Waktu makan siang tadi kebetulan di jalanan depan warung soto tempat saya makan melintas beberapa kendaraan. Yang paling depan membunyikan sirine dan diikuti beberapa jip besar. Saya kira rombongan polisi atau pejabat tapi ternyata itu rombongan pengungsi yang mau pulang kampung. Rombongan ini cukup panjang sehingga saya selesai makan dan mau menyeberang harus menunggu. Banyak wajah-wajah lelah namun ada tersirat kebahagiaan.

Entah kenapa saya ikut terharu. Saya jadi merasakan bagaimana rasanya sekian lama harus mengungsi dan kini ketika semua aman dan kini saatnya pulang, meski entah bagaimana kondisi rumah dan kampung, apakah masih utuh atau sudah menjadi hamparan debu. Apapun di sana nanti, momen pulang dari mengungsi ini tentu jauh lebih baik dari saat berangkat mengungsi. Saya ingat ketika kondisi gawat-gawatnya merapi di jalanan orang berseliweran mencari tempat aman dalam kondisi psikologis yang jauh berbeda. Panik, khawatir, takut, serba tak pasti. Menembus debu dengan bermacam kendaraan dengan kondisi serba buru-buru, kebanyakan seperti saya, pakai motor saja. Banyak orang tua atau bahkan balita dan bayi yang diajak menerjang abu vulkanik di jalanan, kasihan sekali, padahal abu ini yang menurut saya jelas paling nyata bahayanya, terutama bagi anak kecil yang pasti susah disuruh pakai masker. Saya lebih beruntung dan bersyukur anak saya sudah lebih dulu dijemput mbah-nya pakai mobil.

Ketika siang ini melihat mereka yang balik dari mengungsi, sedikit banyak saya ikut merasakan kebahagiaan mereka juga, sedikit banyak saya mengalami hal serupa. Juga rasa hormat dan apresiasi besar pula kepada relawan yang banyak dari mereka sampai detik ini masih mendedikasikan diri bagi kemanusiaan. Kita ingat beberapa relawan tewas karena diterjang awan panas atau karena kelelahan.

Semoga hikmah dari kejadian ini selalu membuat kita selalu ingat untuk senantiasa bersyukur dan selalu berlindung diri kepada sang Maha Pencipta.

Advertisements