Saya punya tetangga di kampung yang dikenal punya kesadaran mental yang bisa dibilang kurang sehat, meski juga tak bisa dibilang terbelakang. waktu kecil saya ingat kalau dia cukup waras masih cukup nyambung kalau diajak bicara. Ia sering bekerja memecah batu. Waktu itu beberapa kali dia jatuh atau luka yang parah. Sekarang nampaknya makin parah, bicara sulit nyambung, tak lagi bisa berjalan, hanya bisa mengesot.

Namun di balik semua itu Ada hal yang cukup menarik, yaitu konsistensi. Setiap kali sholat wajib hampir dipastikan dia selalu sholat jamaah ke masjid. Untungnya rumahnya tak begitu jauh dengan hampir mengesot. Menariknya lagi, dia selalu berpakaian bersih dan disetrika rapi (tentu disiapkan istri atau anaknya). Saya katakan menarik pula karena keluarganya termasuk berkekurangan sehingga berpakaian bagus di masjid menjadi perhatian khusus saya, seperti menandakan bahwa sholat di masjid adalah momen paling berharga baginya. Bandingkan dengan kebanyakan kita, termasuk saya, yang seringkali hanya berpakaian yang biasa saja atau seadanya saat sholat.

Beberapa waktu lalu, di akhir ramadhan, saat saat solat subuh saya kebetulan berada tak jauh darinya. Ketika rakaat pertama dia menggapai dinding masjid untuk berdiri. Mungkin karena dinding itu licin dan kordinasi tubuhnya sudah tak bagus ia jatuh terjengkang, saya kaget karena ia jatuh dengan kepala bagian belakang terbentur keras lantai, tepat di hadapan saya. Suara benturannya membuat saya tercekat dalam sekian detik. Sesaat diam lalu bangkit lagi sambil cengar-cengir..

Ternyata dia sudah begitu, sudah biasa, orang-orang yang melihatnya juga sudah biasa. Puluhan atau mungkin ratusan kali! Tak kapok-kapok juga!

Entah kenapa saya trenyuh dan malu. Dia dengan kondisi begitu bisa konsisten berjamaah, dengan susah payah berdiri menegakkan sholat. Kita hanya karena ngantuk dan capek enggan ke masjid, hanya karena kaki keseleo dikit lalu memilih solat sambil duduk.

Konsistensi yang dimiliki tetangga saya ini patut diacungi jempol. Di balik wajah idiot dan cengengesannya, dia barangkali telah dapat mengikuti frekuensi dan tempo zikir di level yang jarang dicapai orang. Bukankah Allah hanya melihat ke dalam hati hamba-Nya, bukan melihat tampilan fisiknya?

Tetangga saya itu namanya Asmuni..