Suatu ketika seorang anggota senat yang masih muda dan dikenal brilian diundang secara khusus oleh Presiden AS. Namun ternyata anggota senat ini menolak dengan halus. Alasannya?
“Undangan itu bersamaan dengan jadwal pertandingan pertama baseball anak saya dan saya sudah berjanji untuk menyaksikan dan mendukungnya di pertandingannya itu.”
Tapi, bukannya Presiden kemudian marah, dia malah berkata: “Oke, kalau begitu kita ganti jadwal pertemuan kita.”

Saya tak tahu apakah cerita ini cuma fiktif atau benar adanya, tapi cerita ini membuat saya cukup terkesan. Kisah ini seperti menjadi gambaran dilema antara memilih karir profesional atau lebih mementingkan keluarga. Saya pernah menulis bahwa saya termasuk yang bisa dibilang family-centric (Baca tulisan saya Mangan Ora Mangan Kumpul), jadi saya berharap kisah semacam ini memang benar adanya, bahwa mementingkan keluarga menjadi prioritas yang utama.

Meski demikian saya tak kemudian menganggap bahwa mereka yang mementingkan karir lebih jelek, ini tentu tergantung dari sudut pandang masing-masing orang. Ketika ada teman yang bercerita bahwa dia sedang berdinas di luar kota saat kelahiran anaknya (dan dengan sudut pandangnya ini hal yang cukup heroik), kalau itu saya yang mengalami, saya pasti akan sangat merasa bersalah sekali. Tentu saja karena saya pasti akan lebih mementingkan keluarga, dan tak akan terlalu merisaukan kalau track record saya lalu dianggap buruk karena menolak tugas (saya merasa beberapa kali di posisi ini). Tentu saja bukannya saya tak mau profesional dengan terlalu mengutamakan keluarga tapi saya harus bersikap fair. Karena saya setiap hari bekerja dari pagi sampai sore (biasanya sampai hampir maghrib), begitupun istri saya, maka di siang hari anak saya lebih banyak dihabiskan bersama pengasuhnya daripada orangtuanya. Bukankah itu saja sebuah “pengorbanan” anak yang harus rela ditinggal orang tua demi pekerjaan.

Ketika tuntutan pekerjaan semakin banyak, waktu untuk keluarga semakin sedikit, tampaknya orang tua lah yang harus berkorban.
Kadang ada sebuah kesempatan emas dalam tak datang setiap saat yang berdampak besar terhadap jenjang karir ke depan (semisal undangan presiden seperti kisah di atas), tapi ada juga “manusia kecil” yang pada saat yang sama sangat membutuhkan kehadiran orang tua di momen yang sangat penting baginya (meski momen itu “hanya” hal sepele bagi orang dewasa, misalnya sekedar pertandingan sepakbola pertama atau pentas drama di sekolah). Disinilah butuh pengorbanan orang tua yang harus memilih dengan berani dan penuh kesadaran, seperti kisah di atas, menolak undangan presiden karena tahu betapa pentingnya pertandingan anaknya.

Dalam kondisi ini harus kita lihat dalam perspektif yang mungkin agak aneh: “Pertemuan dengan Presiden masih bisa dilakukan lain waktu, tapi ini pertandingan pertama anak kita, yang artinya tentu saja tak ada lagi “pertandingan pertama” seumur hidupnya.

Sekali lagi, bukannya menganggap penting pekerjaan dari keluarga kemudian menjadi jelek, itu tergantung konteks dan perspektif tiap orang dan tentu dengan tak menganggap remeh yang satu dengan yang lain. Dalam kondisi yang sekira masih memungkinkan untuk melakukan pekerjaan dan keluarga masih bisa sedikit menunggu, tak ada salahnya tugas tetap dilaksanakan. Di hari ketika istri saya akan melahirkan, saya masih meluangkan mengajar dan meninggalkan isteri di rumah sakit (setelah tahu bahwa proses kelahiran anak saya masih beberapa jam ke depan). Saya juga masih meluangkan mengajar di sebuah sesi di hari yang cukup genting, ketika Merapi meletus dan anak saya harus duluan mengungsi bersama mbahnya.
Bagi saya pekerjaan adalah penting, bahwa mendahulukan kepentingan orang banyak juga penting, tapi keluarga bagi saya adalah VVIP, yang juga sangat-sangat penting.