Saya dibesarkan di lingkungan muhammadiyah, bersekolah di sekolah Muhammadiyah. Apa yang saya ingat dari pelajaran kemuhammadiyahan di sekolah adalah bahwa organisasi ini adalah organisasi pembaharu dengan gerakan pembaharuan atau disebut tajdid melawan kebekuan atau jumud. Apa yang dilakukan Kiai Dahlan 100 tahun lalu memang fenomenal. Gerakan tajdid begitu menginspirasi dan menggerakkan jutaan orang di pelosok negri. Tak terhitung berapa jasa dan produk muhammadiyah di bidang akidah, kesehatan, pendidikan, dan bidang lain.

Namun, setelah 100 tahun, timbul pertanyaan di benak saya, apakah lalu Muhammadiyah merasa cukup dengan itu semua? Menurut saya harusnya tidak. Ketika berhenti pada titik itu saja maka Muhammadiyah telah jatuh kepada kejumudan yang diperanginya sendiri. Ketika seabad lalu apa yang dilakukan adalah pembaharuan yang revolusioner, tapi ketika produk pembaharuan itu saja yang dipertahankan maka kini, 100 tahun kemudian, pembaharuan menjadi mati, jumud. Sekedar catatan, saya senang berteman dengan berbagai latar belakang. Jujur saja, dalam beberapa hal saya malah merasakan energi pembaharuan yang besar dari kawan-kawan NU, utamanya generasi mudanya.

Dalam rentang abad baru ke depan, saya kira sudah saatnya muhammadiyah mengambil peran strategis dalam sejarah bangsa ini bahkan tingkat dunia, lebih serius dengan isu-isu yang lebih riil dan urgen; pengentasan kemiskinan, degradasi moral, lunturnya nasionalisme juga isu-isu global; perkembangan teknologi, diplomasi dan pergaulan internasional, lingkungan hidup, perdagangan bebas dll. Terlalu berat? jawabnya, memang! tapi itulah yang akan kita hadapi di abad mendatang. It’s now or never. Tinggalkanlah era gontok-gontokan di masa lalu. Tak elok lagi kita kalau masih meributkankan qunut dan tahlil sementara dunia telah dikuasai Google dan Facebook. Tak patut lagi masih bertengkar soal melihat bulan sementara orang Amerika bahkan sudah mendarat di sana.