Anak usia sekitar setahun suka memasukkan apa saja di mulutnya. Dia mungkin punya rasa curiousity, penasaran, dengan apa saja dan ingin dirasakan di lidah dan mulutnya. Anak saya yang dalam usia ini pun tak jauh berbeda. Banyak barang-barang yang mampu dipegangnya kemudia digigit atau dimasukkan di mulut. Tak peduli itu makanan atau apapun. Ini tentu membuat was-was dan harus menyingkirkan barang-barang kecil yang sewaktu-waktu dapat diambil dan dimasukkan ke mulut.
Pernah dia menggigit kertas, pernah ada potongan kecil balon berwarna biru, sering juga potongan plastik, untung selalu ketahuan dan kami harus susah payah membuka mulut dan mengeluarkannya. Pernah suatu kali anak saya seperti tersedak lalu muntah, setelah dilihat di mulutnya ada potongan plastik yang agak tebal yang tidak tahu dia dapat dari mana. Bahkan malam ini, baru ditinggal beberapa detik saja, saya mendapati dua jarum jam weker kecil sudah ada di mulutnya! Tak henti-hentinya kami memberi pengertian, tapi namanya anak, jika dilarang malah makin penasaran.

Dalam arti yang lebih luas, seperti inilah sebenarnya kondisi anak sekarang. Setiap saat anak berinteraksi dengan berbagai media, TV, internet dimana mereka mendapat beragam informasi. Mereka sangat mungkin tak tahu mana informasi yang benar dan sehat. Bisa saja mereka ‘menelan mentah-mentah’ tanpa kita ketahui atau saat kita lengah sedikit saja. Masih segar di ingatan anak-anak yang masih SMP yang lari atau dilarikan pacar yang hanya dikenalnya di facebook. Apa yang ada di pikiran mereka ini jauh dari apa yang kita pikirkan.
Kita, sebagai orang tua, guru dan pendidik menjadi hal wajib dalam mengikuti apa yang terjadi dengan mereka, dengan dunia mereka. Bukannya kita hanya bisa melarang ini itu, kita justru harus berada di dunia mereka, memastikan bahwa apa yang mereka lakukan tidak salah jalan. Dan dunia mereka kini adalah dunia teknologi, dunia internet. Kita mau tak mau harus paham dengan Google, FB, Twitter, dan bagaimana psikologi anak dalam bersosialisasi di jejaringnya.

Advertisements