Peristiwa meletusnya merapi tentu saja membuat banyak penderitaan. Namun, sebagai sebuah peristiwa alam yang tak dapat dikontrol Merapi sesungguhnya sedang mengajarkan banyak hal. Di antaranya adalah rasa kemanusiaan di antara kita. Betapa tidak, banyaknya korban, banyaknya pengungsi, banyaknya penderitaan itu juga menyulut banyak rasa kemanusiaan.
Tanggal 10 November, di hari pahlawan, saya kebetulan mendapat tugas untuk mengunjungi beberapa lokasi pengungsian di wilayah dekat perbatasan Sleman-Magelang. Meski tak parah secara fisik akibat awan panas, ternyata abu vulkanik nya saja banyak meluluhlantakkan perkebunan salak di sana. Penduduk juga harus mengungsi karena sudah masuk zona rawan. Di salah satu titik pengungsian saya menemui seorang ibu-ibu yang bertugas mengkoordinasi pengungsi. Awalnya saya kira ibu ini warga setempat. Ternyata dia adalah relawan yang sebenarnya adalah pegawai puskesmas di wilayah lain. Dia bahkan harus meninggalkan keluarganya sendiri untuk kemudian melayani para pengungsi. Hampir dikata dia hanya sendiri, hanya dibantu beberapa relawan mahasiswa yang sesekali datang.
Ibu ini bercerita banyak tentang bagaimana susahnya mengurusi pengungsi bahkan aparat pemerintah setempat-pun tak sanggup. Satu hal yang menjadi kekuatan ibu ini dan selalu disampaikan kepada anak-anak yang ditinggalkan di rumah, bahwa ini semua adalah jihadnya, juga anak-anak yang ditinggalkan adalah jihad mereka untuk rela ibunya berjauhan dari keluarga.
Jika Anda skeptis bahwa masih ada pahlawan di jaman seperti ini, maka di wilayah bencana anda akan menemukan banyak pahlawan. Mereka yang tergerak untuk rela menguras energi, menghabiskan waktu, bahkan menyabung nyawa demi kemanusiaan. Hari-hari ini kita mendengar banyak relawan yang ambruk jatuh sakit, yang tewas diterjang awan panas, yang meninggal kelelahan. Mereka pahlawan yang tak ingin imbalan apa-apa. Salut untuk mereka.