Daging Qurban^Qurban memiliki beberapa hikmah dan makna. Seperti saya singgung di tulisan sebelumnya, Idul Adha sebenarnya memiliki momen yang cukup menarik yakni sebuah kebersamaan, setidaknya bagi saya pribadi. Namun, hal menarik lain adalah qurban itu sendiri. Di beberaepa kalangan masyarakat, terutama di jaman dulu, qurban dan persembahan biasanya dipersembahkan untuk tuhan atau dewa, sepenuhnya, artinya persembahan itu tak dimanfaatkan oleh manusia. Di budaya lokal ada juga misalnya sesajen. Qurban dalam ajaran Islam cukup unik karena hewan qurbannya sendiri, meskipun diniatkan untuk “dipersembahkan” kepada tuhan tapi dagingnya sendiri dibagikan untuk dinikmati bersama-sama. Beberapa ibadah sebenarnya juga senada. Misalnya sholat. Sholat adalah ibadah khusus yang diawali dengan takbir, mengagungkan nama Allalh namun ditutup dengan salam doa keselamatan. Disini ibadah seperti sebuah isyarat untuk tunduk patuh secara vertikal kepada Allah namun imbasnya haruslah mengalir secara horisontal kepada sesama. Ada dua dimensi yang melekat disana, dimensi pengabdian kita sebagai mahluk kepada pencipta, juga dimensi sosial sebagai sesama mahluk.
Bukannya daging qurban-nya yang sampai kepada Allah, tapi ketakwaan kita-lah yang sampai disana. Dagingnya kita nikmati bersama.

Advertisements