Murung Benderaku
Saya akhirnya memasang bendera merah putih itu di tiang depan kontrakan, pagi sebelum berangkat upacara. ya, sedikit banyak masih ada patriotrisme dalam diri saya, bukan karena takut dimarahi pak RT. Tapi, saya perhatikan bendera saya ini tak nampak gagahnya, seperti layu, tertunduk, sedih, murung…

Entah ini sudah sejauh mana republik ini terseok seok menghadang zaman. Tak terhitung harus jatuh bangun. Dan bagi yang tumbuh di akhir transisi orde baru, seperti saya ini, mungkin merasakan betul kegalauan akan masa depan bangsa ini. Di ujung era orde baru dulu ibaratnya seperti bisul dan lalu tinggal ditusuk jarum pecahlah ia. Ada semacam kelegaan, harapan akan sesuatu yang sudah parah ini akan jd lebih baik.nyatanya luka bisul itu tak juga sembuh, malah terjadi infeksi. Luka menganga dan tambah sakit saja.

Dulu orang takut bicara, malu kalau korupsi. kini, banyak yang level pejabatpun bicara ngawur. korupsi tak sungkan, dimana-mana kekerasan dan perkelahian.

Saya merasa kegalauan ini nampaknya makin membuat prihatin, bukan tak mungkin infeksi ini akan menoreh luka lagi. Alam pun seperti memberi isyarat itu. o, bangsaku yang malang…

Advertisements