Setelah kemarin saya menulis tentang konsistensi, khususnya tentang tetangga saya yang meski dengan keterbatasan masih mau berjuang keras untuk shalat jamaah di masjid, kali ini saya masih akan menulis tentang konsistensi lagi. Diriwayatkan bahwa suatu ketika Rasulullah bermimpi tentang surga dan di sana beliau mendengar suara terompah Bilal. Ketika Rasulullah menanyakan kepada Bilal apakah gerangan amal yang dilakukannya sehingga suara terompahnya sampai terdengar di surga. Dijawab Bilal bahwa dia selalu shalat setiap kali usai berwudlu. Sedemikian konsistennya melaksanakan amal itu sehingga frekuensi langkah terompahnya pun seirama dengan frekuensi surga.

Sewaktu kuliah dulu, saya kos di suatu daerah di Jogja. Ada sebuah masjid di kampung itu yang setiap didirikan shalat jamaah ada seorang yang memiliki keterbelakangan mental, usianya mungkin 25-30 tahun. Setiap shalat wajib hampir dipastikan dia hadir. Shalatnya mungkin sampil nengak-nengok atau ketawa sendiri. Kadangkala kalau ribut dan marah menjadikan jamaah cukup terganggu juga. Tapi di balik itu semua ada sebuah konsistensi yang luar biasa, yaitu keteguhan untuk selalu shalat 5 waktu dan berjamaah. Kalau di mata manusia mungkin dia bisa saja dianggap pengganggu kekhusukan atau kerapian dan kesempurnaan berjamaah, tapi siapa yang dapat menyangka bagaimana Allah melihat amalnya? Siapa yang menjamin sholatnya yang cengar-cengir itu malah yang diterima, sedangkan kita yang sudah dikira sangat khusu’ ternyata malah sebaliknya?
Siapa yang sangka bahwa sepersekian kesadarannya dibanding orang lain yang waras tapi yang sedikit itu diisi oleh ibadah yang begitu konsisten. Sedang yang katanya orang waras malah porsi untuk ibadah sangat minim. Sekali lagi, Tuhan tak melihat apa yang kasat mata tapi apa yang di hati.

Suatu ketika saya mendengar cerita dari teman saya bahwa dulu di kampung itu pernah ada pengajian yang diisi oleh salah seorang kiyai yang dikenal ‘alim di Jogja, boleh dibilang ulama sufi yang sangat disegani (sekarang sudah almarhum). Ketika selesai pengajian dan orang berebut salaman dan cium tangan dengan kiyai tersebut, tak disangka-sangka justru sang kiyai ini lalu malah menjabat orang yang mental terbelakang itu dan mencium tangannya! Entah apa yang dilihat oleh kiyai ini kita tak tahu pasti. Wallahu a’lam bisshawab