Setiap orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Demikian bunyi salah satu hadits. Ya, kita semua hakikatnya adalah pemimpin, dalam konteks dan areanya masing masing, baik itu pemimpin di suatu wilayah, pemimpin politik, pemimpin keluarga atau sekup yang lebih kecil sebagai pemimpin bagi diri sendiri.
Seorang pemimpin haruslah memiliki kelebihan dari yang dipimpin. Mungkin lebih pintar, lebih bijak, lebih sabar, lebih visioner atau gabungan dari semuanya.
Pemimpin haruslah mampu memberikan cinta, energi dan “kehidupan”, seperti matahari. Pemimpin tak meminta tapi memberi. Pemimpin tak akan bertanya “apa yang akan aku makan hari ini” tapi akan menanyakan “siapa dari mereka yang kupimpin yang belum makan hari ini”
Pemimpin harus ekstra sabar dan berhati lapang, seperti bumi yang meski diinjak-injak, dikeruk isi perutnya, atau (maaf) dikencingi tetap saja mempersembahkan bunga mewangi dan padi yang menguning. Kritikan atau makian tak hendak menjadikan seorang pemimpin mengeluh, sakit hati dan merajuk.
Pemimpin harus menjadi pemandu, seperti bintang bagi nelayan yang tersesat di samudra. Pemimpin harus visioner, mampu melihat jauh ke depan dan mampu memberikan gambaran masa depan itu kepada yang dipimpin sehingga semua orang menjadi satu tekad dan keyakinan untuk menuju dan mewujudkan masa depan itu.
Pertanyaannya, siapkah Anda menjadi pemimpin?

Advertisements