Orang tua mana yang tidak gundah ketika anaknya dikeluarkan dari sekolah dan dinyatakan sebagai tak bisa dididik. Tapi tidak demikian halnya dengan ibu dari Thomas Alfa Edison. Dia bilang ke guru Edison bahwa dia lebih mengerti tentang anaknya dan mengatakan anaknya adalah anak berbakat dan akan dididik sendiri di rumah. Edison lalu dibuatkan laboratorium kecil dan diberi beberapa bacaan yang lalu banyak menginspirasinya, diantaranya adalah buku tentang percobaan sains di rumah.
Ini baru sedikit dari awal perjalanan salah satu penemu paling berpengaruh. Awal yang mungkin sangat pahit ketika sistem pendidikan memvonisnya sebagai anak yang ‘gagal.’

Dalam perjalanan berikutnya Edison yang kecanduan belajar dan bereksperimen itu banyak sekali menelorkan penemuan. yang paling fenomenal adalah penemuan bola lampu pijar. Penemuan-penemuan ini dikisahkan sebagai penuh kegagalan pada awalnya. Dalam menciptakan bola lampu konon Edison melakukan 9998 kali percobaan dan baru pada percobaan ke 9999 ia baru berhasil menemukan hasil yang maksimal. Dengan banyaknya percobaan gagal itu dikatakan Edison bahwa ia menjadi tahu ada ribuan cara yang salah. Dengan kata lain penemuan yang berhasil diperolehnya hanya karena cara-cara yang gagal sudah dicoba semua dan yang tersisa hanya cara yang berhasil.

Belajar dari Edison, bagaimana harusnya kita melihat kegagalan? Jika kegagalan dilihat positif dia akan menjadi jalan untuk keberhasilan.
Gagal masuk perguruan tinggi idaman, gagal diterima lamaran pekerjaan, gagal lulus ujian nasional, bukanlah akhir segalanya.
Tokoh penemu sekaliber Thomas Edison saja pernah dicap sebagai murid gagal dan dikeluarkan dari sekolah.

Advertisements