Sewaktu kecil saya suka meihat bintang-bintang di angkasa. Di kampung yang masih gelap belum ada listrik, ketika cuaca cerah, begitu sempurna untuk menyaksikan langit malam. Mengamati rasi-rasi bintang yang spektakuler. Lebih takjub lagi ketika saya tahu bahwa setiap bintang yang jumlahnya milyaran itu bisa jadi adalah matahari-matahari dengan galaksinya sendiri yang sangat kompleks dengan planet, bulan, orbitnya dll. Saya bertanya-tanya berapa jauh bintang itu dari bumi, ternyata bisa jutaan tahun cahaya! Artinya, ketika melihat kelap kelip bintang itu, itu adalah cahaya yang bisa jadi sudah ribuan atau jutaan tahun lalu.
Galaksi terjauh yang sejauh ini dapat dikenali adalah Galaksi Abbel Abell 1835 IR1916 yang diperkirakan berjarak lebih dari 13 milyar tahun cahaya dari bumi. Bandingkan dengan jarak matahari-bumi yang “hanya” sekitar 8 menit cahaya.
Sekarang lihat sekeliling kita. Lihatlah orang-orang. Setiap manusia adalah kumpulan sistem yang kompleks, dari yang bersifat fisik sampai yang immaterial, seperti pikiran atau yang lebih lagi adalah jiwa. Memandang setiap manusia di mata saya seperti saya memandang bintang dengan galaksinya itu. Sama sama misterius dan menakjubkan.

Hari-hari ini ramai orang membicarakan Stephen Hawking yang dari penelitiannya tentang kondisi planet dan matahari di sebuah galaksi dia menyimpulkan bahwa tuhan bukanlah pencipta alam karena alam ini tercipta secara spontan dan dengan sendirinya. Karena ada hukum gravitasi, alam semesta bisa dan memang terbentuk sendiri dari ketiadaan, kata Hawking. Ini mungkin mirip salah satu polemik tentang teori tentang asalmula kehidupan yang pernah diajarkan di sekolah dulu. Menjadi pembicaraan banyak orang karena Hawking bukan orang sembarangan. Kapabilitas keilmuwannya sudah diakui, yang mengagumkan adalah ia bahkan menjadi tokoh melahirkan karya besar dari kursi rodanya, bahkan bicaranya seperti robot karena pita suaranya tak lagi normal dan harus dipasang alat bantu. Hawking jelas punya pengaruh bagi banyak orang.

Lepas itu semua, saya tak hendak memperbincangkan lebih jauh soal Hawking, saya lebih ingin menggarisbawahi bagaimana manusia ini selalu gelisah mencari tuhan. Dalam sejarah manusia rasa ingin tahu tentang tuhan ini selalu menjadi sebuah tema maha penting. Karena tuhan orang membangun peradaban besar tapi juga menjadi alasan bagi perang dan pembantaian yang mengerikan, hingga sekarang.

Menemukan dan mengenal Tuhan memang tak mudah. Banyak orang harus menempuh jalan panjang terjal dan berliku untuk menemukan-Nya. Ada yang melalui jalan logika, ada pula jalan penyucian diri, dan banyak lagi. Hawking, dengan jalan logika dan pengalaman empiriknya gagal menemukan tuhan. Banyak di antara kita berbicara dan bertindak seolah paling mengenal tuhan, tapi sebenarnya gagal mengenali-Nya pula.

Saya justru berpendapat bahwa saking besarnya kuasa Sang Pencipta ini sampai sebegitu detil dan rumitnya hukum alam, sebegitu besarnya, maka tak mungkin tak ada yang menjadi Sang Maha Pengelola. Hawking mungkin tak menemukan Tuhan dari apa yang dilihat dan ditelitinya, karena Tuhan ”bekerja” di level yang lebih tinggi lagi. Hukum alam memang ada, tapi Tuhan tidak ”bekerja” di tataran itu, Dia yang menciptakan hukum itu.
Allahu Akbar!