Ahad 20 Nopember lalu kami memutuskan kembali ke Jogja setelah 2 minggu “mengungsi” ke rumah orang tua di Sukoharjo Jawa Tengah. Kondisi Merapi yang sudah relatif stabil serta mempertimbangkan faktor fisik karena jarak yang harus ditempuh tiap hari untuk masuk kantor menyebabkan kami harus segera kembali dari pengungsian.

Kisah pengungsian ini sendiri sebenarnya cukup mendadak dan tanpa persiapan. Ceritanya ketika Merapi meletus pertama dan kedua kali kami masih tenang-tenang saja. Keluarga dan teman banyak yang menanyakan kabar berita. Saya selalu bilang bahwa kami cukup jauh dari imbas Merapi. Saya pikir kontrakan saya berada 30 KM lebih dari Merapi. Selain itu warga Jogja sudah terbiasa dengan kondisi Merapi yang kadang terbatuk-batuk, biasanya jarak bahaya relatif hanya beberapa kilometer saja. Meski berita di TV cukup dramatis, kami tak begitu terpengaruh. Bahkan ketika ramai merapi meletus waktu sekitar magrib yang menewaskan Mbah Marijan, kami malah tidak tahu beritanya ramai di TV. Kami malah baru tahu dari keluarga yang menelepon. Anak saya sebenarnya sedang menonton TV, tapi acaranya Upin Ipin.
Saya mengira letusan sore itu sudah puncaknya. Tapi beberapa hari kemudian aktifitas Merapi masih tinggi dan lagi-lagi masih meletus. Beberapa hari suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Jendela juga berderak-derak kecil. Saya sempat mengobrol dengan istri bahwa ada teman kantor yang letaknya masih di kota ternyata sudah siap untuk sewaktu-waktu lari mengungsi. Padahal jaraknya sangat jauh dari Merapi dibanding kontrakan saya. Tapi malam (4/11) itu ternyata di luar perkiraan saya. Merapi meletus lagi dan sangat besar. Letusannya terdengar bahkan getarannya terasa sampai rumah orangtua saya yang jaraknya lebih dari 65KM. Belakangan letusan ini katanya yang terbesar setelah 1 abad. Saya nyalakan TV beritanya sudah ramai dengan kepanikan orang lari mengungsi. Listrik tiba-tiba padam. Saya hanya dapat mengecek situasi melalui HP yang sudah hampir drop dengan memantau di twitter atau FB. Lalu terdengar suara seperti hujan lebat yang ternyata butiran pasir yang keras mirip kerikil.Bau belerang begitu menyengat bahkan dalam kamar sekalipun. Suasana di luar cukup sepi. Kami bertanya-tanya apakah tetangga masih di rumah atau malah sudah mengungsi semua. Saya keluar menuju pos ronda, ternyata ada beberapa orang yang standby. Banyak yang tidak saya kenal, mungkin petugas atau relawan. Saya relatif tenang karena ada yang memantau keadaan dan ada yang membawa HT juga sehingga info terbaru dapat segera diperoleh. Lokasi tempat saya ini termasuk yang cukup intensif dipantau karena berada hanya sekitar 50 meter dari bantaran Kali Boyong yang menjadi jalur aliran lahar Merapi sehingga cukup rawan juga, apalagi beberapa hari sebelumnya jembatan di dekat situ sudah ambrol diterjang material vulkanik. Saya sempat ngobrol dengan salah satu orang di pos bahwa letak perumahan yang saya tinggali ini sudah 20 KM jarak dengan puncak Merapi dan malam itu area bahaya sudah diperluas sampai 20 KM. Suasana malam itu mencekam sekali.
Saya segera pulang ke rumah dan kami segera menyiapkan pakaian anak saya untuk sewaktu-waktu mengungsi. Tapi untuk mengungsi malam itu saya kasihan dengan anak saya karena kami tak punya mobil dan hanya mengandalkan sepeda motor. Mengungsi di tengah hujan debu pasir di luar cukup deras cukup berbahaya bagi mata atau pernafasan utamanya anak kecil. Saya lalu menghubungi adik saya untuk menjemput ke Jogja pagi harinya dan menunggu pagi dalam gelap.
Pagi harinya saya masuk kantor dulu dan pulang lagi ketika keluarga saya yang menjemput sudah datang. Karena waswas juga, keluarga saya hanya sebentar dan segera pulang lagi dan anak saya ikut duluan. Saya dan istri masih harus ke kantor karena masih ada pekerjaan. Siang itu saya pun masih ada jadwal mengajar dan persiapan karena saya juga harus dinas di Makasar yang rencananya harus berangkat dalam beberapa hari ke depan sehingga kami harus balik kantor lagi. Siang itu di wilayah sekitar masih mencekam dan hanya beberapa menit setelah anak saya berangkat terdengar gemuruh di Kali Boyong, ternyata banjir lahar yang sangat besar, lebih besar dari sebelumnya. Subhanallah, di sungai yang jaraknya 20 KM saja kondisi nya seperti itu apalagi yang hulu di atas. Kami segera meninggalkan kontrakan dan menuju kantor. Saya masih sempatkan untuk mengajar meski ditengah waswas dan pakaian yang belepotan dengan abu. Alhamdulillah sore itu semua kegiatan akademik diputuskan untuk dihentikan atau ditunda dan besoknya hari sabtu-ahad libur jadi agak tenang untuk pulang ke rumah orang tua menyusul anak saya.
Dua minggu kemudian kami bolak balik tiap hari untuk masuk kantor meski capek sekali. Jarak yang ditempuh sekitar 55Km jadi dalam sehari saya boncengan dengan istri menempuh 100Km lebih. Saya juga harus membantu Posko Pendidikan di kantor meski tidak bisa maksimal karena saya sendiri juga harus mengungsi. Untuk sesekali menginap di Jogja kami kasihan juga mengingat anak saya juga sempat panas tinggi dan ada gejala ISPA.
Dan Alhamdulillah semua sudah kembali normal. Dan kami kembali ke Jogja lagi, bersih-bersih rumah yang penuh debu serta kembali rutinitas biasanya. Anak saya Alhamdulillah juga tidak rewel harus bolak-balik dan mungkin banyak mendapatkan pengalaman baru selama di rumah mbah-nya. Momen ini juga barangkali menjadi penting baginya bahkan bagi saya juga, untuk menjadi bagian dari sebuah sejarah yang tidak dialami setiap orang. Debu yang menempel di sekitar rumah masih tebal dan sulit sekali dibersihkan meski sudah berhari-hari. Mungkin seperti itu pula, biarlah peristiwa ini menjadi momen yang penting dan tak mudah untuk dilupakan dan tentu saja harus pula disyukuri karena kita masih dapat mengalaminya dan masih dikaruniai keselamatan dan kesehatan.