Apa yang diperbincangkan anak-anak ABG kalau sedang berkumpul? Bisa dipastikan apa yang mereka bicarakan jauh dari jaman kita sekolah dulu. Mereka kini fasih dengan berita-berita terbaru dan fresh baik misalnya tentang film, musik atau yang lain. Mereka dapat mengakses sumber berita dan informasi dengan cepat berkat twitter, facebook, google. Di sisi lain yang agak mengkhawatirkan adalah anak-anak ini bertualang di dunia online dan tak ada pemandunya
Anak sekarang, seperti pernah saya tulis, sangat berbeda terutama persinggungannya dengan media teknologi. Suatu ketika saya mendapat tugas di daerah cukup terpencil. Saya berbincang dengan seorang guru SMP. Pak guru ini mengeluh anak sekarang semangat belajarnya agak turun, diantaranya adalah karena Facebook. Berlainan dengan guru tadi, saya justru malah berfikir justru guru malah harusnya menjadikan media-media yang sedang digandrungi anak-anak itu menjadi media pembelajaran dan pendidikan.
Saat ini nampaknya ada gap besar antara kehidupan sekolah anak-anak itu dengan kehidupan sosial di luar sekolah, terutama jejaring sosial berbasis internet. Apa yang ada di benak mereka ketika setiap saat memegang media akses global, selalu update dengan info terbaru lalu berhadapan dengan guru dan kelas yang sangat konvensional?
Saya membayangkan jika saja anak-anak ABG itu ngerumpinya tak lagi soal pacaran atau soal ecek-ecek, tapi mendiskusikan isi blog hobi temannya, atau posting terbaru di blog gurunya, atau berita di website tentang anak-anak sekolah sejawatnya di AS yang menemukan gua-gua saat meneliti planet Mars melalui teleskop NASA. Film porno atau gambar tak senonoh menjadi hal-hal yang norak, enggak keren dan sudah tak njaman lagi.
Dengan blog dan media sosial online mereka eksis dengan hobi dan minatnya, dari hobi masak, menggambar, musik, origami atau apapun yang membuat mereka merasa ‘berharga’.
Sayangnya, saat ini kendala terbesar mereka adalah mereka menjelajah dunia maya ‘sendirian’ alias tanpa ada yg membimbing.