Suatu ketika Nasrudin Hoja didatangi seorang tetangganya yang bermaksud meminjam keledai.
“Bolehkah aku meminjam keledaimu barang sebentar?” tanya tetangganya itu.
Nasrudin sebenarnya tidak mau meminjamkan keledainya, tapi dia juga tak mau mengatakan hal itu. Ia lalu memutuskan untuk berbohong.
“Keledaiku tidak ada, sedang dipinjam orang,” kata Nasrudin dengan enteng.
Namun, sejurus kemudian terdengar keledai Nasrudin meringkik keras di belakang rumah.
“Lho, itu keledaimu ada di belakang?”
Nasrudin bersungut-sungut dan bernada agak marah ia berkata:
“Kamu ini lebih percaya aku atau keledaiku?”

Hari-hari ini kita mendengar kabar kehebohan soal kebohongan publik.  Menjadi hangat karena yang berkata bukan sembarang orang. Buktinya pemerintah begitu sigap menanggapi persoalan ini. Entah karena khawatir citra tercoreng atau takut dengan tokoh ini, yang jelas bahkan DPR yang kerjanya mengkritisi pemerintah pun kalah jauh. Meski begitu masih saja polemik sering digeser ke hal-hal yang bukan substansi, misalnya kata ‘berbohong’ terlalu vulgar, mestinya dipakai saja kata ‘gagal’, atau ‘ingkar janji’ atau yang lain (atau yang bener malah ‘gagal berbohong’ ? hehehe), tentu saja pemilihan istilah ini berkait soal citra.

Soal benar tidaknya data, alias bohong atau tidak tentu akan menajdi klaim dan perdebatan tanpa ujung. Yang penting kemudian adalah apa yang akan menjadi tindakan ke depan ini. Akan seperti ini terus atau akan ada perubahan. Kita lihat saja nanti.

Ini ada teka-teki logika. Jika Anda sedang berada di Kampung Pembohong yang setiap penduduknya bicara bohong, lalu Anda merasa terancam butuh bantuan seseorang, dan menemukan orang yang bersedia membantu Anda tapi dia lalu berkata: “Percayalah saya akan bantu Anda. Tapi saya ini orang jahat.”

Percayakah Anda akan orang itu?

Sekian dulu tulisan singkat ini ya, saya sedang tidak mood untuk menulis. Saya tidak bohong.

Advertisements