Tuhan punya kehendak yang kadang seperti sesuatu yang kita rasakan sebagai ironis, dalam bahasa yang lebih vulgar, semau Dia. Saya barusan posting tentang betapa penatnya bekerja yang hampir pulang tiap malam dalam beberapa hari ini. Tapi melihat banyak orang di jalan masih sibuk dengan aktifitas, menemui beberapa orang yang kesulitan mendorong motor yang mogok, entah karena kehabisan bensin atau ban bocor. Saya pernah mengalami susahnya ban bocor atau bensin habis padahal sudah malam dan jauh dari tambal ban atau yang jual bensin (lebih parah lagi waktu di bandung karena tidak ada bensin eceran). Jadi waktu beberapa malam ini baru pulang telah masih saja menyisakan syukur, masih saja sempat bermain dengan anak mesi sebentar. Tapi malam itu ternyata lain.

Saya sempat menulis sedikit posting ini sebelum saya meninggalkan kantor, ya, penat tapi tetap bersyukur. Hanya beberapa menit setelah meninggalkan kantor dan setelah posting saya itu terbit di blog, di jalan yang agak gelap, ada kubangan air yang membuat aspal jadi licin, sementara ban motor saya sudah “gundul” dan waktunya ganti. Tiba-tiba, entah dari mana di saat dan tempat yang serba tepat itu seekor kucing tiba-tiba nyelonong. Saya kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh terseret beberapa meter. Saya beberapa saat tak bisa bangun, meski tak pingsan, lalu ditolong beberapa orang disitu, penjual Indomie dan ibu yang buka salon. Saya mendapati tangan saya dan bahu seperti kaku. Digerakkan sedikit saja sakit bukan main. Saya pernah beberapa kali jatuh, tapi bisa pulang sendiri naik motor lagi. Tapi ini benar-benar saya tak sanggup. Saya lalu telpon istri dan dijemput kakak saya. Malam itu langsung mampir apotik beli antibiotik (dengan resep sendiri  ). Karena sudah malam saya tanya kakak saya yang biasanya konsul soal kesehatan ternyata sudah tidur. Jadi minum obat sendiri dulu. Tapi kalo tangan dan bahu yang tak bisa digerakkan tak berani dipijit, takut ada tulang yang bermasalah. Semalaman tidur miring sebelah sambil menahan sakit.

Besoknya semua keluarga saya datang dari kampung, mbawain daun binahong atau apalah yang perihnya minta ampun itu. Mau diajakin juga tukang pijitnya 😀 tapi gak jadi. Saya baru priksa tadi malam diantar adik saya. Untuk memastikan, saya foto rontgen juga. Alhamdulillah tak ada masalah di tulang. Hanya mungkin keselo otot.

Kehendak Tuhan memang kadang terasa aneh. Ketika bersyukur bahwa meski penat tapi bisa pulang dengan lancar, justru malam itu malah saya kecelakaan, hanya beberapa menit saja tulisan rasa syukur itu terbit di internet. Ironis mungkin. Bukankah kalau bersyukur kita akan mendapatkan nikmat yang lebih? Sekali lagi Tuhan berkehendak yang sama sekali tak kita duga. Tapi tentunya meski kejadian itu tak lantas membuat saya berkurang syukur. Bukankah saya toh hanya beberapa luka dan tak ada yang fatal. Tak perlu menyalahkan jadwal yang sampe malam itu atau merutuki jalan gelap, atau ban yang gundul, atau kucing yang nyelonong seenak perutnya itu. Tuhan mungkin hanya menguji sedikit saja atau mungkin hanya mengingatkan. Jadi setidaknya insiden jatuh saya ini juga perlu disyukuri, betapa msih dilindungi dari kejadian yang mungkin lebih parah, juga ditunjukkan bahwa dikarunia kehangatan keluarga yang begitu peduli. Lalu apalagi nikmat yang tak disyukuri?