Mangan Ora Mangan Kumpul, demikian bunyi pepatah Jawa, artinya kurang lebih adalah : “makan tidak makan yang penting berkumpul”. Orang banyak memaknai pepatah ini bahwa orang Jawa tak suka merantau, lebih senang hidup bersama keluarga, membangun rumah yang dekat dengan orang tua atau keluarga. Lebih mementingkan berkumpul daripada hidup lebih layak. Menurut saya sebenarnya ini adalah tafsiran yang agak keliru. Pemahaman saya bahwa mangan ora mangan kumpul lebih bermakna sebagai budaya yang tak membeda-bedakan persaudaraan berdasar materi. Biarpun kaya atau miskin, tak ada bedanya dalam hal persaudaraan. Jadi pepatah ini tak hanya berbicara tentang “jarak” dalam artian fisik saja, tapi juga berkumpul dalam artian “kebersamaan”. Saya bersyukur lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang meski sederhana tapi tak kurang dalam memaknai sebuah hangatnya kebersamaan. Dulu saya sering menganggap keluarga saya hanya biasa saja bahkan sering merasa banyak keluarga lain yang jauh lebih baik dan berbahagia, mungkin ketika melihat lebih ke sisi materi. Belakangan setelah mengalami banyak hal, mengenal banyak kawan dengan berbagai latar belakang, saya belajar dan merasakan betapa berbahagianya saya. Belakangan, setelah berkeluarga, saya banyak pula kemudian memahami bagaimana menjadi orang tua atau bagaimana orang tua kita dulu bersikap.

Sewaktu saya masih lajang, ketika saya sedang kuliah S2, saya kebetulan pulang kampung saat liburan. Saya agak jarang pulang kampung karena jarak yang cukup jauh. Orang tua saya mengajak berbicara agak serius. Saya langsung menangkap bahwa ini pasti tak lain berkait tentang satu hal, nikah! Intinya saya ditawari untuk dijodohkan. Saya hanya diam saja. Saat itu saya masih menghadapi masalah kuliah yang cukup ruwet, saya bahkan khawatir juga kalau sampai tak lulus. Jadi soal mau dijodohkan itu saya tidak respon selain saya waktu itu umungkin agak angkuh untuk memilih jodoh saya sendiri 🙂 Melihat saya yang tak ada responnya, orang tua saya akhirnya mengalah. Ibu saya hanya bilang, ya sudah, tapi kalau mau cari istri sendiri, tapi jangan yang kaya dan jangan yang jauh.

Dua hal yang diminta ibu saya ini setelah saya artikan ternyata terkait juga dengan pepatah di atas. Soal jarak yang tidak jauh tentu berkait dengan “kumpul”-nya keluarga. Semakin jauh jarak, tentu akan semakin sulit betemu dan berkumpul. Tapi yang agak unik adalah soal menjari jodoh yang “tidak kaya”. Saya kira cukup unik bahwa itu terkait dengan soal “mangan”. Seringkali kita lihat bahwa soal “mangan” atau kekayaan ternyata banyak menjadi pemicu retaknya atau minimal mengendurnya kekeluargaan. Ketika menjadi orang kaya, menjadi orang penting, waktu untuk keluarga apalagi jarak yang jauh akan menjadi sebuah persoalan. Tak sedikit realita di masyarakat bahwa kekayaan menjadikan gap atau semacam kastanisasi antar keluarga. Ketika setelah berkeluarga dan memiliki anak, saya baru merasakan, betapa berkumpul keluarga adalah kemewahan yang berlimpah. Saya juga tiba-tiba saja menjadi setiap saat ingin dekat dengan orang tua. Ketika orang tua datang atau ketika pulang kampung menjadi sebuah momen yang selalu saja istimewa. Di saat yang sama saya merasa bahwa kedekatan tak sekedar “kabar” yang bisa diperoleh dari telepon atau SMS, entah kenapa bagi saya kedekatan secara fisik dengan orang-orang terdekat terasa jauh lebih istimewa. Teknologi apapun tak dapat menggantikan. Pertimbangan ini pula yang salah satunya menjadikan saya untuk menghindari bekerja di tempat jauh, meski ditawari dengan iming-iming.
Di titik ini justru sepertinya pengalaman pribadi saya malah menunjukkan bahwa saya malah merasakan bahwa antara mangan dan berkumpul secara fisik dengan keluarga adalah sama berharganya. Dan betapa jiwa merantau saya ternyata cukup rendah.
Bagi Anda yang menantikan sekian waktu lama untuk mudik di lebaran besok, nikmatilah momen istimewa berkumpul keluarga dengan sebaik-baiknya.

Advertisements