sedikit. Selebihnya dia menjadi anak manis bareng mbahnya, terutama yang penting ada mbah kakung disampingnya maka dia tidak banyak rewel. Mbahnya juga senang karena jarang-jarang cucunya bertandang agak lama. Affan juga tak banyak bertingkah tidak seperti jika ada orangtuanya.

Hari-hari ini Affan sudah kembali ke Jogja. Senang melihat tawa lebarnya ketika dari balik kaca mobil melihat kami yang kebetulan berpapasan di jalan. Tak tampak rasa sedih, marah atau ngambek di wajahnya karena kami taidak bersamanya sampai beberapa hari. Nampaknya Affan malah menikmati masa-masa di kampung seperti sedang piknik saja. Rasanya malah kami yang merasa begitu kehilangan dan kesepian.

Maafkan kami nak, mudah mudahan ini juga menjadi pengalaman bagimu untuk belajar mandiri.

Begitu tiba di Jogja langsung main air seperti tak ada bedanya dengan biasanya