Marah adalah manusiawi. Tak semua hal yang kita inginkan terpenuhi dan sebaliknya ada hal-hal yang tidak kita ingini yang ternyata terjadi dan hal ini kadang membuat kita marah. Masalahnya adalah ketika marah ada banyak hal buruk yang jadi pelampiasan. Ada yang bilang bahwa marah perlu dilampiaskan karena jika tidak maka malah membuat kita tertekan. Tapi ada juga yang mengatakan marah yang dilampiaskan dapat berakibat tidak baik dengan kesehatan karena akan meningkatkan hormon cortisol (hormon stres) dalam darah yang dapat merusak otak dan mempengaruhi beberapa organ. Bukan itu saja, hal yang sama terjadi pada orang yang dimarahi.
Saya bersyukur bukan tipe yang gampang terpancing untuk marah dan juga tidak terbiasa menyimpan kemarahan. Saya bahkan sudah lupa kapan terakhir kali saya pernah benar-benar merasa sangat marah. Meski demikian marah tentu tidak selamanya buruk, bahkan dalam beberapa konteks marah itu menjadi keharusan. Namun, kemarahan haruslah disalurkan secara positif dan bertujuan jelas, tidak hanya sekedar melampiaskan emosi.

Kebalikan dari luapan kemarahan adalah ungkapan kasih sayang. Jangan biarkan anak atau orang yang kita sayangi marah atau cemberut berlama-lama. Berikan sentuhan atau pelukan untuk menunjukkan kepedulian kita. Secara medis, ungkapan kasih sayang akan meningkatkan hormon Oksitosin dalam darah yang berfungsi berkebalikan dari hormon cortisol.

Jadi, jangan biasakan banyak marah, mending biasakan menebar kasih sayang 🙂

Advertisements