Mengamati perkembangan anak sangat menarik bahkan menakjubkan. Melihat anak belajar merangkak atau berdiri atau belajar ‘mengoceh’ tanpa arti sampai berusaha mengucap kata yang bermakna menunjukkan betapa anak merupakan pembelajar yang gigih. Meski jatuh bangun dia tetap saja mencoba dan terus mencoba sampai bisa. Hal yang kadang dilupakan ketika kita dewasa, ketika kita menjadi mudah menyerah. Lagipula kata pepatah, belajar di waktu kecil seperti mengukir di atas batu, belajar di usia dewasa seperti mengukir di air.
Ketika kita mempelajari sesuatu informasi sinyal akan diterima dendrit di sel syaraf atau neuron dalam otak akan bekerja mengolah informasi lalu melalui axon dan dendrit akan mengirimkan ke neuron lain dan membentuk semacam hubungan. ada jutaan sel syaraf dalam otak yang mana satu sama lain dapat saling terhubung. Semakin banyak sel dan cabang dendrit serta hubungn dengan sel lain maka semakin cerdas seseorang.
Saya pernah melihat video tentang metafora ketika orang belajar sesuatu, seperti melewati jurang. Neuron satu dengan yang lain ibarat bukit. Ketika belajar sesuatu yang baru maka akan terbentuk hubungan sederhana, digambarkan sebagai satu tali dan orang amat susah ketika pertama melewati jurang. Kali kedua tali ditambah dan seterusnya sampai kemudian dibuat anak tangga jembatan satu demi satu dan akhirnya menjadi jembatan yang mudah untuk lalu lalang. begitupun ketika belajar, waktu pertama mungkin kita sering lupa, tapi jika terus dilatih maka akan semakin mudah. semakin banyak jembatan antar sel syaraf otak maka dikatakan kita makin cerdas.
Perlu diingat bahwa ketika otak jarang dilatih maka lama kelamaan akan menjadi tumpul dan sel akan mati lalu orang jadi pikun.
Kembali ke soal anak tadi, konon masa perkembangan otak paling penting adalah usia sejak lahir sampai sekitar 3 tahun. Pada usia ini anak mustinya banyak diberikan stimulasi; fisik, visual, audio dll. Masa ini adalah usia emas ‘membangun jembatan’ sel otak yang menjadi sangat menentukan ketika anak dewasa.

Advertisements