Sekeras apakah kamu meneriakkan pekik takbirmu? Laksana halilintar memekakkan atau lirih, selirih angin pagi dingin yang menyeka embun dan dedaunan?

Kita mungkin sudah terbiasa berzikir, menyebut nama Tuhan dalam setiap kesempatan. Kita membaca bismillah, alhamdulillah, subhanallah, allahuakbar… Entah itu hanya di lisan atau (mudah-mudahan) adalah getaran dari hati. Terkadang lisan terucap dengan spontan, seolah kata yang tiba-tiba melompat. Namun, dalam beberapa kejadian, kita mungkin akan mendapati bahwa kalimat suci itu mengalir dari hati yang paling dalam.

Ketika Merapi meletus kemarin dulu, apa yang tampak di mata saya adalah sebuah kekuatan besar yang kita seakan menjadi sangat kecil. Tak terdengar pekik takbir yang keras untuk mengekspresikan perasaan betapa kecil manusia di banding gunung berapi, apalagi Sang Pencipta gunung berapi itu. Pengakuan kebesaran Tuhan justru tertanam di lubuk hati, diam-diam.
Kejadian lebih besar lagi adalah ketika gempa 2007 lalu. Hanya beberapa detik, tapi siapapun yang mengalami pasti tak akan lupa seumur-umur. Ketika detik bumi berguncang tak ada hal lain selain lari menyelamatkan diri. Sepertinya dunia akan kiamat. Tanah bergoncang seperti mau amblas. Kami hanya gemetaran berzikir lirih, Subhanallah dan ketika goncangan semakin keras kami hanya pasrah dan berzikir Allahu Akbar.. Bukan hanya lisan tapi dalam hati ada ketundukan luarbiasa, ada kepasrahan yang dalam, mengakui bahwa kita ini bukan apa-apa, mengakui bahwa keagunganNya meliputi apapun.
Meski melewati kejadian-kejadian itu, Saya bersyukur dapat merasakan zikir hati yang demikian dalam didalam hati, tak sekedar keluar dari lisan.

Jika melihat kejadian-kejadian sekarang, terus terang saya sangat sedih, tapi juga marah, malu, prihatin, semua campur aduk. Dulu pernah saya melihat tayangan di TV ada anak-anak TK mengadakan kegiatan semacam outbound, ketika selesai melompat atau menyelesaikan sesi fisik, setiap anak akan mengepalkan tangan dan berteriak Allahu Akbar. Saya merasa ada sesuatu yang mengganjal, entah apa. Tidak ada yang salah sih, tapi takbir itu seperti diajarkan kepada anak-anak sebagai semacam pekik kemenangan, ekspresi yang tentu tidak tepat jika kita melihat makna takbir itu sendiri.

Dan belakangan, lihatlah (di Youtube)  ketika pekik takbir itu menggema disana, tangan-tangan mengepal, lalu… pukulan kayu, lemparan batu, darah…

Apakah kita akan menyahut pekik-pekik suci itu dengan lebih keras? Ataukah kita hanya perlu mengucapnya dengan lirih dan syahdu, seperti angin pagi dingin yang penuh kasih menyeka embun dan dedaunan?

Advertisements