Anda pasti pernah melihat iklan di tivi tentang seorang ibu yang ditunggu anak dan menantunya. Si anak melihat ibunya di kamar, sedang memakai jaket, lambat sekali. Si menantu berteriak ”Jadi ikut nggak sih ibu kamu?” dan seterusnya.
Kemarin waktu berangkat sholat ied kami agak tergesa-gesa. Saya sengaja membangunkan affan lebih pagi karena harus memandikan dan mempersiapkan pernik-perniknya lebih dini. Tempat sholat kebetulan di lapangan balai desa yang lumayan jauh. Meski begitu, kami masih lumayan tergesa-gesa. Hampir jam 6.30 baru semua siap. Istri saya sempat berseloroh ”Santai saja, lha wong imamnya masih di rumah” Kebetulan memang mbah-nya Affan yang mengimami sholat ied dan waktu itu masih dirumah juga dan baru berangkat.

Di rumah tinggal saya, istri, Affan dan adik saya yang jadi sopir. Agak beberapa lama kami harus menunggu mbah buyut-nya Affan yang belum kelihatan. Mbah tinggal dengan bulik yang rumahnya berdempet dengan rumah bapak saya. Mbah buyut sebenarnya sudah bangun dari pagi. Beliau rutin untuk sholat 5 waktu di masjid dan membaca Quran setelah sholat magrib, dzuhur dan subuh. Pagi itu ternyata mbah masih memilih pakaian dan sarapan pagi. Sambil menunggu Affan malah mengejar-ngejar ayam. Mbah baru kelihatan setelah beberapa menit dengan santai. Ketika adik saya bilang kalu sudah hampir telat, beliau hanya menjawab dengan santai: “Lha wong masih terlalu pagi”. Kami berangkat dengan jalanan sudah sepi. “Lha ini sudah sepi Mbah” Kata adik saya sambil memegang setir. Mbah menjawab dengan ringan “Ya nanti disana kan juga ramai”.
Sampai di tempat sholat, ternyata memang sudah sholat ied sudah dimulai. Nampaknya kami memang yang paling terakhir datang. Jamaah sudah penuh dan meluber ke jalan sampai ratusan meter dari balai desa. “Wah, sudah telat!”, kata mbah buyut.

Saya segera menggendong Affan dan langsung menggelar sajadah dan menyusukl ikut sholat. Affan malah rewel mau ikut mamanya yang menuju ke emperan rumah paklik saya. Adik saya yang masih belum memulai shoat yang akhirnya mengantarkan Affan. Walhasil dari kami berempat hanya saya yang tidak masbuq (ketinggalan rakaat) sholat ied.
Usai sholat kami malah mampir di rumah paklik yang berada pas di depan saya sholat ied. Jamaah yang di ujung memang sudah pada beringsut karena panas dan khutbah ied tak begitu jelas didengar. Padahal yang khutbah itu paklik, kami malah sudah mampir di rumahnya.
Nampaknya inilah kesan tersendiri lebaran tahun ini. Alih-alih jengkel atau marah (seperti di iklan) karena harus menunggu mbah yang menyebabkan telat, saya malah sangat bersyukur karena mbah buyut yang dengan usia begitu lanjut masih sehat dan bersama ikut berlebaran. Saya berdoa semoga akan masih banyak lebaran yang kami lewatkan bersama di waktu mendatang. Dan semoga dikabulkan doa mbah sewaktu kami sungkem untuk selalu “diparingi tetep iman”